Transisi dari KBMK ke KBK

Strategy requires thought, tactics requires observation”  (Max Euwe – Grand Master Catur dari Belanda)

Peralihan dari kurikulum berbasis mata kulian (KBMK) ke kurikulum berbasis kompetensi (KBK) tidak mudah. Ada beberapa hambatan yang dihadapi: Dosen yang sudah merasa ”happy” dengan kurikulum yang sekarang (antara lain, karena sudah puas dengan bahan dan cara yang biasa dipakai, bisa mengajar di beberapa tempat dengan bahan dan cara yang sama, mempunyai otoritas atas mahasiswa); pengurus dan staf pendukung yang sudah terbiasa dengan administrasi yang relatif sederhana (cukup mengubungi dosen yang bisa memberi MK tertentu, mengadakan absensi dosen dan mahasiswa, memberi honorarium, mengatur ujian, dan minta dosen menyerahkan nilai hasil ujian); dan, mahasiswa yang lebih senang metoda belajar pasif. Untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut perlu dipikirkan taktik peralihan dari KBMK ke KBK. Langkah-langkah berikut merupakan contoh dari suatu taktik untuk membuat transisi lebih dapat diterima semua pihak.

MEMPERKAYA KULIAH. Minta dosen membuat situs web atau blog di internet dan meletakkan bahan kuliah atau praktikum yang diampunya di situs tersebut. Perguruan tinggi yang bersangkutan juga dapat membuat situs web dan memberikan tempat untuk setiap semester dan setiap dosen di web tersebut. Sekretariat atau Admin situs web dapat membantu dosen yang belum terbiasa menggunakan internet. Kepada mahasiswa diumumkan bahwa bahan kuliah/praktikum dapat diunduh dari situs web atau blog dan dipelajari sebelum kuliah/praktikum dimulai. Kepada dosen dan mahasiswa dianjurkan untuk menggunakan jam tatap-muka untuk diskusi, tanya-jawab dan presentasi-presentasi mahasiswa. Mahasiswa juga dapat diberi tugas untuk mencari materi terkait dan berinteraksi dengan dosen di internet.

MENYIAPKAN LAB KOMPETENSI. Latihan dan ujian di Lab Kompetensi merupakan puncak dari setiap modul KBK sebelum PKL. Staf ProDi yang bersangkutan dan staf Lab Kompetensi bersama-sama merancang latihan dan ujian untuk setiap kompetensi. Untuk membentuk team-team kompetensi, KPS membuat suatu formulir yang berisi tabel yang terdiri atas dua kolom dan beberapa baris (jumlah baris sama dengan jumlah kompetensi). Sel-sel kolom kiri memuat kompetensi-kompetensi dan sel-sel kolom kanan diisi dengan pokok-pokok kuliah yang terkait dengan masing-masing kompetensi. Setiap dosen mengisi formulir ini dan KPS membuat rekap dari dosen-dosen dan materi-materi yang terkait dengan masing-masing kompetensi. Team-team kompetensi yang terbentuk  membuat check-list untuk menilai perilaku nyata (yang mencakup semua area/dimensi kompetensi) dan staf Lab Kompetensi mengatur pengalaman mengajar-belajarnya (PMB). Team ini kemudian mengidentifikasi pengetahuan, keterampilan motorik dan sikap mental (PMS) yang perlu dikuasai mahasiswa sebelum mengikuti pelatihan di Lab Kompetensi.

MENINJAU KEMBALI PRAKTIKUM & PKL. Berdasarkan  PMS yang diidentifikasi team-team gabungan staf Lab Kompetensi dan staf ProDi dapat diketahui praktikum apa yang sesungguhnya dibutuhkan. Praktikum untuk penguasaan tujuan belajar keterampilan motorik dipertahankan dan praktikum untuk penguasaan tujuan belajar pengetahuan dan sikap mental diganti dengan PMB yang lebih sesuai. PKL sebaiknya dikendalikan oleh Kepala ProDi dan boleh diikuti mahasiswa yang telah lulus dari Lab Kompetensi.

MEMBUAT BERKALA ILMIAH. Terbitkan KTIM dan KTID (Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa dan Dosen) dalam bentuk artikel-artikel padat berisi melalui suatu berkala elektronik. Setelah mampu terbit secara berkelanjutan diupayakan untuk memperoleh nomer izin terbit yang resmi.

MEMBUAT MODUL TERPADU. Langkah-langkah di atas mengisi sebagian besar dari modul, yaitu: PMB di Lab Kompetensi dan PKL (di bagian terakhir dari modul); praktikum; dan, materi kuliah dari dosen-dosen. Sekarang tinggal melengkapi modul dengan PMB yang mendorong mahasiswa untuk belajar mandiri, yaitu Belajar Berdasarkan Masalah (untuk melenkapi penguasaan kompetensi minimum) dan Belajar Kontrak (untuk penguasaan kompetensi maximum). Sejumlah karya mahasiswa hasil Belajar Kontrak menggantikan satu KTI dan mengisi portfolio (menggantikan transkrip).

Dengan koordinasi yang ketat seluruh proses ini dapat diselesaikan dalam waktu satu tahun. Dosen-dosen yang semula hanya memberi kuliah, menjaga praktikum dan membimbing KTI secara bertahap memainkan lebih banyak peran dalam KBK (i.e., sebagai fasilitator, mentor, tutor, pemberi kuliah, instruktur, dsb).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s