Nilai Strategik PAUD

Character is higher than intellect. A great soul will be strong to live, as well as strong to think.

Ralph Waldo Emerson – Pelopor gerakan  Transcendentalist pertengahan abad ke 19

Subsidi harga BBM, atau bantuan sosial yang menyertai kenaikan harga BBM, lebih baik disalurkan untuk membenahi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Guru-guru perlu dilatih dan digaji, alat dan media mengajar perlu diadakan, kegiatan-kegiatan perlu dibiayai (misalnya, untuk makanan tambahan, kebersihan diri, olah raga, olah mental), bangunan dan halaman bermain perlu dibeli atau disewa. Pencabutan subsidi harga BBM diharapkan dapat mengurangi konsumsi BBM dengan akibat lanjutan berupa peningkatan kebersihan udara, aktifitas fisik, efisiensi penggunaan energi (mengurangi transportasi konsumtif) dan penggunaan energi alam alternatif. Namun, yang lebih penting lagi, subsidi atau bantuan sosial tersebut digunakan untuk investasi yang sangat penting – SDM.

Pengembangan SDM sebaiknya dimulai sejak dini melalui program KB, pemberian ASI dan PAUD. Melalui pengendalian 3 “terlalu” (hamil pada usia terlalu muda/tua, hamil terlalu sering, dan hamil dalam jarak terlalu dekat) kemungkinan untuk melahirkan anak yang sehat fisik dan mental lebih besar. Semboyan KB sebaiknya dikembalikan ke “Dua Anak Cukup”, atau bahkan “Satu Anak Cukup” seperti China. Reproduksi bukan Hak Asasi Manusia, melainkan Tanggungjawab Asasi Manusia.  Pemberian ASI selain lebih baik untuk pertumbuhan fisik dan mental juga sangat penting untuk perkembangan watak anak. Pada waktu menyusui ibu mulai mendidik anak untuk “percaya” kepada orang lain. Percaya (trust) kepada sesama manusialah yang menyebabkan masyarakat dan negara bergerak maju. Memberikan dan menerima kepastian, atau jaminan, bahwa setiap anggota akan menyelesaikan tugasnya dengan baik dan jujur.

Pendidikan “percaya” dilanjutkan melalui PAUD. Melalui berbagai kegiatan yang memerlukan kerjasama, anak-anak belajar bahwa orangtua, saudara, tetangga, teman sekolah dan guru pasti mendukung upaya menyelesaikan tugas dan menghargai perbedaan dalam menyelesaikan tugas (karena perbedaan dalam kemampuan dan latarbelakang). (Bietz, K. 2011. Character Education for Preschoolers: Building Trust. http://www.brighthub.com/education/early-childhood/ articles/121798.aspx) Kemampuan menyelesaikan “tugas” 3M (membaca, menulis dan menghitung) akan timbul secara beragam tergantung perkembangan otak anak dan dikembangkan melalui kerjasama. Orang tua dan guru tidak perlu “memaksa” anak untuk dapat ber-3M secara dini.

PAUD mempunyai nilai strategik karena pengembangan watak  (kejujuran, saling-menghargai, saling membantu, bertanggungjawab, dsb) memang dimulai sejak usia dini. Selain itu, kebiasaan-kebiasaan sehat dan bersih mengakar dan tumbuh dengan baik kalau ditanamkan sejak dini. Watak dan kebiasaan ini akan “menular” kepada orang-tua dan tetangga. Guru-guru yang harus dipilih, dilatih dan dipekerjakan menambah lapangan pekerjaan. Pendidikan guru ini sebaiknya tidak berlebihan dengan mendirikan program S1 dan S2 PAUD. Anggota masyarakat yang berbakat dapat diberdayakan. (Lihat contoh: Davis, E. dkk. Building the capacity of family day care educators to promote children’s social and emotional wellbeing: an exploratory cluster randomised controlled trial. BMC Public Health 2011, 11:842). Namun, nilai strategik utama dari PAUD adalah potensinya untuk mengkoreksi akar penyebab dari masalah-masalah sos-ek-bud melalui character building.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s