Tanggapan terhadap tulisan: Meningkatkan Peran Apoteker dalam Pelayanan Kesehatan

oleh:

Yosef Wijoyo, Mahasiswa S3 FK UGM

(yosefw@dosen.usd.ac.id)

Peran Apoteker

Tidak dipungkiri bahwa fungsi apoteker di apotek banyak dilakukan oleh petugas apotek, terutama di kota-kota besar (Jakarta, Surabaya, Makasar, Yogyakarta). Namun terdapat pula informasi yang menggembirakan bahwa apoteker yang bekerja di kota-kota kecil seperti Tegal, Sukoharjo, memiliki kepedulian dengan pasien yaitu dengan hadir setiap hari di apotek dan menjalankan tugasnya dalam memberikan pelayanan informasi obat.

Beberapa fakta tentang kinerja apoteker di apotek adalah sebagai berikut:

  1. informasi dan konsultasi obat di apotek dirasakan sangat penting oleh konsumen, namun informasi yang diharapkan belum terpenuhi (Sari, 2001; Anggraeni dkk, 2009), masih sangat sedikit apoteker (10%) yang melakukan pelayanan informasi obat bebas, apoteker kurang siap dalam memberikan informasi obat sesuai dengan kebutuhan pasien, dan belum memadainya pengetahuan apoteker tentang obat baru, dikarenakan jarang mengikuti pelatihan (Purwanti dkk, 2004; Handayani dkk, 2006)
  2. informasi obat yang diperoleh oleh pengunjung apotek masih terbatas pada cara dan aturan pakai obat (drug oriented), kemampuan komunikasi antara apoteker dan pasien juga belum berjalan dengan baik (Handayani dkk, 2009)
  3. adanya tenaga asisten apoteker, yang terbukti lebih terampil dan cekatan dalam melakukan pelayanan obat, baik untuk obat bebas maupun obat wajib apotek (OWA); demikian pula mayoritas apoteker mendelegasikan masalah komunikasi dengan dokter kepada asisten apoteker (Herman, dkk.,2004; Purwanti dkk, 2004).
  4. apoteker tidak berperan aktif dalam penilaian kerasionalan peresepan (Herman dkk, 2004), hanya 5% apoteker yang berperan dalam proses interpretasi penyakit dan pemilihan alternatif obat dalam swamedikasi (Purwanti dkk, 2004)
  5. penelitian Abdullah dkk (2010) memberikan hasil yang menarik, sebagian pengunjung apotek di kota Depok, tidak mengetahui tugas apoteker di apotek
  6. layanan kefarmasian yang berupa kunjungan ke rumah pasien (home care) belum dilakukan dikarenakan kesibukan apoteker, demikian pula dalam layanan promosi dan edukasi (Setiawan dkk, 2010)
  7. Harapan konsumen terhadap kinerja apoteker di apotek yaitu : memiliki pengetahuan yang lebih tentang obat; memberikan penjelasan tentang tujuan pengobatan, cara penyimpanan obat, kemungkinan adanya efek samping beserta pengatasannya; informasi tentang pentingnya penggunaan obat secara teratur sesuai aturan pakai; apoteker selalu siap memberikan saran apabila diminta oleh konsumen (Aurelia, 2013)

Terkait dengan apoteker menentukan nama obat, hal tersebut sudah diatur dalam PP no. 51/2009 pasal 24, terkait dengan pelayanan resep dokter oleh apoteker, sbb:

Apoteker dapat mengganti obat merek dagang dengan obat generik yang sama komponen aktifnya atau obat merek dagang lain atas persetujuan dokter dan/atau pasien

Dalam Kepmenkes nomor 1027/MENKES/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek telah diatur dalam aspek pelayanan tentang informasi obat dan layanan residensial (homecare). Berikut kutipan tugas apoteker dalam layanan residensial:

Apoteker harus memberikan informasi yang benar, jelas dan mudah dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana, dan terkini. Informasi obat pada pasien sekurang-kurangnya meliputi: cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi

 Apoteker harus memberikan konseling, mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya, sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan obat yang salah. Untuk penderita penyakit tertentu seperti kardiovaskular, diabetes, TBC, asma dan penyakit kronis lainnya, apoteker harus memberikan konseling secara berkelanjutan

 Setelah penyerahan obat kepada pasien, apoteker harus melaksanakan pemantauan penggunaan obat, terutama untuk pasien tertentu seperti kardiovaskular, diabetes, TBC, asma, dan penyakit kronis lainnya

 Apoteker sebagai care giver diharapkan juga dapat melakukan pelayanan kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Untuk aktivitas ini apoteker harus membuat catatan berupa catatan pengobatan (medication record).

