Mengapa KBK Harus Moduler?

KBK selalu terdiri dari modul-modul karena setiap modul ditujukan untuk penguasaan suatu kompetensi minimal dengan subkompetensi-subkompetensinya (SK). Masing-masing SK ini adalah aktualisasi dari paduan pengetahuan, keterampilan motorik dan sikap mental (PMS) yang mendasarinya. Sedangkan dalam kurikulum yang berbasis mata kuliah (MK) setiap MK diberikan secara terpisah kepada mahasiswa. Kadang-kadang dosen pengampu MK menyebutkan PMS yang akan dicapai dalam MK-nya dan kadang-kadang ia juga menyebutkan kaitan antara PMS tersebut dengan PMS MK yang lain. Pemaduan dan aktualisasi dari PMS-PMS menjadi kompetensi-kompetensi diharapkan terjadi selama praktek lapangan. Sebelum diterjunkan ke lapangan mahasiswa diberi kesempatan untuk melatih beberapa SK di laboratorium keterampilan. Di laboratorium keterampilan maupun di lapangan ada pembimbing yang mungkin membantu mereka mengkaitkan SK-SK tertentu dengan PMS dari MK-MK sebelumnya. Untuk secara tegas dan terencana memadukan dan mengaktualisasi semua PMS yang mendasari suatu kompetensi minimal (dengan semua SK-nya) lebih masuk akal jika PMS-PMS tersebutkan disatukan dalam satu unit/paket/modul bersama PMB-PMBnya.

Pemaduan PMS dari berbagai MK meningkatkan motivasi mahasiswa untuk belajar materi dari MK-MK yang bagi mereka tampak ”jauh” dari praktek profesi. Pemaparan secara dini kepada peran-peran profesi dan mengkaitkannya secara langsung dengan PMB dari MK-MK tersebut mengarahkan mereka untuk menguasai PMS-PMSnya. Dosen-dosen yang merancang modul juga dapat melihat bahan belajar dari bidang ilmunya masing-masing yang esensial untuk modul yang bersangkutan. Komunikasi antar dosen selama perumusan modul juga mendorong mereka untuk memperluas atau memperdalam materi belajar. Sesuai dengan tingkat PMSnya mereka kemudian bersama-sama merancang metoda dan media mengajar-belajar yang beraneka ragam.

Yang dapat lebih jauh menggairahkan proses mengajar dan belajar adalah metoda ”belajar menemukan” (discovery learning/problem based-learning). Pada waktu merancang metoda ini dosen-dosen yang terkait dengan dengan suatu kompetensi (= suatu modul) mengidentifikasi berbagai situasi atau masalah yang mungkin timbul dalam menjalankan suatu fungsi dari suatu peran. Masalah-masalah di atas kertas (paper problems) ini kemudian di gunakan oleh mahasiswa dalam kelompok-kelompok diskusi untuk ”menemukan” pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab (= PMS yang mereka belum kuasai) dan sumber-sumber serta cara-cara untuk mencari jawabannya. Sebagian besar dari pertanyaan dan jawaban tersebut sudah dapat diantisipasi oleh para perancang modul (karena esensial untuk penguasaan kompetensi yang bersangkutan) dan sudah di cantumkan dalam buku panduan modul. Pertanyaan-pertanyaan yang belum dijawab dapat digunakan untuk PMB pilihan (untuk mencapai kompetensi maksimal). Pada akhir modul mahasiswa dipaparkan dengan masalah-masalah yang tujuannya untuk dipecahkan. Kelompok diskusi PBL dibantu fasilitator, kelompok diskusi PSL (Problem solving learning) dipandu tutor dan PMB pilihan didampingi mentor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s