“Titik Merah” Penelitian Akademik

Ungkapan yang lazim digunakan untuk menunjukkan hubungan yang masuk akal antara bagian-bagian dari suatu tulisan atau kisah ialah “benang merah”. Ungkapan ini berasal dari Bahasa Belanda “de rode draad”, bukan terjemahan dari Bahasa Inggeris “red tape”, yang mengartikan prosedur birokrasi yang berbelit-belit1. Ada yang menggambarkan bagian-bagian penting yang dihubungkan oleh benang merah tersebut sebagai “titik-titik merah”2. Pembimbing dan penguji skripsi, tesis dan disertasi sering menanyakan benang merah antara bab-bab, dan antara bagian-bagian dalam setiap bab, namun jarang menanyakan titik merah yang terpenting atau dari titik merah yang mana seorang peneliti sebaiknya mulai. Titik merah utama atau titik merah awal (TM) ini bagaikan red dot sight pada senapan untuk membidik sasaran dengan tepat3.

Supaya mahasiswa dan dosen melakukan penelitian yang aktual (i.e., terkini; sedang hangat dibicarakan banyak peneliti4), dan untuk ikut mencegah plagiasi, sebaiknya TM penelitian adalah Masalah Penelitian yang aktual. Bukan Masalah Penelitian dalam arti masalah praktis (i.e., kesenjangan antara keadaan sekarang dan keadaan yang seharusnya di suatu unit analisis) tetapi dalam arti masalah teori. Juga bukan dalam arti masalah dari teori yang degeneratif (i.e., tidak ada hipotesis-hipotesis baru) namun dari teori yang progresif (i.e., mengandung hipotesis-hipotesis yang dapat digugurkan)5. Hipotesis-hipotesis penelitian dari suatu teori dapat digugurkan oleh seorang peneliti jika ia dapat membuktikan dengan fakta dan data bahwa: (1) konstruk-konstruknya tidak valid; (2) hubungan antar konstruk tidak kuat; dan, (3) teori tersebut tidak mampu menjelaskan secara lengkap masalah praktis. Ketiga masalah ini, berturut-turut, cocok untuk skripsi, tesis dan disertasi.

Yang menjadi pertanyaan ialah di mana seorang peneliti dapat menemukan masalah penelitian yang aktual/progresif. Para peneliti praktisi (jalur MPH atau DPH di bidang kesehatan masyarakat, kalau sudah ada kelak) dapat mencarinya di makalah telaah sistematik mulai dari berkala yang terkini; sedangkan para peneliti akademisi (jalur MSc in PH atau PhD in PH) di makalah konseptual mulai dari berkala terkini. Bagi para peneliti praktisi ada kemudahan lebih lanjut, yaitu dengan “menanyakan” kepada Pialang Pengetahuan (knowledge broker), yaitu orang atau organisasi yang memfasilitasi pertukaran pengetahuan antara penghasil dan pengguna pengetahuan6. Salah satu organisasi yang berperan seperti itu di bidang ilmu kesehatan masyarakat ialah Health Evidence dari McMaster University, Canada. Staf dari organisasi ini telah melacak dan menapis lebih dari empat ribu makalah telaah sistematik dan menyediakannya melalui http://www.health-evidence.ca 7. Sebagai contoh, jika seorang peneliti praktisi tertarik kepada ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder) ia cukup mengetik kata kunci tersebut dalam kotak yang disediakan. Pada contoh ini hasilnya 14 makalah telaah sistematik, yang diterbitkan antara Tahun 2002 dan 2013. Jika kebetulan si peneliti tertarik kepada pengobatan nonfarmakologis ia dapat menggunakan makalah Sonuga-Barke EJ, dkk., 2013, Nonpharmacological interventions for ADHD: Systematic review and meta-analyses of randomized controlled trials of dietary and psychological treatments (yang dinilai “Strong” oleh para ahli dari organisasi manajemen pengetahuan tersebut), sebagai pijakan untuk menemukan TM. Kesimpulan para penulis, setelah menelaah 54 dari antara 2,904 tulisan tentang topik tersebut, ialah penilaian ditabirkan diperlukan untuk menentukan efikasi intervensi perilaku, neurofeedback, pelatihan kognitif, dan pembatasan diet eliminasi (asam lemak, zat pewarna). Peneliti akademik yang juga tertarik pada ADHD dapat memeriksa makalah telaah teori dari Johnson, KA, dkk., 2009 5. Menurut mereka ada empat teori, yang berupaya menjelaskan semua gejala ADHD, yang mungkin dapat disintesis menjadi satu teori setelah masing-masing diuji secara valid.

Isitilah “Titik Merah” (TM) penelitian lebih tepat digunakan karena menggambarkan sasaran yang harus dibidik, yaitu menyempurnakan teori-teori. Bermula dari titik ini peneliti kemudian menguraikan latar belakang perkembangan teori dan unit analisis yang akan dijadikan lahan pengujian teori, manfaat penelitian bagi teori (i.e., menyempurnakan teori) dan praktek (i.e., memecahkan masalah kesenjangan terkait), tujuan penelitian (i.e., strategi menangani masalah penelitian), dan keaslian penelitian (i.e., gagasan dari peneliti untuk memperbaiki kerangka konsep dan/atau rancangan penelitian). Begitu selanjutnya untuk bagian-bagian yang lain dari usulan dan laporan penelitian – Masalah Penelitian sebagai pusat yang memancar ke bagian-bagian lain. Ungkapan “benang merah” menggambarkan hubungan yang urut dari bagian-bagian. TM juga mengingatkan kepada para pembimbing dan penguji untuk memeriksa aktualitas dari masalah penelitian atau perkembangan mutakhir dari teori yang bersangkutan, dan dengan demikian ikut mencegah plagiarisme.

