Laboratorium Kompetensi

Banyak ProDi ilmu kesehatan mempunyai Skills Lab (SL). ProDi Kebidanan dan Keperawatan, misalnya, mempunyai SL untuk melatih mahasiswa berbagai keterampilan yang menggunakan alat AV, phantom/dummy, sesama mahasiswa dan pasien simulasi, sebelum mempraktekkan pelayanan kebidanan dan keperawatan pada pasien yang sesungguhnya. Yang menjadi pertanyaan ialah apakah semua ProDi ilmu-ilmu kesehatan memerlukan SL? Dan, apakah semua praktikum harus dikerjakan di SL?

SL sebenarnya bukan hanya tempat untuk berlatih skills, atau keterampilan-keterampilan motorik. Kemampuan  kognitif, motorik dan afektif secara terpadu dilatihkan dan diujikan di SL. Jadi nama yang lebih tepat ialah laboratorium kompetensi (LK), karena kompetensi adalah aktualisasi dari ketiga kemampuan tersebut secara terpadu. Walaupun berlatih menolong persalinan pada sebuah dummy atau pasien simulasi, misalnya, mahasiswa juga diajarkan atau diuji tentang berkomunikasi dengan pasien pada saat persalinan, melakukan persiapan aseptik diri dan pasien, mengetahui alasan ilmiah dari pemeriksaan dan tindakan, melakukan perekaman pada kartu rekam medik, menunjukkan sikap tenggang-rasa, memperhatikan masalah-masalah hukum, dsb. Dengan demikian semua ProDi yang menggunakan KBK memerlukan lab kompetensi sebagai sarana untuk latihan dan ujian kompetensi. ProDi Rekam Medik, misalnya, memerlukan lab kompetensi untuk latihan dan ujian berbagai kompetensi yang diperlukan pada waktu berurusan dengan staf medik, para administrator rumah sakit, dinas kesehatan, aparat hukum, peneliti, mahasiswa dan anggota masyarakat umum.

Ada banyak praktikum yang sebenarnya ditujukan hanya untuk salah satu kemampuan saja. Misalnya, praktikum anatomi untuk mahasiswa ilmu-ilmu kesehatan S1 merupakan pengalaman belajar untuk mengetahui anatomi manusia, tidak untuk belajar diseksi mayat (untuk pendidikan S2 Anatomi, atau tenaga terampil museum anatomi) atau latihan prosedur bedah (untuk spesialisasi ilmu bedah). Bahkan lab anatomi saja tidak dibutuhkan jika tujuannya hanya untuk mengetahui dan memahami. Mempelajari atlas dan sediaan museum anatomi lebih berdaya-guna dan lebih efisien. Praktikum-praktikum yang sasarannya hanya salah satu tujuan belajar sebaiknya dilakukan di lab lain yang dikhususkan untuk penguasaan dari tujuan belajar yang bersangkutan (e.g., lab komputer, lab komunikasi, lab olah bahan pangan). Pemeriksaan lab dapat digabung dalam lab kompetensi jika konfirmasi lab merupakan salah satu sub-kompetensi dari kompetensi mendiagnosis suatu penyakit atau keadaan (e.g., pemeriksaan protein urine pada kasus dugaan pre-eklamsia). Untuk ProDi Kebidanan, misalnya, dapat dibuat purwarupa (prototype) kamar periksa bidan yang ideal, lengkap dengan lab kecil (untuk semua pemeriksaan lab yang wajib dikuasai bidan).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s