Mencegah Stunting

Untuk mengatasi secara tuntas masalah stunting di kabupaten/kota diperlukan intervensi di semua tahap perjalanan alami dari gangguan pertumbuhan anak (GPA): (1) Tahap sebelum penduduk menjadi berisiko tinggi (Tahap Pencegahan Primordial); (2) Tahap sebelum kelompok penduduk risiko tinggi mulai terkena GPA (Tahap Pencegahan Primer); (3) Tahap sebelum kelompok penduduk yang sudah terkena GPA menunjukkan gejala (Tahap Pencegahan Sekunder, atau Tahap A-simtomatik); (4) Tahap sebelum kelompok penduduk GPA simtomatik meninggal dunia atau cacat (Tahap Pencegahan Tersier, atau Tahap Simtomatik); dan, Tahap rehabilitasi kelompok penduduk GPA simtomatik untuk mencegah penurunan kualitas hidup.

Di setiap tahap tersebut perlu diidentifikasi sasaran intervensi dan jenis intervensi upaya kesehatan masyarakat dan perorangan. Program2 kemudian dirancang berdasarkan informasi yang diisi dalam kisi2 berikut:

Sasaran Intervensi

Penyebab penyakit & Lingkungan yang tidak mendukung

Populasi terpapar & rentan

Populasi sakit   a-simptomatik

Populasi sakit simptomatik

Populasi cacat & kurang kemampuan

Persen?

Distribusi*?

Persen?

Distribusi?

Persen?

Distribusi?

Persen?

Distribusi?

Persen?

Distribusi?

Intervensi

Membasmi penyebab penyakit & memperbaiki lingkungan

Mengurangi keterpaparan & kerentanan

Deteksi dini & terapi dini

Perawatan darurat & perawatan akut

Rehabilitasi & perawatan jangka panjang

Intervensi apa?

Ditujukan kepada siapa/apa**?

Keluaran?

Intervensi apa?

Ditujukan kepada siapa/apa?

Keluaran?

Intervensi apa?

Ditujukan kepada siapa/apa?

Keluaran?

Intervensi apa?

Ditujukan kepada siapa/apa?

Keluaran?

Intervensi apa?

Ditujukan kepada siapa/apa?

Keluaran?

*Distribusi menurut tempat, waktu dan ciri2 penduduk (gender, sosek)

**Peorangan, kelompok, lembaga, wilayah kerja.

Kisi2 Sasaran dan Jenis Intervensi pencegahan stunting

Yang menjadi sasaran intervensi pada tahap pencegahan primordial ialah Penyebab penyakit dan Lingkungan. Penyebab penyakit dari GPA dapat bersifat biologis (bakteri, virus, jamur dan parasit), kimiawi (narkoba, alkohol, asap rokok dan zat2 toksik lain), fisika (trauma, radiasi) dan gizi (kekurangan, kelebihan). Penyebab2 ini dapat menjadi penyebab dari penyakit organ2 reproduksi laki-laki dan perempuan (yang kemudian mengganggu pertumbuhan janin di dalam rahim) dan penyebab dari penyakit yang mengganggu pertumbuhan lebih lanjut dari anak. Lingkungan yang dapat menguntungkan penyebab atau merugikan penuduk dapat bersifat biologis (perantara, pembawa), geologis, metereologis dan sosial. Pada tahap pencegahan primordial ada pilihan intervensi yang lebih mungkin untuk dilaksanakan, yaitu membasmi penyebab penyakit (e.g., antibiotika, suplemen/ komplemen gizi) atau memperbaiki lingkungan (e.g., merubah perilaku, PSN) atau keduanya.

Yang menjadi sasaran intervensi pada tahap2 pencegahan primer sampai dengan rehabilitasi adalah manusia, yaitu: (1) kelompok penduduk mampu mereproduksi keturunan yang terpapar penyebab penyakit (karena berada dalam lingkungan yang merugikan) atau yang rentan terhadap penyebab penyakit (karena status reproduksi, status genetika, status gisi, status imunitas, status anatomi, status KAP, status sosek yang merugikan) pada tahap pencegahan primer; (2) kelompok penduduk wanita hamil yang mengalami gangguan pertumbuhan janin dalam rahim pada tahap pencegahan sekunder; (3) kelompok penduduk bayi baru lahir yang menunjukkan BBLR dan PBLR (berat badan dan panjang badan lahir rendah) pada tahap pencegahan tersier; dan, (4) kelompok penduduk anak stunting pada tahap rehabilitasi.

