Memikir Belajar Berpikir

“Ia yang belajar tetapi tidak berpikir, tersesat. Ia yang berpikir tetapi tidak belajar, dalam bahaya besar” – Confucius (551-479 AD, Filsuf)

Ungkapan “belajar tetapi tidak berpikir” dalam kata-kata mutiara di atas dapat disamakan dengan konsep Single-Loop Learning dari Chris Argyris dan Donald Schön (http://www.infed.org/thinkers/). Seorang dokter, misalnya, dapat “belajar” hal-hal berikut tentang bagaimana tampil-kerjanya dalam menatalaksana kasus: (1) apakah sudah sesuai standard (i.e., suatu protap, kebijakan, atau norma); (2) jika menyimpang dari standard yang dimaksud, apakah penyimpangannya merupakan suatu kekurangan (i.e., tidak mempunyai alasan yang kuat); (3) jika merupakan kekurangan, apa akar penyebabnya dan apa tindakan koreksinya; dan, (4) jika ia sudah melaksanakan tindakan koreksi, apakah tampil-kerjanya sudah memenuhi standard. Belajar seperti ini tidak cukup, karena akan menyebabkan sang dokter “tersesat” – tersesat dalam arti ia sekedar tahu apakah benar telah melaksanakan upaya kesehatan perorangan sesuai standard, namun tidak tahu apakah standard tersebut benar. Ia juga tersesat dalam arti ia hanya berputar-putar mengikuti siklus langkah-langkah (1) sampai (4) yang sama.

Supaya tidak tersesat Confucius menganjurkan supaya kita “berpikir”, yaitu mempertanyakan kebenaran dari standard. Namun, mempertanyakan kebenaran suatu standard diagnosis atau terapi, dan kemudian merubahnya, tanpa mengevaluasi standard yang lama dan menciptakan standard yang baru secara valid dapat “berbahaya” – berbahaya dalam arti sang dokter dapat menyangkal suatu standard yang mungkin benar dan menggantikannya dengan standard yang mungkin tidak benar. Keseluruhan kata-kata mutiara di atas dapat disamakan dengan konsep Double-Loop Learning dari Argyris dan Schön. Pada siklus pertama seseorang dokter belajar mengikuti standard penatalaksanaan kasus, yaitu memperoleh pengetahuan (i.e., mengingat dan memahami) dan memperdalam pengetahuan (i.e., menerapkan dan menganalisis) tentang Evidence-Based Medicine (EBM). Pada siklus kedua ia belajar menyempurnakan standard penatalaksanaan kasus, yaitu menciptakan pengetahuan (i.e., mengevaluasi dan menciptakan) tentang EBM. Menurut taxonomy belajar Bloom yang direvisi, mengevaluasi dan menciptakan merupakan kegiatan belajar yang paling tinggi tingkatannya. (http://www.unco.edu/cetl/sir/stating_outcome/documents/Krathwohl.pdf)

Perguruan tinggi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebaiknya dijadikan organisasi pembelajaran di mana belajar dua-siklus tersebut dapat berkembang. Tidak hanya bagi mahasiswa kedokteran dan dokter tetapi juga bagi seluruh staf jabatan fungsional; dan, tidak hanya dalam hal EBM (atau Evidence-Based bidang ilmu profesi kesehatan yang lain) tetapi juga dalam hal Evidence-Based Public Health (i.e., Surveilans-Respons dan pencegahan primordial). Supaya dapat menjadi oganisasi pembelajaran staf struktural mempunyai siklus belajar yang khusus, yang terdiri dari mengevaluasi dan menciptakan pengalaman-pengalaman belajar tentang Evidence-Based Education/Evidence-Based Health Care. Berbagai pengalaman-pengalaman belajar (yang terdiri dari berbagai praktek, kebijakan dan norma pengajaran/pelayanan) sebaiknya dievaluasi dan disempurnakan secara terus-menerus. Jadi, di PT dan DinKes ada Triple-Loop Learning, yaitu Double-Loop Learning organisasi tentang Double-Loop Learning mahasiswa/staf fungsional.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s