Tamiflu: Obat Atau Vaksin?

Untuk mengantisipasi penanganan Flu Babi Menteri Dalam Negeri, melalui surat edaran tanggal 28 April 2009, menganjurkan para Gubernur, Bupati dan Walikota mengambil langkah strategis “Mempersiapkan obat Tamiflu serta penyebarannya sampai ke masyarakat.” Tanggal 7 Mei 2009 PemDa DIY menerbitkan surat edaran antisipasi penanganan Flu Babi di Provinsi DIY yang berisi instruksi ”Menyediakan obat Tamiflu di puskesmas dan memantau penggunaannya.” Surat edaran dari DitJen PP & PL, DepKes RI 29 April 2009, menyatakan bahwa penyakit Flu Babi/Flu Meksiko dapat diobati dengan Oseltamivir (Tamiflu). Di dalam surat edaran Menteri Kesehatan tanggal 28 April 2009 kepada Gubernur di seluruh Indonesia tidak terdapat petunjuk untuk mengadakan gerakan vaksinasi Flu Babi.

Di lain pihak ada negara-negara yang akan mengadakan vaksinasi (imunisasi aktif) massal Flu Babi pertengahan bulan depan. Rencana ini menghadapi dua kendala, yaitu: (1) vaksin spesifik H1N1 belum ada/belum mendapat persetujuan dari pihak yang berwewenang, karena lebih banyak uji-coba diperlukan untuk membuktikan efikasi dan keamanannya; dan, (2) produksi vaksin spesifik H1N1 yang lambat, karena daya produksi virus Flu Babi hanya separuh dari virus flu biasa. (Diperoleh 16 Juli 2009 dari http://www.usatoday.com/news/health/2009-07-13-swine-flu-vaccine_N.htm?csp=34). Karena vaksin yang spesifik belum ada negara-negara tersebut akan menggunakan Tamiflu untuk vaksinasi massal.

Menggunakan Tamiflu sebagai obat atau sebagai vaksin jelas berbeda logistiknya. Sebagai obat, Tamiflu hanya diberikan kepada orang yang menunjukkan gejala ILI (kuranglebih 20% penduduk) sebanyak 2 X 75mg/hari selama 5 hari (yang harus dimulai dalam waktu 48 jam setelah gejala timbul). Sebagai vaksin, Tamiflu harus diberikan kepada semua orang di atas 1 tahun, yang tidak mempunyai kontraindikasi, sebanyak 1 X 75mg/hari selama 10 hari. Secara politis mencegah tampak lebih baik daripada mengobati, tetapi kalau sumberdaya terbatas mengobati tampak lebih hemat. Kedua pendekatan tersebut sama-sama merupakan suatu spekulasi, karena mungkin keduanya tidak ada gunanya dan tidak aman. Virus-virus Influenza yang beredar saat ini sudah  mengalami perubahan akibat vaksinasi sebelumnya (antigenic drift); dan virus Flu Babi mungkin sudah resisten terhadap Oseltamivir. Keduanya juga bisa menjadi bumerang bagi masing-masing pemerintah – mendapat kecaman publik kalau ternyata banyak yang tetap menderita Flu Babi dan menderita effek samping berat (e.g., sindroma Guillain-Barre pada tahun 1976) atau pemborosan sumberdaya karena penatalaksanaan kasus Flu Babi dan pengawasan penggunaan Tamiflu (i.e., digunakan hanya untuk mengobati) tidak murah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s