Untuk mengidentifikasi jenis intervensi yang efektif diperlukan bukti berikut: (1) efikasi (dayaguna) intervensi2; (2) kemampuan sumberdaya setempat (terutama SDM) untuk menerapkan intervensi2 tsb.; dan, (3) kesiapan penduduk untuk menerima intervensi2 tsb.

 

Langkah2 yang sebaiknya ditempuh untuk melengkapi kisi2 di atas adalah:
1. Menentukan penyebaran sasaran intervensi menurut kecamatan dan desa/kelurahan – mengumpulkan dan mengolah data sekunder PemDa.
2. Memilih intervensi2 efikasius untuk tingkat kabupaten, kecamatan dan desa/kelurahan – menelaah makalah systematic review.
3. Menilai kemampuan sumberdaya kabupaten, kecamatan dan desa/kelurahan untuk menerapkan intervensi2 – rapid survey lembaga2 PemDa dan masyarakat.
4. Menilai kesiapan penduduk menerima interevensi2 – rapid survey dan exit poll penduduk.

Advertisements

Heterogentitas Statistik

Meta-analysis (sintesis kuantitatif) pada Systematic Review (SR) menggabungkan Effect Size (ES) dari sejumlah penelitian empirik (PE). Jika ukuran sampel dari PE2 ini terlalu beragam (yang dapat dilihat pada blobbogram dan indeks heterogenitas statistik), ES dan Sampling Error (SE) gabungan dihitung menurut Random Effect Model. Penghitungan menurut Fixed Effect Model digunakan jika ukuran sampel PE2 tidak terlalu beragam. Batasan terlalu beragam/tidak sebaiknya ditetapkan oleh para peneliti pustaka. Namun, sebagai suatu statistik (angka peringkas pada sampel), ES dari masing2 PE sebenarnya dihasilkan dari sampel yang tidak sama populasi asalnya atau yang dipilih secara bias dari populasi fiktif yang sama. ES2 yang disertai Sampling Error-nya masing2 memberi kesan bahwa mereka berasal dari populasi yang disample yang sama.  Jadi, sebenarnya, lebih masuk akal jika penggabungan kualitatif dilakukan untuk ES2 yang dihasilkan dari penelitian2 populasi yang besar dan yang sama ciri2nya.

Jika PE2 yang ditelaah beragam dalam satu atau lebih elemen PICO (i.e., yang tinggi diversity/heterogneity-nya dalam segi klinis/PH atau metodologis) lebih baik dilakukan Scoping Review berdasarkan P, I atau O yang sama dengan penyaringan mutu (Critical Appraisal/CA) dan sintesis kualitatif. CA dapat bervariasi keketatannya (mulai dari hanya sekedar mencantumkan Tahun Terbit, Ukuran Populasi dan Cara Pengendalian variabel-variabel moderator sampai dengan penilaian mutu Kerangka Konsep, Rancangan & Metoda Penelitian dan Pelaksanaan Penelitian) tergantung dari berapa banyak informasi yang ingin diperoleh dan besar upaya yang ingin digunakan.

Penggabungan secara kualitatif ES dari PE2 populasi  besar dengan PICO yang persis sama diperlukan jika peneliti ingin mengetahui apakah kriteria kausasi lain dipenuhi selain kriterion ES yang bermakna secara klinis/PH (i.e., ES Hasil ≥ ES Minimum). Tidak untuk melakukan meta-analisis (sintesis secara kuantitatif) ES dari PE2 sampel kecil, dengan harapan ES menjadi lebih besar dan SE menjadi lebih kecil, tetapi untuk memeriksa apakah ES dari PE2 populasi besar tersebut konsisten bermakna secara klinis/PH. Systematic Review PE2 populasi besar dengan PICO persis sama juga diperlukan untuk menunjukkan pemenuhan kriterion Plausibilitas (i.e., korelasi bermakna secara konsisten antara Intervensi, Landasan Teori dan Outcome). Kriterion Dose-Response juga dapat dilihat dari Bubblegram (dan koefisien korelasinya) yang menunjukan korelasi I-O bermakna secara konsisten pada PE2 di berbagai strata dosis Intervensi.  Continue reading “Heterogentitas Statistik”

