Penelitian Imitasi

“Keaslian adalah plagiarisme yang tidak terdeteksi”.
William Ralph Inge (1860-1954, Penulis)

Banyak dosen dan editor berkala ilmiah mempermasalahkan penelitian imitasi karena dianggap tidak “asli” atau tidak bermanfaat untuk pengembangan teori. Penelitian imitasi adalah penelitian replikasi yang menggunakan proposisi dan rancangan yang persis sama seperti yang digunakan penelitian sebelumnya. (Sebutan lain untuk penelitian imitasi: exact replication, precise replication, strict replication). Sebagai contoh, naskah beberapa peneliti yang mengimitasi penelitian Daryl Bem, seorang peneliti psikologi ternama, tentang prekognisi (i.e., penentuan pilihan saat ini dipengaruhi kejadian dikemudian hari) ditolak oleh penerbit Journal of Personality and Social Psychology berdasarkan alasan-alasan tersebut. Berkala terkemuka ini, yang ditelaah sejawat (peer-reviewed), sebelumnya memuat laporan penelitian Bem yang menyimpulkan bahwa hasil penelitiannya mendukung hipotesis prekognisi. Penelitian-penelitian replikasi yang menyusul tentang proposisi yang sama menyimpulkan sebaliknya dan beberapa pihak menganggap perbedaan pendapat ini sebagai suatu kegagalan telaah sejawat (peer review failure). (http://www.sciencebasedmedicine.org/index.php/the-value-of-replication/)

Sebenarnya melakukan penelitian imitasi, bahkan yang diulang di tempat yang sama dengan subyek-subyek yang sama, dapat “asli” dan berguna untuk pengembangan teori. Laporan penelitian imitasi, seperti laporan semua jenis penelitian yang lain, dinilai “tidak asli” jika terdeteksi memuat informasi atau data hasil pemalsuan, perékaan, atau penjiplakan (tulisan atau gagasan) oleh si peneliti. Penelitian imitasi “asli” yang dilakukan dengan benar diperlukan untuk falsifikasi teori. Artinya, penelitian imitasi dapat menyangkal suatu teori yang didukung oleh penelitian-penelitian sebelumnya jika hasil penelitian imitasi tersebut tidak mendukung proposisi(-proposisi) yang menyusun teori yang bersangkutan. Jadi, yang sebaiknya diperhatikan ialah kriteria kelayakan penelitian imitasi: (1) berada di garis depan dari perkembangan suatu teori yang praktis (yaitu, yang bermanfaat untuk memecahkan masalah kehidupan nyata); dan, (2) proposisi-proposisi yang menyusun teori tersebut belum dapat digugurkan oleh penelitian-penelitian sebelumnya dengan rancangan yang kuat (i.e., dengan metoda pengumpulan, pengolahan dan penafsiran data yang valid).

Penelitian Daryl Bem (http://dbem.ws/FeelingFuture.pdf) sebenarnya tidak layak untuk diimitasi jika kedua kriteria di atas digunakan. Tidak ada teori praktis yang secara eksplisit memayungi proposisi yang dikaji; dan, proposisi yang bersangkutan telah digugurkan oleh Eric-Jan Wagenmakers dkk. dengan metoda pengolahan data yang lebih valid. (http://caps.ucsf.edu/wordpress/wp-content/uploads/2011/02/bem2011comments.pdf) Ada yang berpendapat bahwa teori eksplisit tidak diperlukan di dalam suatu penelitian. Namun, jika seorang peneliti ingin mengembangkan teori ia sebaiknya memeriksa terlebih dahulu apakah semua proposisi yang dikandungnya sudah diteliti dengan rancangan yang kuat. Dengan peta atau rekam-jejak proposisi yang lengkap semua pihak (peneliti, dosen, penelaah, editor) dapat mengidentifikasi proposisi yang belum diteliti, yang sudah diteliti dengan rancangan yang lemah dan yang sudah diteliti dengan rancangan yang kokoh. Penelitian proposisi golongan yang terakhir ini yang perlu diimitasi. Falsifikasi dari proposisi(-proposisi) ini menandakan bahwa perubahan diperlukan pada letak dan isi dari proposisi-proposisi, konstruk-konstruk atau variabel-variabel.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s