Membuat Modul KBK

Setelah semua kompetensi minimal yang diidentifikasi dibagi rata ke seluruh kurikulum mulailah pembuatan modul. Kompetensi-kompetensi minimal dari suatu peran profesi  dapat dihimpun dalam satu blok. Sehingga kurikulum terdiri dari blok-blok (atau himpunan-himpunan), bukan semester-semester. Masing-masing modul diarahkan kepada satu kompetensi, dan setiap modul terdiri atas: (1) subkompetensi-subkompetensi (SK) yang harus dikuasai mahasiswa pada akhir modul; (2) tujuan-tujuan belajar (learning objectives) pengetahuan, keterampilan motorik dan sikap mental (P, M & S) yang mendasari setiap subkompetensi; (3) pengalaman mengajar-belajar (PMB) untuk mencapai tujuan-tujuan belajar; (4) contoh ujian kompetensi; dan, (5) contoh PMB pilihan.

Baik SK maupun tujuan belajar dinyatakan dengan kalimat yang menggambarkan perilaku nyata (observable behavior) dari mahasiswa. Wujudnya berupa kalimat aktif yang dimulai dengan kata kerja. SK merupakan perilaku nyata yang harus ditunjukkan mahasiswa ketika menempuh ujian kompetensi pada akhir modul (evaluasi sumatif), sedangkan tujuan belajar merupakan perilaku nyata yang harus ditunjukkan mahasiswa ketika menempuh test pada akhir PMB (evaluasi formatif). Kalau pernyataan-pernyataan SK yang dibuat pemerintah (DepDikNas, DepKes) atau organisasi profesi belum menunjukkan perilaku nyata SK kelompok dosen yang tergabung dalam team pembuat modul melakukan analisis pekerjaan dari profesi ProDi yang bersangkutan. Untuk setiap SK team kemudian mengidentifikasi P, M & S yang dibutuhkan untuk menguasai SK dan PMB yang dibutuhkan untuk menguasai P, M & S. Anggota team pembuat modul yang semula memegang suatu MK sekarang diminta untuk menempatkan tujuan-tujuan belajar dari MKnya di modul-modul. Kalau seorang dosen tidak mempunyai tujuan-tujuan belajar ia dapat menempatkan materi MKnya di modul-modul. Tujuan-tujuan belajar atau materi kuliah ini dapat secara progresif diperluas dan diperdalam dari modul-modul awal ke modul-modul yang lebih lanjut.

Pada waktu merancang tujuan belajar dan PMB di bawah setiap SK team pembuat modul sebaiknya mempertimbangkan demensi-demensi kompetensi. Menurut Standard Kompetensi Dokter (2006) ada tujuh demensi, atau area kompetensi, yaitu: (1) Komunikasi efektif; (2) Keterampilan profesi (mengukur & bertindak); (3) Landasan ilmiah; (4) Memecahkan masalah profesi; (5) Mengelola informasi (mengumpulkan, menyimpan & menghasilkan); (6) Mawas diri & pengembangan diri; dan, (7) Etika, moral, hukum, profesionalisme & keselamatan pihak yg dilayani. Tujuan belajar dan PMB dapat diisi ke dalam sel-sel dari matrix SK – Demensi Kompetensi. Sel-sel di bawah setiap SK dapat diisi PMB PBL (Belajar Berdasarkan Masalah) untuk Demensi No. 3 dan PMB PSL (Belajar Memecahkan Masalah) untuk Demensi No 4. Team pembuat modul menginventarisasi masalah-masalah yang mungkin timbul yang menyangkut masing-masing SK dan membuat skenario/kasus tentang masalah-masalah tersebut. Skenario-skenario ini digunakan mahasiswa untuk mengidentifikasi P, M & S dan PMB yang berkaitan dengan Demensi No. 1, 2 dan 7, dan untuk mengusulkan solusi-solusi yang berkaitan dengan Demensi No. 4. Sel-Sel yang berkaian dengan Demensi No 5 dan 6 diisi dengan PMB Pilihan berupa proyek-proyek individu yang menyangkut keterampilan profesi (mengukur dan bertindak). PMB yang lain ditentukan oleh mahasiswa melalui PBL di KBK yang murni ber-orientasi kepada mahasiswa (student centered curriculum). Di KBK yang masih ber-orientasi pada dosen bagian terbesar dari PMB sudah disiapkan oleh team pembuat modul.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s