Kuliah S2 IKM UNS 2018

Sumber Pustaka:

https://www.healthevidence.org/search.aspx

https://systematicreviewsjournal.biomedcentral.com/

http://www.cochranelibrary.com/topic/Public%20health/

 

Matrikulasi 14 Maret 2018:

Matrikulasi S2 IKM 14 Maret 2018

 

Senin 10 April 2018:

Semester 1A: The Health Manager’s Website

Epid & Biostat Semester 3: WHO | Global burden of disease
Jumat 13 April 2018:

 

Selasa 17 April 2018:

Kebijakan & Manajemen Pelayanan Kesehatan Semester 2:

https://courses.lumenlearning.com/boundless-management/chapter/why-study-organizational-theory/

https://commconcepts.wikispaces.com/Efficacy

 

Evidence Based …

Evidence Based Health Practice

C dari PICO

 

Epidemiologi & Aplikasinya:

Epidemiology_CDC Atlanta

Epidmiologi dan Aplikasinya 2018

Advertisements

Kesempatan Terlewatkan & Survei Pintu Keluar (Missed Opportunities & Exit Polls)

Saat ini di berbagai tempat di Indonesia terjadi KLB Difteri dan kenaikan AKI. Salah satu cara untuk mencegahnya ialah dengan menurunkan MOV (Missed Opportunities for Vaccination, kesempatan terlewatkan memberi vaksinasi kepada anak) dan MOC (Missed Opportunities for Contraception, kesempatan terlewatkan memberi kontrasepsi kepada orang dewasa). Petugas pelayanan kesehatan mendapat kesempatan untuk memberi pelayanan vaksinasi dan kontrasepsi kepada pengunjung sarana kesehatan yang terindikasi memerlukan pelayanan tersebut dan tidak terkontraindikasi untuk memperolehnya. Pasien dan pengantar pasien berkunjung ke sarana kesehatan mungkin untuk keperluan lain dan kunjungan ini sebenarnya dapat dimanfaatkan secara terencana untuk memberikan pelayanan kesehatan prioritas.

Rencana mengurangi MOV dan MOC sebaiknya didasarkan atas penyelidikan tentang kemungkinan penyebab dari kesempatan yang terlewatkan (MO). Ada penyebab yang berasal dari pengunjung, dari petugas dan dari sarana kesehatan.  Penyebab-penyebab ini dapat diketahui dengan mengadakan survei singkat di pintu keluar sarana kesehatan (exit poll). Jika yang keluar dari sarana kesehatan anak balita, kepada pengasuhnya dapat ditanyakan hal-hal berikut tentang anak balita tersebut:

  1. Tanggal lahir (umur dalam bulan) dan dusun/desa.
  2. Vaksinasi yang seharusnya sudah diterima pada umur yang bersangkutan – beri tanda “” pada Kartu Jadual Imunisasi atau periksa Kartu Imunisasi balita tersebut.
  3. Jika ada vaksin yang belum diterima tanyakan mengapa tidak divaksinasi pada kunjungan ini – beri tanda “” pada daftar tilik yang, sebagai contoh, memuat butir-butir berikut untuk MOV (Velandia-González dkk, 2015):

Terkait petugas kesehatan:

  • Petugas mengatakan anak sudah divaksinasi, atau sudah lengkap vaksinasinya, atau belum waktunya divaksinasi.
  • Petugas kesehatan tidak menanyakan/menawarkan.
  • Petugas mengatakan tidak bisa divaksinasi karena anaknya sakit (tulis kontraindikasi yang disebutkan petugas).
  • Lainnya (sebutkan): ______________________

Terkait pengasuh:

  • Pada waktu divaksinasi terakhir anak menjadi sakit/ada reaksinya.
  • Tidak diperbolehkan agama saya.
  • Pengalaman negatif anggota keluarga atau kenalan.
  • Saya meragukan vaksin/petugas pelayanan kesehatan.
  • Saya lupa/tidak punya waktu.
  • Vaksin tidak diperlukan/Saya tidak percaya vaksin.
  • Vaksin mengandung bahan-bahan berbahaya.
  • Vaksinasi sudah lengkap.
  • Bukan tujuan kunjungan.
  • Lainnya (sebutkan): ______________________

Terkait sarana kesehatan:

