Mahasiswa Diproses atau Memproses?

Perguruan tinggi (PT) pada umumnya menganggap jumlah dan mutu lulusan sebagai output dari suatu proses. Efektivitas PT dinilai berdasarkan rasio jumlah yang lulus per jumlah yang diterima di PT setiap angkatan dan rata-rata IP setiap angkatan. Efisiensi PT dinilai berdasarkan rasio besar output tersebut per jumlah sumberdaya yang digunakan untuk menghasilkannya – SDM, waktu, tempat, uang, bahan, alat dan gedung. PT yang sukses adalah PT yang menghasilkan rasio lulusan dan rata-rata IP yang setinggi mungkin dengan sumberdaya yang sesedikit mungkin. Efisiensi yang optimal terletak di antara PT yang menjual ijazah dan PT yang sulit meluluskan mahasiswa dengan sumberdaya yang banyak (yang kadang-kadang belum ikut memperhitungkan gaji dosen yang ditanggung pemerintah). Ada PT yang  berupaya meningkatkan efisiensi dengan menggantikan dosen dengan mesin (e.g., Computer Assisted Instruction), interaksi antara mahasiswa dan dosen (yang belum bisa diganti mesin) di dunia maya, banyak menggunakan dosen tidak tetap, outsourcing matakuliah-matakuliah tertentu, perpustakaan nir-kertas (paperless library), administrasi elektronik, dst. Inti operasional dari organisasi PT model ”mahasiswa diproses” ini adalah dosen dan koordinator jaringan komputer (untuk pengajaran dan administrasi). Mereka tidak mempunyai waktu atau kemampuan untuk mengadakan penelitian.

PT yang menggunakan paradigma ”mahasiswa memproses” menganggap mahasiswa sebagai bagian dari inti operasional organisasi, yaitu sebagai mitra dari dosen dalam memproses informasi. Keluarannya adalah informasi yang lebih canggih, yang dinilai berdasarkan jumlah dan mutu terobosan teknologi dan publikasi penelitian. Paradigma ini cocok untuk PT yang bercita-cita menjadi research university, karena pengalaman belajar-mengajar utamanya adalah penelitian. Di PT ini mahasiswa dan dosen menyempurnakan cara-cara pengukuran (Strata 1), mengkaji teori-teori (Strata 2) dan mengembangkan teori-teori (Strata 3). Kompetensi profesional yang dikuasasi lulusan melebihi kompetensi pertukangan (yang sekedar meneruskan praktek-praktek konvensional) karena mereka telah menginternalisasi budaya meningkatkan validitas pengukuran dan pengkajian teori. PT jenis ini juga berupaya meningkatkan efisiensi dengan menggunakan teknik-teknik yang disebutkan pada model sebelumnya, namun tujuannya adalah untuk memfasilitasi kerja dari inti opersional dengan tidak mengorbankan hubungan kerja kemitraan antara dosen dan mahasiswa.

Masing-masing model organisasi PT ini menentukan pengerahan (recruitment) dosen dan  mahasiswa. Pada model yang pertama, karena yang diproses adalah mahasiswa, yang diperlukan adalah dosen yang memenuhi syarat kualifikasi mengajar matakuliah-matakuliah yang berkaitan dengan ProDi yang bersangkutan. Mahasiswa, sebagai input, direkrut berdasarkan potensinya untuk bisa diproses, yaitu ijazah SLTA (sudah terbukti bisa diproses oleh perguruan yang menggunakan paradigma yang serupa) dan test ujian masuk (untuk menguji penguasaan pengetahuan yang ada dan bakat untuk menguasai lebih banyak pengetahuan yang ada). Sedangkan pada model yang kedua, karena fokusnya adalah pada memproses informasi menjadi informasi yang lebih valid, yang diperlukan adalah operating core (dosen-mahasiwa) yang mempunyai bakat untuk menanyakan dan mempertanyakan pengetahuan yang ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s