Paradigma Upaya Kesehatan

Beberapa tahun yang lalu DepKes memutuskan menggunakan paradigma sehat dalam perumusan kebijakan-kebijakan pembangunan kesehatan dan menghimbau Dinas-Dinas Kesehatan di daerah untuk menerapkan kebijakan-kebijakan ini dalam melakukan bimbingan teknis dan melaksanakan pelayanan kesehatan. Paradigma sehat yang digunakan sebelumnya dinilai terlalu menekankan pelayanan kesehatan kuratif dan rehabilitatif, yang sekedar membebaskan anggota masyarakat dari penyakit dan kelemahan. Dengan menggunakan paradigma sehat diharapkan upaya kesehatan akan lebih banyak dikerahkan untuk mencapai masyarakat yang sehat lengkap secara fisik, mental dan sosial. (Definisi sehat WHO)

 Sampai saat ini arah upaya kesehatan tidak banyak berubah. Puskesmas dan rumah sakit tetap sibuk dengan melayani orang sakit. Dokter, bidan, apotik dan laboratorium swasta tetap berkonsentrasi pada penyakit atau keadaan yang dibawa pasien. Dinas-Dinas Kesehatan, baik provinsi maupun kabupaten/kota, tetap berupaya untuk menjalankan program-program preventif dan promotif. Hal ini terjadi karena beberapa hal, terutama karena paradigma itu sendiri. Yang pertama adalah kejelasan dan penjelasan konsep. Konsep yang digunakan untuk merumus kebijakan harus dengan jelas memperlihatkan semua dimensi dan variabel dari upaya kesehatan. Model Perjalanan Alamiah Penyakit (PAP), misalnya, merupakan  konsep yang dengan jelas menggambarkan: (1) proses penyakit untuk menyusun kebijakan dan protap UKP; (2) himpunan kejadian penyakit untuk menyusun dan protap UKM; dan, (3) hubungan anatara keduanya melalui sistem Surveilans-Respons. Kebijakan dan protap yang disertai penjelasan yang spesifik (untuk pengendalian penyakit-penyakit prioritas) akan lebih mudah diterima oleh daerah.

Yang kedua adalah penerapan dari kebijakan. Karena tidak lagi mempunyai wewenang struktural ke pemerintahan daerah, selain menghimbau Dinas-Dinas Kesehatan supaya menerapkan kebijakan-kebijakan paradigma sehat, DepKes harus lebih banyak menggunakan pelatihan, penguatan kelompok jabatan fungsional dan proyek-proyek/kegiatan-kegiatan pembantuan untuk ”enforcement” kebijakan-kebijakan. Pembentukan Kelompok JabFung dan perekrutan tenaga fungsional yang betul-betul ahli menemui hambatan karena Pemda-Pemda tidak merasa memiliki paradigma sehat. Peralihan ke (lebih tepatnya, kesadaran kembali ke) paradigma sehat seharusnya mempertimbangkan sifat lintas sektor dari paradigma sehat.

Apakah tidak lebih baik kalau DepKes dan DinKes-DinKes tetap berpegang pada paradigma sakit? Dengan menyediakan pelayanan yang bermutu kepada orang sakit melalui UPK tenaga kesehatan: (1) mengobati dan merehabilitasi penderita untuk penyakit yang dibawanya; (2)  mengadakan deteksi dan tindakan dini penyakit-penyakit prioritas lain pada penderita dan anggota keluarganya; dan, (3) memberikan pelayanan preventif dan promotif spesifik sektor kesehatan (e.g., imunisasi, KB, suplementasi gizi) kepada penderita yang bersangkutan serta anggota keluarganya. Wawasan paradigma sehat sebaiknya diinternalisasi Pemerintah Pusat dan Pemerintahan-Pemerintahan Daerah supaya semua program diarahkan ke masyarakat yang sehat lengkap secara fisik, mental dan sosial.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s