  • Tidak ada vaksin.
  • Tidak ada alat vaksinasi.
  • Bukan hari vaksinasi.
  • Tempat vaksinasi tutup.
  • Petugas vaksinasi tidak ada.
  • Antrean panjang.
  • Petugas kurang ramah.
  • Jam vaksinasi dibatasi.
  • Lainnya (sebutkan): ______________________

Kepada pengasuhnya, dan kepada pengunjung tanpa balita, juga dapat ditanyakan hal-hal yang berkaitan dengan MOV untuk orang dewasa atau MOC. Sebaiknya butir-butir daftar tilik MOV dan MOC (atau MO-MO yang lain) disusun bersama dengan seluruh staf terkait dari sarana kesehatan yang bersangkutan dan exit poll dilakukan secara berkala. Petugas yang melakukan survei singkat ini digilir, termasuk dokter dan bidan, supaya setiap petugas  dapat mendengar sendiri apa yang dipikirkan pengunjung sarana kesehatan.

Hasil poll ini kemudian diringkas dalam bentuk persen untuk masing-masing alasan MOV/MOC atau dalam bentuk diagram/peta tunjuk (spot map) untuk alasan-alasan yang terkait dengan pengunjung. Seluruh staf terkait pelayanan vaksinasi dan kontrasepsi diikutsertakan dalam merancang tindakan-tindakan koreksi, pelaksanaannya dan MonEv. Koreksi berupa: (a) supervisi/pelatihan ditempat untuk penyebab MO yang berkaitan petugas; (b) promkes untuk penyebab MO yang berkaitan dengan pengunjung; dan (c) perbaikan kebijakan/logistik untuk penyebab MO yang berkaitan dengan sarana kesehatan. Sebagai contoh, dari peta-tunjuk dapat diketahui di dusun/desa mana terkonsentrasi pengunjung yang memberi alasan “Tidak diperbolehkan agama saya”. Petugas PromKes/Humas sarana kesehatan dapat mendekati ulama terkait di dusun/desa tersebut dan mensosialisasi kegiatan vaksinasi dan kontrasepsi. Diagram distribusi pengunjung dewasa menurut umur dan jenis kelamin digunakan untuk merencanakan materi dan metoda penyuluhan kesehatan tentang vaksinasi dan kontrasepsi yang sesuai dengan ciri-ciri sasarannya.

 

Rujukan

 Jadual Imunisasi 2017. Diunduh 22 Desember 2017 dari http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-2017

Velandia-González, M., Trumbo, S. P., Díaz-Ortega, J. L., Bravo-Alcántara, P., Danovaro-Holliday, M. C., Dietz, V., & Ruiz-Matus, C. (2015). Lessons learned from the development of a new methodology to assess missed opportunities for vaccination in Latin America and the Caribbean. BMC international health and human rights15(1), 5.

 

 

 

“C” dari PICO menunjuk kepada Comparison atau Control?

Akronim PICO dapat digunakan untuk mengidentifikasi kata-kata kunci pencarian makalah-makalah systematic review (SR) dan makalah-makalah penelitian empirik (PE) dan untuk merumuskan hipotesis penelitian. “P” menunjukkan populasi unit analisis yang diteliti; “I” menandakan  intervensi yang dilakukan peneliti (suatu tindakan penatalaksanaan kasus perorangan atau masyarakat) atau pemaparan terhadap intervensi yang dilakukan pihak lain atau alam; “C” menyatakan comparison, yaitu intervensi biasanya/lain sebagai pembanding; dan, “O” melambangkan outcome, atau hasil yang berkaitan dengan intervensi. Karena tidak menggunakan kelompok pembanding ada peneliti yang menganggap “C” tidak relevant. Misalnya, Oliveira, dkk. (2016) menyatakan dalam penelitian pustakanya bahwa “The element C from the PICO strategy has not been addressed in this research, as this is not intended to compare interventions”.

