Meningkatkan Program EMAS

Program EMAS (Expanding Maternal and Neonatal Survival) adalah program kerja sama USAID dan Kementerian Kesehatan RI untuk membantu pemerintah Indonesia menurunkan AKI dan AKB. Program ini akan diterapkan di 30 kabupaten dari enam provinsi yang mempunyai AKI dan AKB yang tertinggi (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan).  Berdasarkan keterangan yang dapat dibaca di situs jejaring program ini (http://www.selamatkanibudanbayi.org/) dapat disimpulkan bahwa program ini diarahkan ke upaya pencegahan tersier (= pencegahan kematian) dari penyakit-penyakit penyebab kematian ibu dan bayi. Melalui program lima tahun ini (2012-2016) diharapkan angka-angka kematian tersebut dapat diturunkan sebanyak 25% melalui perbaikan penatalaksanaan kasus gawat darurat obstetri dan neonatal di RS pemerintah/swasta dan Puskesmas/balai pengobatan, perbaikan sistem rujukan dan pemanfaatan teknologi informasi. Alasan untuk memusatkan perhatian pada pencegahan tersier ialah karena 40- 60% kematian ibu terjadi di RS. Alasan ini sebenarnya puncak dari gunung es masalah KIA. Penurunan AKI dan AKB yang lebih cepat memerlukan pendekatan komprehensif.

Program ini akan lebih bermanfaat jika pemerintahan daerah kabupaten/kota dibantu melakukan upaya pencegahan tersier (P3), sekunder (P2), primer (P1), dan  primordial (P0) penyakit-penyakit prioritas penyebab kematian ibu (pendarahan, toxemia, infeksi, dan partus lama) dan bayi (BBLR, asphyxia, dan infeksi). Karena faktor-faktor resiko penyakit-penyakit tersebut sama  dan harus ditangani secara lintas-sektor, Bupati/Wali Kota dan kepala-kepala dinas terkait sebaiknya secara langsung memimpin tanggap cepat (untuk saat kejadian) dan tanggap terencana (untuk tahun anggaran berikut) yang didasarkan atas hasil surveilens kasus-kasus P1 (WUS Resiko Tinggi) dan P0 (lingkungan beresiko). Surveilens kasus-kasus P1 oleh petugas kesehatan dan juru surveilens desa/kelurahan akan mendeteksi WUS yang rentan (e.g., TB < 140cm, usia < 20tahun, mempunyai anak > 2, melahirkan < 2tahun yang lalu, usia > 35tahun, status gizi buruk, menderita penyakit menahun, riwayat imunisasi buruk) dan WUS yang terpapar terhadap lingkungan (keluarga, komunitas) yang tidak menguntungkan. Petugas sektor terkait dan juru surveilens desa/kelurahan akan mendeteksi lingkungan biologis (e.g., orang-orang kontak dengan penyakit-penyakit TB, PMS, DM atau vektor penyakit malaria), lingkungan fisik (tempat tinggal/kerja/sekolah tidak memenuhi syarat) dan lingkungan sosial (gaya hidup beresiko, pendapatan rendah, putus/tidak sekolah, KAP rendah, menganggur). Berdasarkan data surveilens ini pemerintahan daerah membuat kebijakan, mengerahkan sumberdaya, dan memberikan bimbingan teknis/ supervisi untuk pembangunan daerah yang terarah ke pengendalian penyakit-penyakit prioritas penyebab AKI dan AKB tinggi. Untuk kegiatan P1 dan P0 ini diperlukan pelatihan manajemen dan intervensi perubahan perilaku (supaya mempunyai sense of urgency, supaya mau bekerjasama lintas sektor) bagi para manajer pemerintahan daerah.  Para petugas surveilans dinas-dinas terkait dan juru surveilans desa/kelurahan perlu dilatih mendeteksi WUS Resiko Tinggi dan lingkungan biologis, fisik dan sosial yang merugikan.

Selain mencegah kematian ibu dan bayi akibat penyakit-penyakit prioritas melalui peningkatan penatalaksanaan kasus, perujukan dan sistem informasi di RS dan Puskesmas/balai pengobatan, dinas-dinas kesehatan dari kabupaten/kota dengan AKI dan AKB tinggi sebaiknya juga memusatkan perhatian kepada pelayanan ante-natal di RS dan Puskesmas/balai pengobatan. Deteksi dini kasus-kasus sub-klinis (e.g., IUGR, anemia, gizi buruk, penyakit-penyakit infeksi, DM, kelainan kehamilan) dan tindakan dini (e.g., makanan tambahan, mikronutrien, pengobatan penyakit-penyakit infeksi/DM, penyuluhan) perlu ditingkatkan di sarana-sarana pelayanan kesehatan tersebut. Untuk kegiatan-kegiatan P3 dan P2 ini diperlukan pelatihan surveilens-tanggap bagi para kepala dinas kesehatan kabupaten/kota dan kepala seksi/staf terkait. Para kepala RS dan Puskesmas/balai pengobatan perlu dilatih melakukan audit klinik dan mengadakan tindakan koreksi berdasarkan data audit untuk memperbaiki diagnosis dan tindakan kasus klinis dan sub-klinis penyakit-penyakit prioritas penyebab AKI dan AKB tinggi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s