Menemukan Kasus TB Paru Tersembunyi

“a large number of people at a small risk may give rise to more cases of disease than the small number who are at high risk”

Geoffrey Rose (1926-1993, Epidemiologist, London School of Hygiene & Tropical Medicine)

Yang dimaksud dengan kasus TB paru tersembunyi ialah penderita tuberkulosis paru aktif (i.e., yang jika diperiksa secara bakteriologis akan memberikan hasil TB positif) tetapi yang tidak atau belum ditemukan tenaga kesehatan. Ada tiga jenis kasus seperti ini: (A) penderita yang menunjukkan gejala klinik tetapi tidak mengunjungi Sarana Pelayanan Kesehatan (SPK) karena yang bersangkutan tidak tahu, tidak mampu atau tidak mau; (B) penderita yang mengunjungi SPK tetapi tidak terdeteksi menderita TB paru aktif walaupun menunjukkan gejala klinik; dan, (C) penderita yang telah dideteksi dan diobati petugas kesehatan tetapi kemudian menghilang dan tidak melanjutkan pengobatan. Kasus jenis B dapat terjadi karena petugas SPK tidak mampu menghasilkan hasil pemeriksaan bakteriologis yang positif TB (i.e., negatif palsu TB) karena kesalahan mendapatkan sediaan dahak, membuat sediaan apus atau memeriksa secara mikroskopik. Kasus jenis B juga dapat terjadi karena petugas menganggap penderita yang bersangkutan tidak memenuhi syarat untuk diperiksa secara bakteriologis, terutama karena petugas terlampau ketat menerapkan batas lama batuk-batuk. Ada penelitian yang menunjukkan bahwa jika penderita-penderita dengan lama batuk-batuk di atas dan di bawah batas dua minggu diperiksa secara bakteriologis persentase jumlah yang positif TB tidak akan berbeda. (http://www.biomedcentral.com/1472-6963/9/112)

Kasus-kasus TB tersembunyi ini sebaiknya dilacak secara proaktif sebab penderita TB paru aktif yang tidak diobati mempunyai potensi menularkan penyakit TB paru kepada 10 – 15 orang lain per tahun melalui udara pada saat berbicara, bersin, batuk atau meludah. (http://www.who.int/features/qa/08/en/index.html) Yang perlu mendapat perhatian khusus ialah kasus jenis C karena mereka mempunyai potensi untuk menyebarkan kuman TB yang resisten terhadap obat-obat anti TB. Kasus-kasus TB tersembunyi  dapat ditemukan di tempat-tempat atau keadaan-keadaan di mana mereka kemungkinan besar dapat ditemukan, yaitu di kantong-kantong miskin di pulau Jawa, daerah-daerah tertinggal di luar pulau Jawa, pemukiman-pemukiman kumuh di kota-kota besar, sekolah-sekolah, asrama-asrama, tempat-tempat penitipan anak, tempat pekerjaan (terutama yang memperkerjakan buruh berpenghasilan rendah, PSK, tenaga kesehatan) dan penjara. Mereka juga dapat dijaring pada waktu melamar pekerjaan (terutama guru, pengasuh anak, pembantu rumah tangga), mendaftarkan diri masuk sekolah, mengajukan ijin imigrasi masuk dari negara-negara prevalensi tinggi dan ke luar negeri untuk bekerja sebagai buruh atau pembantu, melamar transmigrasi, dan pada saat pemeriksaan kesehatan tahunan di tempat kerja.

Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebaiknya mengadakan pogram khusus untuk menemukan kasus-kasus TB tersembunyi melalui kegiatan-kegiatan active case finding, screening dan general check-up yang terandal. Kegiatan-kegiatan menemukan kasus ini, yang melibatkan seluruh SPK pemerintah maupun swasta dan yang disosialisasikan lintas sektor, sebaiknya dilakukan secara bertahap dan disertai dengan meningkatkan kemampuan SPK-SPK untuk mempertahankan kasus (case holding) sampai sembuh. DinKes Kab/Kota juga dapat melibatkan pengurus kelurahan atau desa dalam menggerakkan masyarakat untuk membantu di dalam upaya penemuan dan mempertahankan kasus. (http://www.plosone.org/article/info%3Adoi%2F10.1371%2Fjournal.pone.0005443)

Kita jangan terlena dengan keberhasilan mencapai MDG Target 6.c. Menurut laporan Bappenas tahun 2010 Indonesia telah menacapai “peningkatan penemuan kasus tuberkulosis dari 20,0 persen pada tahun 2000 menjadi 73,1 persen pada tahun 2009, dari target 70,0 persen; dan penurunan prevalensi tuberkulosis dari 443 kasus pada 1990 menjadi 244 kasus per 100.000 penduduk pada tahun tahun 2009”. (http://www.bappenas.go.id/node/118/2814/peta-jalan-percepatan-pencapaian-tujuan-pembangunan-milenium-di-indonesia/) Perlu  diingat bahwa Indonesia masih termasuk di antara 22 negera dengan beban TB tinggi, beban HIV tinggi dan beban MDR-TB tinggi. (http://www.who.int/tb/publications/global_report/2011/gtbr11_full.pdf)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s