Karena kelompok pembanding digunakan untuk mengontrol (= meniadakan variasi nilai)  variabel-variabel moderator, dan karena ada cara-cara lain yang dapat digunakan untuk mengendalikan variabel-variabel tersebut (e.g., kriteria inklusi, stratifikasi, matching), lebih baik huruf “C” dari singkatan PICO menunjukkan Control. Intervensi pada penelitian eksperimen menggunakan kelompok pembanding yang biasanya berskala diskrit (i.e., X1 dan X0) dan pada RCT disertai dengan penempatan secara acak ke kelompok intervensi dan kelompok kontrol  dengan/tanpa pre-test. Pada penelitian Oliveira dkk variabel “I” (= beban kerja perawat”) berskala kontinu dan mereka seharusnya menjelaskan “C” (metoda kontrol) yang digunakan untuk mengendalikan variabel-variabel moderator. Jika tidak dikendalikan korelasi antara “I” dan “O” mungkin semu (merancukan hubungan yang sesungguhnya antara suatu situasi/kondisi dari unit analisis dan “O”). Alternatifnya, ialah ikut memperhitungkan pengaruh moderator-moderator (analisis multivariat), yang memerlukan ukuran populasi/sampel yang lebih besar namun mempunyai validitas luar yang lebih tinggi.

Ada peneliti yang menambahkan simbol “T” di belakang akronim PICO. Huruf T ini sebaiknya tidak digunakan untuk mewakili “Time”, karena kalau itu dimaksudkan untuk menunjukkan selang waktu antara Intervensi dan Outcome maka variabel-variabel perancu yang ditimbulkannya (i.e., History, Maturation, Testing dan Instrumentation) dikendalikan oleh kelompok pembanding (i.e., Control atau Comparison, yang dapat diwakili oleh huruf “C). Atau, kalau itu dimaksudkan untuk menunjukkan lamanya intervensi maka variabel waktu merupakan bagian dari konstruk Intervention. Sebaiknya huruf “T” digunakan untuk menandakan “Theory”, karena untuk menjelaskan proses atau alasan hubungan antara I dan O diperlukan suatu teori.

Rujukan:

Oliveira AC, Garcia PC, Nogueira LS. Nursing workload and occurrence of adverse events in intensive care: a systematic review. Rev Esc Enferm USP. 2016;50(4):679-689. DOI: http://dx.doi.org/10.1590/S0080-623420160000500020

Riva, J. J., Malik, K. M. P., Burnie, S. J., Endicott, A. R., & Busse, J. W. (2012). What is your research question? An introduction to the PICOT format for clinicians. The Journal of the Canadian Chiropractic Association56(3), 167–171.

 

Tanggapan dari Prof. Dr. Mohammad Hakimi:

Sepengetahuan saya yang dimaksudkan dengan C dalam PICO adalah “Comparison” atau “Comparator“. Kalau untuk terapi memang fungsinya lebih ke arah “Control” tetapi dalam uji diagnositik, misalnya, lebih tepat sebagai pembanding (reference standard). Dalam evidence tentang prognosis kadang-kadang memang tidak diperlukan pembanding.

Penyesuaian bentuk dan isi Tesis dan Disertasi

Bentuk serta isi tesis dan disertasi sebaiknya disesuaikan dengan hasil yang ingin diperoleh – (1) publikasi sebelum penelitian empirik (PE) selesai; dan, (2) PE yang mempunyai nilai tambah. Ada banyak penerbit berkala ilmiah terandal yang bersedia memuat laporan telaah pustaka tentang proposisi yang menarik (i.e., tentang kerangka konsep dari intervensi yang praktis dan mempunyai landasan teori yang valid), yang menggunakan rancangan serta metoda yang kokoh, dan yang dilaksanakan secara seksama. Penelitian yang dilakukan sendiri juga akan makin besar kemungkinannya untuk diterima penerbit jika, selain memenuhi tiga syarat di atas, berhasil memecahkan sebagian atau seluruh masalah penelitian yang masih terdeteksi oleh penelitian pustaka PE terkini yang dilakukan secara sistematis. Jika sudah ada telaah pustaka sistematik tentang hubungan-hubungan yang sama, peneliti yang sekarang dapat melanjutkannya jika telaah pustaka tersebut bermutu.

