Apakah Penelitian Experimental Membuktikan Hubungan Sebab-Akibat?

Di dalam teori yang digunakan untuk menjawab masalah penelitian terdapat sejumlah proposisi yang menunjukkan hubungan antara konstruk-konstruk (= variabel-variabel latent, yaitu, variabel-variabel yang belum dapat diamati). Menurut arah hubungan ada proposisi korelasi (hubungan timbal-balik antara konstruk prediktor dan konstruk kriterion) dan ada proposisi kausasi (hubungan satu arah dari konstruk sebab ke konstruk akibat). Hubungan-hubungan ini dapat digambar secara visual sebagai diagram kerangka teori. Peneliti memilih satu atau beberapa proposisi untuk diteliti. Proposisi yang dipilih diurai lebih lanjut dan digambar berbentuk sebuah kerangka proposisi (kerangka konsep) yang memperlihatkan dimensi-dimensi (faktor-faktor) dari masing-masing konstruk dan variabel-variabel (= variabel-variabel manifest, yaitu, variabel-variabel yang dapat diamati) atau index-index (himpunan item) dari masing-masing dimensi. Sesuai dengan kerangka konsep ini proposisi dijabarkan menjadi hipotesis-hipotesis penelitian.

Untuk mendukung hipotesis hubungan sebab-akibat ada beberapa kriteria kausasi yang harus dipenuhi: kekuatan hubungan, konsistensi hubungan, kekhususan hubungan, variabel sebab mendahului akibat (temporalitas), hubungannya masuk akal (plausibilitas), ada bukti experimental laboratoris dan gradien biologik (manipulasi pada konstruk sebab berpengaruh pada konstruk akibat), koherensi dan analogi. Makin banyak kriteria dipenuhi makin kuat dukungan terhadap hipotesis kausasi.

Tentang kekuatan hubungan, selain harus menunjukkan effect Size yang bermakna, peneliti juga harus menunjukkan bahwa hubungan tersebut tidak biased (yang biasanya terjadi pada tahap pengumpulan data), tidak kebetulan (yang terjadi jika penelitian dilakukan pada sampel unit analisis) dan tidak semu. Hubungan korelasi yang semu dapat terjadi jika variabel-variabel moderator diabaikan. Variabel-variabel ini merupakan situasi dan kondisi unit analisis yang spesifik (i.e., yang secara spesifik diidentifikasi peneliti berkaitan dengan konstruk kriterion/akibat) dan non-spesifik (i.e., yang secara umum diidentifikasi peneliti berkaitan dengan konstruk kriterion/akibat karena perbedaan ruang dan waktu, seperti history, maturation, instrumentation, testing, differential selection, central tendency, mortality, dsb.). Untuk mengungkap hubungan korelasi yang semu, moderator spesifik dikendalikan (misalnya melalui kriteria inklusi, stratifikasi dan matching) atau diamati (diikuti analisis multivariat) dan moderator non-spesifik dikendalikan melalui rancangan experimental murni (i.e., dengan membentuk kelompok-kelompok kendali, menempatkan secara acak unit-unit analisis ke kelompok-kelompok kendali dan melakukan pre-test).

Hubungan korelasi yang kuat/bermakna (i.e., Effect Size cukup besar, yang dinyatakan dengan r ≥ rmin; OR ≥ ORmin; atau,  p ≥ pmin ) dan valid (i.e., tidak biased, tidak kebetulan dan tidak semu) hanya memenuhi satu kriteria hubungan kausasi. Hubungan korelasi yang semu dapat diungkap dengan tidak mengabaikan variabel-variabel moderator spesifik dan non-spesifik. Rancanggan experimental murni  hanya upaya untuk mengendalikan moderator non-spesifik.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s