Terdapat keinginan dari apoteker, supaya penulisan resep oleh dokter berupa nama generic, sehingga memudahkan apoteker untuk memberikan obat generic (atau generic bermerk) dengan lebih fleksibel, terutama dikaitkan dengan kebutuhan dan kemampuan finansial pasien. Namun usaha tersebut untuk memasukkan dalam per-UU sampai sekarang tidak bisa terealisir.

Pengetahuan apoteker terkait dengan sistem asuransi kesehatan juga masih sangat kurang sehingga tentang aspek pembiayaan obat memang tidak familiar bagi apoteker.

Pendidikan Apoteker

Kurikulum farmasi saat ini berkembang menjadi dua minat yaitu Farmasi Sains-Teknologi (drug-industry driven) dan Farmasi Klinik-Komunitas (drug-therapy driven). Dengan demikian semua lulusan farmasi mulai tahun 2009, sudah terbagi dalam kedua minat tersebut. Namun salah satu kendala utamanya yaitu, lulusan kedua minat tersebut diijinkan untuk menjadi Apoteker Pengelola Apotek apabila mampu membuka apotek atau memang bekerja di apotek. Dengan demikian, apoteker lulusan minat Farmasi Sains-Teknologi, hanya memiliki sedikit bekal kemampuan dalam ilmu farmakoterapi, yang menjadi kemampuan utama dalam pelayanan kefarmasian di apotek.

Permasalahan kedua, untuk minat apoteker farmasi klinik komunitas, bekal terhadap ilmu farmakoterapi masih bervariasi antar universitas. Berikut data yang dapat kami sampaikan sbb:

  1. Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, untuk tingkat S1 mengalokasikan mata kuliah Farmakoterapi (3 sks), Edukasi dan Informasi Obat (1 sks), Farmakoterapi Syaraf, Renal, Kardio dan Endokrin (2 sks), Farmakoterapi Infeksi, Tumor, Pencernaan dan Pernapasan (2 sks), Komunikasi Farmasi dan Konseling, dan Interaksi Obat; untuk tingkat profesi apoteker mengalokasikan mata kuliah Farmakoterapi (2 sks), serta Komunikasi dan Konseling (2 sks)
  2. Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, untuk tingkat S1 mengalokasikan mata kuliah Farmakoterapi I-II (4 sks), dan Konseling Pasien (2 sks); untuk tingkat profesi apoteker mengalokasikan mata kuliah Farmakoterapi ( 2 sks), dan Ilmu Komunikasi (2 sks)
  3. Fakultas Farmasi Universitas Padjajaran, untuk tingkat S1 mengalokasikan matakuliah Farmakoterapi (2 sks); untuk tingkat profesi apoteker mengalokasikan matakuliah Farmakoterapi Terapan (2 sks), dan Komunikasi-Konseling (2 sks)
  4. Fakultas Farmasi Universitas Pancasila, untuk tingkat S1 mengalokasikan matakuliah Farmakoterapi (2 sks); untuk tingkat profesi apoteker mengalokasikan matakuliah Farmakoterapi (2 sks), dan KIE (2 sks)
  5. Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, untuk tingkat S1 mengalokasikan matakuliah Farmakoterapi I-IV (8 sks); untuk tingkat profesi apoteker mengalokasikan matakuliah Kapita Selekta Farmakoterapi (2 sks) dan Teknik Komunikasi (2 sks)
  6. Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan, untuk tingkat S1 mengalokasikan matakuliah Farmakoterapi I-III (6 sks); untuk tingkat profesi apoteker mengalokasikan matakuliah Farmakoterapi Terapan (2 sks), dan Praktikum KIE (1 sks)
  7. Jurusan Farmasi, FMIPA, Universitas Islam Indonesia, untuk tingkat profesi apoteker mengalokasikan matakuliah Farmakoterapi (3 sks), serta Komunikasi dan Konseling (1 sks)

Adanya variasi dalam kurikulum farmakoterapi dan komunikasi mengakibatkan terjadi pula variasi dalam output lulusan dalam melakukan pelayanan di apotek.

Dalam salah satu RPKPS tentang Farmakoterapi yang diperoleh dari aptfi.org, setelah dilakukan analisis, diperoleh informasi sbb:

Pedoman proses pembelajaran di PTF selama ini lebih terkoordinasi dengan adanya APTFI. Dengan adanya website APTFI, maka akses terhadap silabus perkuliahan inti menjadi lebih mudah. Acuan pembuatan pedoman perkuliahan saat ini diatur melalui RPKPS. Perguruan Tinggi Farmasi mengacu format RPKPS ini untuk desain silabusnya, dan diperkenankan untuk meningkatkan kualitas dalam proses pembelajarannya.

Dari salah contoh RPKPS yang ada di website aptfi.or.id, terlihat bahwa proses perkuliahan masih didominasi dengan paradigma transfer informasi. Sebagai contoh hal ini terlihat dalam metode perkuliahan yang tertulis “pembelajaran dilakukan dengan ceramah/tatap muka dan diskusi/tanya jawab”. Sebuah pertanyaan yang muncul dari metode ini yaitu ‘ apakah diskusi/tanya jawab merupakan sebuah metode yang mampu mengaktifkan mayoritas mahasiswa dalam kelas ?’

Ditinjau dari jumlah materi dalam RPKPS yang diajarkan, terlihat jumlah materi terlalu banyak sehingga dosen hanya mungkin melakukan dengan cara transfer informasi yang telah disebutkan di atas. Apabila hal tersebut benar-benar terjadi, proses pelibatan aktif mahasiswa tidaklah sepenuhnya dapat dilakukan.

Ditinjau dari aspek penilaian dalam PRKPS, dilakukan pada dua hal yaitu pemahaman dan softskills. Untuk pemahaman dilakukan dengan tugas mandiri (10-20%), UTS (20-30%) dan UAS (20-40%). Pertanyaannya, apakah ketiga alat ukur tersebut sudah tepat untuk mengukur pemahaman ? Untuk softskills, unsur penilaian meliputi kreativitas dalam diskusi, membuat resume, kedisiplinan untuk mengumpulkan tugas, presentasi dan partisipasi di kelas. Pertanyaannya, bagaimana cara mengukur unsur-unsur penilaian dalam aspek softskills ? Sebagai contoh, bagaimana menilai kedisiplinan dalam mengumpulkan tugas ?

Dari penelusuran RPKPS tersebut dapatlah disimpulkan bahwa: (1) proses pembelajaran masih terbatas pada transfer informasi, (2) pelibatan aktif mahasiswa dalam proses pembelajaran belum sepenuhnya dilakukan, (3) jumlah materi dalam matakuliah sangatlah banyak, sehingga sulit untuk memperoleh pemahaman yang mendalam

Tindak lanjut

Terkait dengan artikel di atas, telah dilakukan kajian terhadap Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek dengan matriks sbb:

No

Standar Pelayanan Kefarmasian

Kompetensi yang dibutuhkan
Aspek Sub-aspek
1 Pengelolaa Sumber Daya SDM Kepemimpinan
Sarana Prasarana Manajemen
Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Perbekalan kesehatan Manajemen
Administrasi Manajemen
2 Pelayanan Pelayanan resep
  • Farmakoterapi
  • Pelayanan resep
  • Kemampuan komunikasi dengan pasien
  • Demo penggunaan alkes
Promosi dan Edukasi
  • Farmakoterapi
  • Swamedikasi
  • Kemampuan komunikasi
Pelayanan residensial (home care)
  • Farmakoterapi
  • Kemampuan komunikasi dengan pasien