Peran Systematic Review dalam Penelitian Empirik

Di bagian akhir dari suatu penelitian empirik (PE; penelitian yang dilakukan sendiri) sering dimuat rekomendasi untuk tindakan dan rekomendasi untuk penelitian selanjutnya. Rekomendasi untuk tindakan (i.e., supaya melakukan intervensi, atau merubah pemaparan terhadap suatu intervensi) beralasan jika yang diteliti adalah kausasi (hubungan sebab-akibat), bukan sekedar korelasi (hubungan kovariasi), antara Intervensi (I) dan Outcome (O). Salah satu kriterion yang harus dipenuhi untuk menyimpulkan bahwa I menyebabkan O, setelah PE secara valid menunjukkan korelasi I-O yang klinis/kesehatan masyarakat bermakna, adalah konsistensi korelasi tinggi I-O pada PE2 lain dengan PICO yang sama. Konsistensi ini dapat dilihat secara cepat pada forest plot dari full systematic review (SR dengan critical appraisal ketat) dari PE2 dengan PICO yang homogen. Gambar, dan keterangan di sebelahnya, menunjukkan konsistensi korelasi bermakna jika PE2 yang ditelaah mempunyai Effect Size (ES) besar, Standard Error kecil dan berada di sisi yang sama dan jauh dari garis ES nihil. Jika SR menunjukkan hasil PE2 tidak konsisten peneliti belum memenuhi salah satu kriterion penting hubungan kausal I-O, dan sebagai konsekuensinya belum dapat merekomendasi implementasi Intervensi.

Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya dapat diberikan jika PE belum dapat sepenuhnya menyimpulkan secara valid ES yang bermakna. Peneliti dapat menyarankan apa yang masih perlu diperbaiki pada akar penyebab dari masalah penelitian (i.e., hubungan bermakna I-O masih dipertanyakan) dalam hal kerangka konsep, rancangan penelitian atau pelaksanaan penelitian. Walaupun belum sepenuhnya berhasil menyimpulkan secara valid, PE dapat tetap mempunyai nilai tambah/kebaruan jika tujuan penelitiannya menunjukkan upaya perbaikan mutakhir dari satu atau lebih akar penyebab masalah penelitian. Kemutakhiran tujuan penelitian dapat diperlihatkan melalui telaah pustaka sistematik yang terkini dan bermutu, yang menunjukkan rekam jejak dari upaya para peneliti untuk menghasilkan kesimpulan yang valid tentang korelasi I-O. Untuk tesis dan disertasi hal ini ditulis di Bab II (Telaah Pustaka) dan di artikel jurnal ilmiah di bagian pendahuluan/pengantar sebelum tujuan penelitian. Di tesis/disertasi peneliti merinci dengan jelas sistematika telaah pustaka yang dipakai mulai dari menjaring artikel2 PE sampai dengan menyimpulkan sintesis hasil PE2 yang memenuhi syarat. Di artikel jurnal ilmiah penulis memaparkan secara singkat rekam jejak PE2 bermutu untuk sampai pada kesimpulan sintesis hasil.     

SR juga dapat membantu penulis PE untuk memeriksa pemenuhan kriterion Plausibilitas (kemasukakalan) dari persyaratan penyimpulan hubungan kausal I dan O. Hubungan kausal I-O makin masukakal jika SR yang terkini dan bermutu memperlihatkan korelasi bermakna secara substantif yang konsisten antara I dan Mediator (Landasan Teori) dan antara Mediator dan O. Jika peneliti memang bertujuan menunjukkan hubungan kausal I-O pemenuhan kriteria kausasi yang lain sebaiknya juga dikemukakan di bagian telaah pustaka. 

Ada yang berpendapat bahwa SR dapat membantu peneliti meningkatkan akurasi dari penelitiannya melalui penggabungan ES yang dihasilkan PEnya dengan ES dari PE2 yang difiltrasi melalui proses SR. Ada yang bahkan memetaanalisis ES dari PE2 yang kurang homogen (i.e., yang PICOnya tidak persis sama) untuk memperoleh standard error yang kecil. Walaupun sudah diberi pembobotan yang sesuai dengan ukuran sampel dan tingkat heterogenitas akurasi ES gabungannya akan tetap lebih rendah dibandingkan akurasi ES dari PE tunggal dengan ukuran sampel yang besar. 

Rujukan:

  • Afshari, A., & Wetterslev, J. (2015). When may systematic reviews and meta-analyses be considered reliable? European Journal of Anaesthesiology (EJA)32(2), 85-87.
  • Sivakumar, H., & Peyton, P. J. (2016). Poor agreement in significant findings between meta-analyses and subsequent large randomized trials in perioperative medicine. BJA: British Journal of Anaesthesia117(4), 431-441.

 

Penilaian Peringkat Akreditasi Jurnal Ilmiah

Salah satu kriterion penilaian peringkat akreditasi jurnal ilmiah (lebih tepatnya, berkala ilmiah/scientific periodicals) ialah persentase sumber primer yang digunakan artikel2 yang diterbitkan melalui jurnal yang bersangkutan. Yang diharapkan paling sedikit 80% dari sumber rujukan artikel2 tersebut bersifat primer. Ada beberapa hal yang perlu ditegaskan mengenai kriterion ini. Yang pertama ialah perbedaan istilah sumber primer dan penelitian primer. Secara umum semua jenis artikel dalam suatu jurnal ilmiah sebaiknya menggunakan sumber primer jika perlu merujuk ke tulisan dari penulis lain (atau ke tulisan dari dirinya sendiri di artikel lain). Baik itu artikel2 utama (laporan penelitian empirik [PE], telaah artikel2 PE dan tulisan teoretik) maupun tulisan-tulisan pelengkap (editorial, pandangan, korespondensi, debat dsb). Alasannya, karena penulis sumber sekunder dapat salah mengutip atau mempunyai penangkapan yang berbeda/salah tentang isi dari sumber primer yang dia rujuk. Lebih celaka lagi yang dia kira sebagai sumber primer ternyata fiktif, sudah ditarik kembali (retracted article) atau tidak bermutu. Mungkin yang dimaksud badan akreditasi jurnal ialah minimal 80% dari jumlah rujukan dalam suatu artikel harus sumber primer dari penelitian primer untuk artikel2 utama. Alasannya: (a) artikel PE sebaiknya mengemukakan apa yang sudah diteliti oleh peneliti2 sebelumnya dan apa yang ditambahkan oleh penelitian yang sekarang;  (b) artikel telaah PE2 (e.g., scoping review, full systematic review) bertujuan melaporkan hasil review dan sintesis dari penelitian2 primer; dan, (c) artikel teoretik berupaya memvalidasi teori dengan PE2 yang menggunakan teori tersebut. Hal yang juga sebaiknya dibedakan pada kriterion pertama ini ialah Daftar Pustaka (Bibliography) dan Daftar Rujukan (References). Artikel PE dan artikel review PE2 cukup menggunakan Daftar Rujukan (daftar tulisan2 primer yang disebutkan dalam tulisan), sedangkan makalah teoretik sebaiknya menggunakan Daftar Pustaka (daftar tulisan2 primer yang disebutkan dan yang tidak disebutkan di dalam tulisan). Yang lebih bermanfaat bagi pembaca artikel teoretik ialah Annotated Bibliography, yaitu Daftar Pustaka yang dilengkapi dengan ringkasan isi dari masing2 pustaka.

Kriterion kedua yang dinilai badan akreditasi jurnal ilmiah ialah kebaruan sumber2 yang disebut dalam daftar rujukan. Jurnal yang sedang diakreditasi akan memperoleh nilai tinggi jika minimum 15 sumber rujukan diterbitkan dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Untuk artikel2 PE – yang mungkin lebih baik dinilai ialah kebaruan dari penelitian yang dilaporkan, yaitu apakah peneliti mereplikasi (menanggapi, bukan sekedar mengulang) PE2 sebelumnya yang PICO-nya sama. Ini berarti bahwa di bagian Pendahuluan sebaiknya penulis menunjukkan rekam jejak upaya pendukungan hipotesis penelitian (lebih tepatnya penyanggahan/refutation hipotesis penelitian) oleh PE2 sebelumnya untuk mengantar pembaca ke Tujuan penelitian. Di Tujuan penelitian, yang biasanya dimuat di alinea terakhir sebelum bagian Metoda penelitian, pembaca seharusnya dapat menilai apakah penulis melanjutkan upaya peningkatan validitas pendukungan hipotesis penelitian (yang sering tidak secara gamblang dikemukakan). Untuk artikel2 telaah PE dan artikel2 teoretik – yang biasanya dinilai ialah comprehensiveness dan objectiveness dari penjaringan dan penyaringan artikel2 PE. Konsekuensinya, penilaian peringkat akreditasi jurnal ilmiah sebaiknya lebih ditekankan pada kebaruan/nilai tambah dari artikel2 utama (i.e., ada kemajuan dalam upaya refutasi hipotesis2 penelitian) dan bukan didasarkan atas tanggal terbit dan jumlah tulisan yang disebut dalam daftar rujukan.

Kriterion yang berikut ialah efektifitas kata2 kunci dalam memunculkan artikel di halaman2 pertama dari search engine umum (e.g., Google Chrome, Google Scholar). Karena penulis artikel2 utama biasanya menjaring artikel2 PE primer di data base khusus bidang ilmu (e.g., CENTRAL, MEDLINE, Embase untuk kedokteran dan kesehatan masyarakat) maka yang sebaiknya dinilai ialah apakah kata2 kunci Intervensi dan Outcome dari PICO PE efektif dalam memunculkan artikel2 dari jurnal yang dinilai di data base khusus. PE yang dimaksud di sini ialah PE yang dilaporkan, PE2 yang direview dan PE2 yang digunakan untuk validasi teori. Untuk artikel PE kausasi dan artikel teoretik sebaiknya juga dinilai penggunaan nama teori sebagai kata kunci.

Unit Penelitian dan Unit Pengamatan

Konstruk (suatu si-kon teoretik dari unit analisis yang tidak dapat langsung diamati) dari proposisi (atau kerangka konsep, yaitu pernyataan tentang hubungan antar konstruk) oleh peneliti dirinci menjadi dimensi-dimensi (atau, faktor-faktor) dan variabel-variabel. Pada gambar kerangka konsep nama konstruk dan nama dimensi ditulis di dalam elips untuk menunjukkan mereka belum manifest. Nama variabel dimuat dalam kotak untuk menunjukkan variabel yang bersangkutan dapat diamati/diukur. Semua konstruk (beserta dimensi-dimensinya, kalau ada) dari suatu kerangka konsep dimiliki oleh unit analisis (UA; unit of analysis) yang sama. Namun data yang dikumpulkan untuk masing-masing variabel dapat berasal dari unit pengamatan (UP; unit of observation/measurement) yang berbeda. UP dari konstruk Intervensi dan konstruk Outcome bahkan disarankan supaya tidak sama jika peneliti perlu mencegah same subject bias. (Lihat
https://rossisanusi.wordpress.com/english-corner/perfecting-a-theory/ )

P dari PICO adalah populasi UA (bukan populasi UP), karena yang dianalisis adalah hubungan antara konstruk Intervensi (atau pemaparan terhadap suatu intervensi) dan konstruk Outcome, yang dimoderasi (dipengaruhi) oleh konstruk-konstruk si-kon lain dari UA dan dimediasi (dijelaskan) oleh suatu landasan teoretik. Pada saat mendiskripsikan P peneliti menyebut jenis UA (orang, binatang, tanaman, benda, bahasa, waktu, ruang), tingkat agregasi UA (rendah, sedang, atau tinggi) dan jumlah UA dalam populasi (ukuran populasi/population size). Di tingkat agregasi paling rendah UA dapat sama dengan UP.

Sebagai contoh, dayaguna program kegiatan fisik (PKF) sekolah untuk meningkatkan kegiatan serta kebugaran fisik remaja usia 6 -18 tahun (Dobbins dkk, 2013) dapat dianalisis pada tingkat individu atau pada tingkat sekolah. Jadi Populasi penelitiannya dapat terdiri dari remaja sekolah atau kumpulan remaja sekolah, tergantung dari proposisi yang diajukan peneliti. Proposisi dapat berbunyi “Remaja sekolah dengan PKF menunjukkan skor kegiatan serta kebugaran fisik yang lebih tinggi secara bermakna (ES >/= ES minimum) dibandingkan remaja sekolah tanpa PKF”, jika UA-nya individu; atau, “Sekolah-sekolah dengan PKF menunjukkan rata-rata skor kegiatan serta kebugaran fisik remaja yang lebih tinggi secara bermakna (ES >/= ES minimum) dibandingkan sekolah-sekolah tanpa PKF”, jika UA-nya sekolah. ES (Effect Size) pada proposisi yang pertama adalah d (selisih) Mean skor dan ES pada proposisi yang kedua adalah d Mean rata-rata skor untuk masing-masing variabel dari konstruk Outcome primer (frekuensi dan lama kegiatan fisik di sekolah, lama menonton TV) dan konstruk Outcome sekunder (Tekanan darah, kadar cholesterol darah, BMI, VOmax dan frekuensi denyut nadi). UP variabel-variabel Outcome primer sebaiknya bukan remaja itu sendiri (untuk menghindari bias subyek sama) tetapi guru, orangtua murid atau orang lain yang dekat dengan si remaja. UP variabel Outcome sekunder adalah remaja.

Rujukan:

  • Dobbins,M., Husson, H., DeCorby K., & LaRocca, R.L. (2013). School-based physical activity programs for promoting physical activity and fitness in children and adolescents aged 6-18. Cochrane Database of Systematic Reviews, 2013(2), Art. No.: CD007651
  • Saris, WE, & Stronkhorst, LH. (1981). Linear structural relationships. Voorburg, Amsterdam.
  • Vogt, W.P. (1993). Dictionary of Statistics and Methodology. London: Sage.

Perlakuan terhadap variabel

Setelah kerangka konsep dibentuk berdasarkan telaah pustaka peneliti harus memutuskan perlakuan apa yang akan diberikan pada setiap variabel dari masing-masing konstruk yang tertera pada kerangka konsep. Biasanya ada empat jenis konstruk (= konsep yang terstruktur) pada suatu kerangka konsep, yaitu Intervensi (I) (atau prediktor jika unit analisis terpapar intervensi yang dilakukan pihak lain/alam), Outcome (O) dari intervensi (atau kriterion dari prediktor), Moderator (situasi atau kondisi dari unit analisis yang bukan bagian dari intervensi/prediktor) dan Mediator (teori atau konsep yang menjelaskan hubungan antara I dan O. Kepada setiap variabel dari masing-masing konstruk dapat diberikan salah satu dari empat pilihan perlakuan berikut – mengabaikan, mengamati, mengendalikan atau memanipulasi. Pada jenis perlakuan yang pertama peneliti mengabaikan variabel yang bersangkutan dan tidak melibatkannya dalam analisis hubungan I-O. Pada jenis yang kedua peneliti merekam variasi data dari variabel yang diamati dan menggunakannya dalam analisis hubungan I-O. Pada pengendalian variabel peneliti meniadakan variasi data dari variabel tersebut (dan dengan demikian menghilangkan pengaruh dari variabel tersebut kepada kekuatan hubungan I-O) melalui salah satu cara berikut – inklusi/exklusi unit-unit analisis (e.g., hanya manula yang berusia 60 tahun atau lebih), menyepadankan (matching) unit-unit analisis (e.g., menyamakan proporsi manula perempuan di kelompok intervensi dan kelompok kontrol), stratifikasi unit-unit analisis dan menghitung kekuatan hubungan I-O pada masing-masing stratum (e.g., menempatkan manula di subkelompok-subkelompok tingkat pendidikan dari kelompok intervensi dan kelompok kontrol) atau menempatkan secara acak unit-unit analisis (e.g., menempatkan secara acak manula di kelompok intervensi dan kelompok kontrol). Pada perlakuan berbentuk manipulasi peneliti menentukan variasi nilai dari variabel I, dengan pengharapan terjadi penyepadanan nilai dari variabel-variabel moderator (e.g., penempatan secara acak manula ke kelompok-kelompok latihan kombinasi kognitif dan fisik, hanya latihan kognitif, hanya latihan fisik dan tanpa latihan).

Supaya kekuatan hubungan I-O dapat dihitung variabel-variabel I dapat dimanipulasi (pada penelitian experimental) atau diamati (pada penelitian observasi) dan O harus diamati. Misalnya, untuk menghitung effect size hubungan intervensi pencegahan demensia dan outcome ketangkasan kognitif dan fisik pada manula peneliti dapat melakukan intervensi dan mengamati outcomenya atau mengamati intervensi dan outcome dari pelaku lain. Untuk menjelaskan mengapa atau bagaimana I dan O berhubungan penelti perlu mengamati variabel-variabel mediator (i.e., landasan teori dari hubungan I-O). Sedangkan untuk menentukan Validitas Dalam (VD, yaitu, sampai seberapa jauh hubungan I-O tidak disalahtafsirkan dengan hubungan antara variabel si-kon lain dan O) dan Validitas Luar (VL, yaitu, sampai seberapa jauh kekuatan hubungan I-O dapat digeneralisasi untuk populasi sasaran) peneliti dapat memilih salahsatu dari keempat jenis perlakuan terhadap variabel-variabel moderator: diabaikan (e.g., si-kon manula yang menurut penelitian-penelitian sebelumnya tidak berpengaruh terhadap kekuatan hubungan I-O), diamati (i.e., analisis multivariat hubungan I-O), dikendalikan (i.e., dengan cara-cara yang disebutkan di atas) atau dimanipulasi (e.g., semua manula peserta experimen pencegahan dementia diberi imbalan).

Ada beberapa konsekuensi yang perlu dipertimbangkan pada waktu memilih jenis perlakuan terhadap variabel-variabel moderator: (a) mengabaikan akan menurunkan VD; (b) mengendalikan atau memanipulasi dapat menaikkan VD namun akan menurunkan VL; dan, (c) mengamati dapat menaikkan VD dan VL namun membutuhkan ukuran populasi (atau sampelnya) yang besar. Menambah kriteria inklusi/exklusi juga akan memperkecil ukuran populasi (dan sampelnya), yang dapat menghalangi penggunaan teknik-teknik menghitung kekuatan hubungan I-O. Sel-sel tabel silang, misalnya, dapat kosong atau kekurangan unit analisis.

Action Research untuk penelitian disertasi S3?

Apakah Action Research (AR) suatu rancangan penelitian atau suatu intervensi yang diteliti? Dan, apakah AR, baik sebagai rencangan penelitian ataupun sebagai intervensi yang diteliti, layak untuk penelitian disertasi S3? Rancangan penelitian adalah logika yang dipakai peneliti untuk menghasilkan kesimpulan yang valid tentang hipotesis penelitian. Kesimpulan bahwa hasil penelitian mendukung, atau tidak mendukung, hipotesis tentang korelasi kuat X-Y logis jika pengumpulan, pengolahan dan penafsiran data valid. Jika AR dianggap sebagai suatu rancangan penelitian, apakah pengumpulan, pengolahan dan penafsiran data AR valid? Valid bagi anggota kelompok masyarakat/ organisasi yang terlibat dalam memecahkan masalah-masalah praktis. Misalnya, bagi anggota Karang Taruna yang dilibatkan dalam memecahkan masalah penyalahgunaan tembakau oleh remaja patokan validitasnya adalah kegunaan bagi anggota Karang Taruna setempat untuk mengidentifikasi akar penyebab remaja mulai merokok dan ketagihan merokok dan mengujicoba intervensi-intervensi yang praktis. Pencegahan, pengurangan dan penghentian merokok mungkin dapat dicapai melalui beberapa putaran AR, dan pada setiap putaran ada X (= intervensi) dan Y (= outcome) dari anggota kelompok masyarakat/organisasi setempat yang dapat diamati dan direkam peneliti prodi S3 sebagai rangkaian studi kasus. Jadi, ada berbagai rancangan penelitian yang digunakan anggota kelompok masyarakat/organisasi (dengan unit analisis perorangan atau kelompok masyarakat/organisasi) dan ada rancangan penelitian experimen semu urut-waktu dengan kelompok kontrol (with control group time series quasi experimental design) yang digunakan peneliti prodi S3 (dengan unit analisis kelompok masyarakat/organisasi).

