Tim MDG DinKes Kota/Kabupaten?

Menanyakan apakah DinKes Kota/Kabupaten perlu membentuk tim MDG sama dengan menanyakan apakah suatu tim sepak bola perlu membentuk tim khusus pencetak gol. Membobol gawang tim lawan, atau mempertahankan gawang sendiri supaya tidak kebobolan, merupakan hasil kerjasama seluruh anggota tim. Mencapai, atau mempercepat pencapaian, MDGs “bidang kesehatan” merupakan hasil/upaya kerjasama seluruh staf struktural dan fungsional DinKes. Ibarat kapten tim sepak bola, Kepala DinKes harus memimpin langsung upaya mempercepat pencapaian MDGs dengan cara mengkoordinasi staf fungsional (supaya upayanya efikasius) dan staf struktural (supaya upayanya efektif dan efisien).

Sebagai contoh, untuk mencapai Target 6 A (Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru HIV/AIDS hingga tahun 2015) dari Gol No. 6 (Memerangi HIV/AIDS, Malaria dan Penyakit Menular Lainnya) KaDinKes sebaiknya mengkoordinasi staf fungsional UPTD (NaKes di PusKesMas dan RS, juru surveilans desa/kelurahan) supaya mendeteksi kasus-kasus ResTi, Sub-Klinis dan Klinis di wilayah kerjanya. Dia juga akan mensupervisi pengambilan data hasil deteksi kasus (surveilans aktif), konfirmasi lab/epidemiologis kasus suspek, dan registrasi dari kasus2 tsb di sarana kesehatan yang bersangkutan. Staf fungsional surveilans kemudian mengolah data ini menjadi angka-angka peringkas (rasio jumlah kasus per besar populasi) dan diagram-diagram distribusi kasus menurut tempat, waktu dan ciri-ciri kasus. Kepala seksi surveilans menerbitkan buletin-buletin berkala dan Kepala DinKes memonitor buletin-buletin tsb dan membuat keputusan respons segera/terencana. Ka DinKes Kab/Kota mensupervisi pemberian dukungan logistik oleh staf struktural.

Pembentukan tim khusus untuk menangani MDGs di DinKes Kab/Kota hanya akan memberikan peluang kepada staf di luar tim tersebut untuk tidak melaksanakan TuPokSi yang sesungguhnya – yaitu mengelola UKP dan UKM penyakit-penyakit prioritas/yang akan menjadi prioritas (emerging & re-emerging diseases), baik yang ditetapkan secara global, nasional maupun lokal. Yang sebaiknya dilakukan ialah membenahi alur-kerja DinKes Kab/Kota dan koordinasi lintas sektor, yang mengkaitkan UKP dengan UKM.

Khusus untuk pengendalian HIV/AIDS ada delapan kelompok ResTi yang harus mendapat perhatian khusus (MARPS = Most at Risk Populations), yaitu Remaja, Pengguna Narkoba Suntik (PeNaSun), Lelaki Suka-sex dengan Lelaki (LSL), NaPi, WaRia, Lelaki Penghubung (Ojek, supir Truk, buruh migran, ABK), Wanita Penjaja Sex Langsung (WPSL) dan Wanita Penjaja Sex Tidak Langsung (WPSTL).  Deteksi kasus ResTi HIV/AIDS (melalui survei perilaku dan mewaspadai perilaku beresiko) dan tindakan untuk kasus ResTi HIV/AIDS (e.g., Voluntary Counseling & Testing clinicsHarm Reduction Programs) membutuhkan kerjasama lintas-sektor yang erat, yang sebaiknya disupervisi langsung oleh Bupati/Walikota. Pencegahan yang lebih dini lagi, yaitu Pengendalian Lingkungan Sosial (e.g., kemiskinan, pergaulan bebas, media masa/sosial, keagamaan, kehidupan keluarga) dan Lingkungan Fisik (hunian), juga harus dilakukan jika Gol No. 6 untuk HIV/AIDS ingin “dicetak” menjelang tahun 2014: Prevalensi HIV <0,5 dan 100% kabupaten/kota melaksanakan pencegahan penularan HIV sesuai pedoman.

 

Pustaka Terkait

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s