Tujuan pendidikan Jesuit yaitu menghasilkan mahasiswa yang memiliki competence, conscience dan compassion (selanjutnya disingkat dengan 3C). Aspek competence meliputi: penguasaan pengetahuan farmakoterapi, pengetahuan swamedikasi; penguasaan aspek ketrampilan berupa kemampuan komunikasi, pelayanan resep dan demo penggunaan alkes;  Aspek conscience meliputi aspek sikap berupa kejujuran dan bertanggung jawab dalam KIE dan aspek compassion meliputi aspek sikap berupa empati dan kepedulian kepada pasien. Dengan demikian, penggunaan paradigma pedagogi reflektif dalam pembelajaran farmakoterapi dan KIE akan dapat mengintegrasikan ketiga aspek tersebut di atas

 Pustaka

  1. Abdullah,N.A., Andrajati, R., dan Supardi, S., Pengetahuan, Sikap dan Kebutuhan Pengunjung Apotek terhadap Informasi Obat di Kota Depok, Buletin Penelitian Sistem Kesehatan – Vol. 13 No. 4 Oktober 2010: 344–352
    1. Anggraini, E.A., Nita, Y dan Soemiati,  Kinerja Apotek dan Harapan Klien Swamedikasi pada Pelayanan Kefarmasian di Apotek Wilayah Kota Gresik, Majalah Farmasi Airlangga, Vol.7 No.2, Oktober 2009
    2. Aurelia, E., Harapan dan Kepercayaan Konsumen Apotek Terhadap Peran Apoteker Yang Berada di Wilayah Surabaya Barat, Calyptra, Vol. 2 No. 1, 2013
    3. Handayani, R.S., Gitawati, R. Muktiningsih, S.R., dan Raharni, Eksplorasi Pelayanan Informasi Yang Dibutuhkan Konsumen Apotek dan Kesiapan Apoteker Memberi Informasi Terutama Untuk Penyakit Kronik dan Degeneratif, Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. III No. 1, April 2006, hal. 38-46
    4. Handayani, R.S., Raharni dan Gitawati, R., Persepsi Konsumen Apotek Terhadap Pelayanan Apotek di Tiga Kota di Indonesia, Makara Kesehatan, Vol. 13 No. 1, Juni 2009, hal. 22-26
    5. Harianto, Khasanah, N., Supardi, S., Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Resep di Apotek Kopkar Rumah Sakit Budi Asih Jakarta, Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. II, No.1, April 2005, 12 – 21
    6. Herman, M.J., Supardi, S., Susanti, R., Isnawati, A., Muktiningsih, S.R., dan Apriany, P., Faktor Yang Berhubungan dengan Pelayanan Resep oleh Asisten Apoteker di Apotek, Bul. Penel.Kesehatan., Vol. 32 no. 3, 2004, 119-126
    7. Jesuit Secondary Education Association (JSEA). (1993) Ignatian Pedagogy Practical Approach. Originally published as a monograph: Reprinted as Appendix B in The Jesuit Ratio Studiorum of 1599: 400th Anniversary Perspectives
    8. Kepmenkes no. 1027/MENKES/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek

10.PP no. 51/2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian

11.Purwanti, A., Harianto dan Supardi, S., Gambaran Pelaksanaan Standar Pelayanan Farmasi di Apotek DKI Jakarta tahun 2003, Majalah Ilmu Kefarmasian, vol. I no.2, Agustus 2004, 102-116

12.Sari, I.P., Motivasi Konsumen Terhadap Layanan Informasi dan Konsultasi Obat di Apotek Kota Yogyakarta, Majalah Farmasi Indonesia, 12 (2) 79-83, 2001

13.Setiawan, D., Hasanmihardja, M., dan Mahatir, A., Pengaruh Pelayanan Kefarmasian terhadap Kepuasan Konsumen Apotek di Kabupaten Tegal, Jurnal Farmasi Indonesia Vol. 5 No. 2, Juli 2010, hal. 100-108

14.SK Majelis APTFI no. 002/APTFI/MA/2008 tentang Standar Praktek Kerja Profesi Apoteker

15.SK PP IAI no. 058/SK/PP.IAI/IV/2011 tentang Standar Kompetensi Apoteker Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s