Mengingat dua hasil yang akan dicapai tersebut sebaiknya Bab II dari (proposal) tesis dan disertasi khusus membahas “Penelitian Pustaka” dan Bab III khusus menguraikan “Penelitian Empirik”. Bab “Penelitian  Pustaka” t.a.: (1) Kerangka konsep sederhana* (untuk mengidentifikasi kata-kata kunci) dan kriteria inklusi lain (misalnya, lingkup tahun publikasi, bahasa, sumber pustaka, metoda pelacakan, termasuk gray literature/tidak, menggunakan rancangan penelitian tertentu) yang digunakan untuk mengarahkan penjaringan pustaka PE; (2) Metoda yang digunakan untuk menjaring dan menyaring pustaka PE; (3) Kriteria dan metoda critical appraisal pustaka PE yang lolos penyaringan; (4) Mensintesis hasil penelitian PE yang lolos penilaian kritis secara kualitatif dan, kalau PE-PEnya cukup homogen, secara kuantitatif (meta analisis); (5) Pelaksanaan dan Hasil penelitian pustaka; dan, (6) Kesimpulan tentang Effect Size gabungan dan saran untuk PE selanjutnya. Karena tujuan penelitian tesis** menguji teori, penelitian pustaka sebaiknya tentang hubungan prediktor–kriterion dan tentang hubungan prediktor-landasan teori-kriterion. Karena tujuan penelitian disertasi** mengembangkan teori, penelitian pustaka sebaiknya didahului pemetaan teori-teori yang digunakan peneliti-peneliti PE sebelumnya.

Bab “Penelitian Empirik” t.a.: (1) Kerangka konsep lengkap yang, selain memperlihatkan konstruk-konstruk prediktor dan kriterion, juga memperlihatkan konstruk-konstruk moderator (situasi dan kondisi unit analisis yang memoderasi hubungan prediktor-kriterion) dan mediator (landasan teori yang digunakan untuk menjelaskan hubungan prediktor-kriterion). Masing-masing konstruk ini dilengkapi dengan demensi-demensi dan variabel-variabelnya; (2) Rancangan dan Metoda pengumpulan, pengolahan dan penafsiran data; (3) Pelaksanaan dan Hasil PE; dan, (5) Kesimpulan tentang hipotesis penelitian dan saran untuk PE selanjutnya jika hubungan prediktor-kriterion tidak bermakna atau pengujian hipotesis penelitian masih bermasalah.

Hasil penelitian pustaka dapat digunakan untuk melengkapi Bab I (Pendahuluan). Selain masalah praktis yang dihadapi praktisi, peneliti sekarang dapat menambahkan di bagian latar belakang rekam jejak upaya memecahkan masalah penelitian. Alasan mempertanyakan hubungan prediktor-kriterion dan hubungan prediktor-landasan teori-kriterion, serta apa yang (akan) diupayakan untuk memperkuat pembuktian hubungan-hubungan tersebut dan apa manfaatnya, juga menjadi lebih spesifik. Kebaruan, atau nilai tambah, penelitian dapat dikemukakan dengan lebih spesifik dan lebih obyektif. Bab IV konvensional tidak diperlukan lagi karena hasil, kesimpulan dan saran dari penelitian pustaka dan penelitian empirik sudah dikemukakan di masing-masing bab. Informasi yang dimuat di Bab I dan Bab II dapat digunakan untuk menulis naskah publikasi systematic review, atau naskah proposalnya (systematic review protocol) dapat didaftarkan pada dan dipublikasi oleh organisasi yang diakui (e.g., PROSPERO, Cochrane Library of Systematic Reviews, Joanna Briggs Institute). Informasi yang ditulis di Bab I dan Bab III dapat digunakan untuk menyusun naskah publikasi empirical research.

Keterangan:

*) Contoh, PICO yang menunjukkan konstruk prediktor (intervensi/exposure) dan konstruk kriterion (outcome) pada populasi unit analisis (yang dibagi menjadi dua atau lebih kelompok intervensi dan kelompok kontrol).

**) Tentang perbedaan skripsi, tesis dan disertasi lihat tulisan https://rossisanusi.wordpress.com/metoda-penelitian/skripsi-tesis-disertasi-apa-bedanya/

 

 

 

 