Rujukan:
1. http://bahasa.kompasiana.com/2012/04/07/warisan-idiom-khas-dari-bahasa-belanda-452498.html.
2. http://leadershipprincipal.wordpress.com/2014/03/10/titik-merah-mata-tautan-benang-merah/comment-page-1/.
3. http://en.wikipedia.org/wiki/Red_dot_sight
4. http://www.artikata.com/arti-318263-aktual.html
5. Johnson, K.A., Jan R Wiersema, J.R., & Kuntsi, J. (2009). What would Carl Popper say? Are current psychological theories of ADHD falsifiable? Behavioral and Brain Functions 5:15. (http://www.behavioralandbrainfunctions.com/content/5/1/15)
6. http://en.wikipedia.org/wiki/Knowledge_broker
7. Dobbins, M., DeCorby, K., Robeson, P., Husson, H., Tirilis, D., & Greco, L. (2010). A knowldege management tool for public health: health-evidence.ca. BMC Public Health 10:496.

Tanggapan terhadap “‘Titik Merah’ Penelitian Akademik”

Surya Akbar: Saya setuju dengan tulisan bapak. Peneliti dalam menetapkan Titik Merah sebaiknya mempertimbangkan kontribusi penelitiannya dalam menyempurnakan teori atau bahkan mengembangkan teori yang ada. Hal ini perlu dilakukan mengingat teori merupakan penjelasan terhadap kejadian atau fenomena yang ada. Teori yang valid menjelaskan suatu kejadian atau fenomena saat ini belum tentu valid untuk waktu yang akan datang.
Pengetahuan keilmuan berkembang bukan secara linier melainkan melalui lompatan-lompatan (paradigma shift) seperti yang disampaikan oleh Thomas Khun, sehingga perlu dipikirkan pengembangan teori yang baru yang dapat lebih menjelaskan fenomena atau kejadian yang ada. Namun sebelum hal itu dilakukan, valid tidaknya suatu teori yang digunakan saat ini perlu dipastikan melalui suatu penelitian.

Dwi Handono: Ide Pak Rossi patut disambut karena semestinya memang demikian (terkait TM), tetapi jika ini diterima ibarat pendulum, dia akan berayun ke titik “ekstrim” yang berlawanan (NOTE: selama ini, TM lebih bersifat masalah praktis).

Terhadap dikotomi seperti ini, saya memberanikan diri mengajukan pemikiran “jalan tengah” yaitu (1) untuk dosen/akademisi, sebaiknya mengacu kepada TM sesuai ide pak Rossi; dan (2) untuk mahasiswa non dosen/akademisi (praktisi), TMnya tetap hal-hal yang praktis. Hal terakhir ini berdasarkan asumsi bahwa tujuan belajar para praktisi bukan untuk menjadi ilmuwan “murni”, tetapi bagaimana lebih mampu melakukan pekerjaannya dengan lebih ilmiah.

Nandy Wilasto: Judulnya mungkin bisa dibuat lebih menantang? Hehehe…. sebenernya self critic juga untuk diri saya sendiri untuk bisa bikin judul yang menantang yang mengundang hasrat membaca. Soalnya kalau tentang “titik merah”, pembaca baru paham apa itu titik merah setelah membaca artikel Bpk.

Budiono Santoso: Saya tidak berani berkomentar ttp dlm benak saya dengan menguraikan ‘background, problem statement/research questions, conceptual framework, objectives, methodology secara optimal mestinya bisa menemukan benang atau titik merahnya.

Laksono Trisnantoro: Dengan tidak terlalu mendikotomi penelitian yang dilakukan akademisi dengan penelitian oleh praktisi, unsur problem solving perlu ditekankan. Penelitian oleh praktisi cenderung ke arah problem solving masalah-masalah mereka. Sementara para akademisi cenderung lebih ke arah pengembangan teori (menyangkal, membenarkan, dan menambah). Apakah benar?

Hari Kusnanto: Yale University sudah tidak menyelenggarakan program DrPH. Mengingat course dan ujian compre sama dengan program PhD. Ada kandidat program DrPH yang mengembangkan strategi molekuler baru pengembangan vaksin malaria. Ada kandidat PhD yang meneliti willingness to pay vaksin malaria, yang bersifat lebih praktis. Semuanya bersifat problem solving, sekurang-kurangnya masalah penelitian. Pemecahan masalah lebih ke hulu atau ke hilir, kalau menawarkan breakthrough terhadap tantangan konseptual yang kita miliki tentu menjadi disertasi yang baik. Benang merah atau titik merah sangat penting untuk menjelaskan secara eksplisit apa yang kita lakukan. Tetapi tantangan para kandidat itu pada proses mau melakukan penelitian apa untuk menjawab tantangan apa. Moga para pengelola cluster bisa membantu.

Siswanto Wilopo: Di dalam UU perguruan tinggi dibedakan gelar terapan dan keilmuan. Sepengatahuan saya di UGM belum ada master terapan dan doctor terapan. Namun kalau ada mestinya bisa dipikirkan sehingga tesis dan disertasi kelihatan jelas perbedaannya.

Idealnya pada tingkat doctor yang tidak mengikuti sistim perkuliahan seperti di USA, parameter tersebut dapat mengacu publikasi hasil penelitiannya dalam jurnal sebagai prasarat kelulusan seorang doctor. Disitulah peer review berperan menilai kualitas publikasi tersebut.
Baik buruk nya artikel bisa juga dilihat dari impact factor dari jurnal Ilmiah yang dipilih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: