Desentralisasi Kurikulum Pendidikan Sekolah

Sesuai dengan asal-usul kata “kurikulum” (= “a running, course, career“, menurut Online Etimology Dictionary) istilah “kurikulum pendidikan” sebaiknya digunakan untuk menggambarkan proses menuju suatu tujuan. Tujuan ini berupa kompetensi minimum yang harus dicapai peserta didik yang menempuh pendidikan di sekolah umum dan kejuruan. Tugas dari Kementerian Pendidikan ialah merumuskan dan memeriksa ulang secara berkala tujuan tersebut berdasarkan perkembangan teknologi dan sosial. Namun proses pendidikan menuju penguasaan kompetensi minimum sebaiknya diserahkan kepada masing-masing sekolah. Untuk membantu sekolah-sekolah memperlancar proses tersebut Kementerian Pendidikan sebaiknya membangun Pusat-Pusat Pelatihan Guru regional atau provinsi. Di pusat pelatihan ini guru-guru dilatih mengadakan (dan mengevaluasi) inovasi pengajaran dan pengujian yang masuk akal berdasarkan teori-teori pendidikan dan bukti-bukti empirik.

Kementerian Pendidikan juga dapat menyelenggarakan ujian penguasaan kompetensi minimum bagi peserta pendidikan yang menginginkan atau membutuhkan (i.e., JIKA dipersyaratkan oleh suatu sekolah lebih lanjut/jurusan lain atau suatu pekerjaan) . Ujian ini dapat ditempuh setiap saat secara online dan dapat juga ditempuh oleh mereka yang mengikuti pendidikan di rumah (home education) dan pendidikan mandiri (self education). Supaya mempunyai nilai lebih pendidikan sekolah (school education), di samping menggunakan metoda pengajaran dan pengujian yang inovatif, harus berupaya membantu peserta didik menguasai kompetensi maximum yang sesuai dengan minat peserta didik dan manfaat masyarakat. Kompetensi maximum terdiri atas keluaran kegiatan perorangan yang dirancang dan direncanakan bersama dengan guru-guru terkait. Ujian penguasaan kompetensi minimum dan maximum, baik formatif maupun sumatif, diselenggarakan oleh masing-masing sekolah. Program pendidikan percepatan (accelerated education) boleh diikuti peserta didik yang lulus ujian kompetensi minimum Kementerian Pendidikan dan ujian kompetensi maximum sekolah yang bersangkutan.

Kurikulum pendidikan yang didesentralisasi seperti yang diutarakan di atas sebaiknya diujicoba dulu di tiga provinsi (dari Indonesia bagian barat, tengah dan timur) pada sampel sekolah umum (termasuk sekolah khusus) dan kejuruan, yang mewakili sekolah pemerintah-swasta dan sekolah daerah perkotaan-pedesaan. Di ketiga provinsi tersebut disiapkan Pusat Pelatihan Guru dan guru-guru sekolah sampel dilatih merancang dan merencanakan pengajaran dan pengujian yang inovatif. Unit analisis dari ujicoba ini adalah sekolah dan indikator keberhasilan mencakup variabel-variabel efikasi (e.g., persen peserta didik yang mencapai kompetensi maximum, persen hasil karya kompetensi maximum yang dipublikasi), efektivitas (e.g., persen guru yang melaporkan dan mempublikasi uji-coba inovasi pengajaran dan pengujian), dan efisiensi (e.g., persen peserta didik yang mengikuti program percepatan, persen peserta didik yang diterima sekolah lanjutan atau diserap pasaran kerja tanpa ujian kompetensi Kementerian Pendidikan).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s