Pendidikan Kedokteran Penjaluran

Pada Bulan Augustus, Tahun 2015, Harvard Medical School meluncurkan kurikulum “Pathways”. Setelah belajar dasar-dasar ilmu kedokteran di Tahun I (melalui belajar mandiri dengan berbagai media mengajar yang disediakan dan belajar bersama dengan sesama mahasiswa dan dosen) dan clerkship di Tahun II mahasiswa dapat memperdalam ilmu kedokteran melalui berbagai matakuliah sains terpadu, clinical electives, dan proyek-proyek penelitian di  Harvard University dan universitas-universitas lain selama Tahun III dan IV. Tujuannya ialah supaya selama dua tahun terakhir mahasiswa dapat berkembang sesuai dengan karir pekerjaan yang ingin ditempuh. Nama lain dari kurikulum semacam itu ialah kurikulum “Pipeline” karena mahasiswa dapat disalurkan melalui berbagai jalur. Pada kurikulum “penjaluran” penyerapan peserta didik untuk masing-masing jalur juga dapat dimulai dari tahap yang lebih dini dan pencapaiannya dapat sampai ke tahap yang lebih jauh di karir kerja. Jika diterapkan untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga kedokteran bagi daerah-daerah 3T, misalnya, penyaluran dapat dimulai dari pelacakan dan penyaringan calon mahasiswa yang akan mampu dan mau bekerja di daerah-daerah tersebut, untuk kemudian disalurkan melalui  program pendidikan yang melengkapi mereka dengan kompetensi yang sesuai, dan ditempatkan serta dikembangkan lebih lanjut untuk berkarya dan mencapai tingkat tertinggi karir pendidikan dan pekerjaan di daerah yang bersangkutan (bahkan sampai pensiun).

Seperti Harvard Medical School kurikulum FK di Indonesia dapat memiliki satu Jalur Pokok (kurikulum inti) yang terdiri dari Tahun I “Dasar-dasar Ilmu Kedokteran” dan Tahun II “Clinical Clerkship”, dan beberapa Jalur Cabang yang masuk ke dan yang keluar dari jalur pokok. Misalnya, selain jalur cabang keluar Dokter Daerah 3T, ada jalur-jalur cabang keluar Dokter Kelompok Penduduk Khusus (disadvantaged populations – kelompok penduduk yang mengalami ketimpangan dalam pelayanan kesehatan karena perbedaan jenis kelamin atau sosial ekonomi), Ilmuwan Kedokteran (medical scientist), Peneliti Bidang Kedokteran (medical researcher), Dokter Spesialis bidang kedokteran tertentu. Supaya pendidikan kedokteran penjaluran berhasil diperlukan: (a) Test-test khusus masuk ke jalur pokok/cabang; (b) program-program pendukung (support programs) dan program-program penghubung (on-ramps/bridge programs) untuk membantu mahasiswa dan tenaga kedokteran yang sudah bekerja untuk masuk ke Jalur Pokok atau masuk/pindah ke suatu Jalur Cabang; (c) sertifikasi di pintu keluar Jalur Pokok/Cabang; (d) kerjasama dengan perguruan tinggi lain dan UPT-UPT swasta/ pemerintah untuk pendidikan/pelatihan di tempat dan pilihan; dan, (e) penggunaan cara dan alat bantu mengajar yang inovatif dan fleksibel.

Perancangan kurikulum penjaluran sebaiknya didasarkan atas hasil penelitian yang sesuai dengan tujuan masing-masing jalur pendidikan. Sebagai contoh, untuk memenuhi kebutuhan dokter di daerah-daerah 3T Budhathoki dkk (2017) menyimpulkan, berdasarkan hasil telaah sistematik 13 makalah penelitian negara-negara pendapatan rendah dan menengah, bahwa motivator bekerja di daerah pedalaman adalah: dibesarkan di daerah pedalaman, pendidikan sebelumnya di daerah pedalaman, kurikulum pendidikan berbasis komunitas, pemaparan dini ke komunitas selama pendidikan dan lokasi pendidikan di daerah pedalaman. Sedangkan demotivatornya adalah: persepsi infrastruktur kurang, beban kerja tinggi, manajemen rumahsakit buruk dan keterpencilan.

Daftar Rujukan:

Budhathoki, S. S., Zwanikken, P. A., Pokharel, P. K., & Scherpbier, A. J. (2017). Factors influencing medical students’ motivation to practise in rural areas in low-income and middle-income countries: a systematic review. BMJ open7(2), e013501.

Career Ladders Project. Diunduh 13 Agustus 2017 dari: http://www.careerladdersproject.org/wp-content/ uploads/2013/02/Pathways_def_CLP.pdf

Pathways Harvard Medical Education. Diunduh 21 Augustus 2017 dari: https://hhms.harvard.edu/news/pathways-future-medicine dan https://meded.hms.harvard.edu/pathways.

File PPt untuk prsentasi di lokakarya 14 Okt 2017 di UKSW: Pendidikan Kedokteran Penjaluran