Jika AR dianggap sebagai suatu intervensi, peneliti menguji hipotesis korelasi kuat antara tingkat implementasi AR dan kemampuan memecahkan masalah; atau, kelompok masyarakat/organisasi yang menggunakan AR akan menunjukkan kemampuan memecahkan masalah yang lebih tinggi dibandingkan kelompok masyarakat/organisasi yang menggunakan pendekatan Promkes yang digunakan sekarang. Sebagai contoh, setelah suatu jangka waktu tertentu peneliti membandingkan kelompok Karang Taruna AR dan kelompok Karang Taruna Promkes dalam hal rata-rata proporsi remaja yang tidak merokok, mengurungkan merokok, mengurangi merokok dan berhenti merokok. Dalam hal ini peneliti prodi S3 dapat menggunakan rancangan penelitian RCT. Apakah AR sebagai rancangan penelitian atau sebagai intervensi layak untuk penelitian disertasi S3? Rancangan-rancangan penelitian AR yang digunakan anggota kelompok masyarakat/organisasi mungkin lebih menekankan kepraktisan daripada validitas. Dari sudut pandang peneliti, jika diasumsikan tingkat validitas rancangan pengumpulan data dan rancangan pengolahan data sama, perbedaan mutu kedua pendekatan tersebut sekarang tergantung pada perbedaan validitas penafsiran datanya (validitas dalam dan validitas luar). Rancangan experimen semu tidak mampu mengendalikan variabel-variabel moderator non-spesifik yang berkaitan dengan variasi unit analisis karena tidak ada penempatan secara acak. Validitas dalam dapat dinaikkan dengan memberlakukan penyamaan beberapa variabel moderator pada saat pemilihan kelompok intervensi dan kelompok kontrol, namun dengan mengorbankan validitas luar (generalisasi temuan penelitian ke populasi sasaran). 

Selain kekokohan rancangan penelitian empirik (= penelitian yang dilakukan sendiri), untuk memenuhi syarat kelayakan penelitian disertasi S3 perlu dipertimbangkan mutu penelitian pustaka (= telaah laporan-laporan penelitian empirik dari peneliti-peneliti sebelumnya) yang dibahas di Bab II disertasi. Yang dipilih untuk disintesis adalah penelitian-penelitian yang menggunakan rancangan yang sekokoh mungkin. Syarat lain yang sebaiknya juga dipertimbangkan ialah mutu dari pengujian teori(-teori) perubahan perilaku yang dapat menjelaskan hubungan antara tingkat partisipasi dalam proses pemecahan masalah dan tingkat keberhasilan pemecahan masalah. 

 

Pustaka

Armitage, C. J., & Conner, M. (2001). Efficacy of the theory of planned behaviour: A meta‐analytic review. British journal of social psychology40(4), 471-499.

Waterman, H., Tillen, D., Dickson, R., & De Koning, K. (2001). Action research: a systematic review and guidance for assessment. Health technology assessment (Winchester, England)5(23), iii. 

 

Tanggapan

  • Dr Budiono Santoso (15 Des 2018):
Action research adalah suatu intervensi utk memecahkan masalah, dimana peneliti terlibat dalam proses pemecahan masalah. Dari sudut pandang intervensi, action research meningkatkan kemanfaatan proses pemecahan masalah dimana hasilnya (outcome) bisa dibandingkan dengan tanpa perbaikan proses pemecahan masalah  oleh peneliti. Perbaikan proses pemecahan masalah ini bisa diukur, konsisten dan hasilnya juga bisa diukur.  
Action research sebagai rancangan penelitian juga harus mengikuti kaidah kaidah rancangan penelitian yang baik, sehingga memenuhi validitas internal yg kuat. Yang menjadi tantangan adalah menentukan berapa set proses pemecahan masalah dalam satu kelompok harua diulang dalam kelompok lain sehingga hasiknya benar benar valid dan bermakna?
  
  • Prof Mohammad Juffrie (15 Des 2018):
Saya setuju AR merupakan suatu laporan intervensi bukan laporan hasil intervensi. Untuk Desertasi S3 mustinya laporan hasil intervensi dengan segala syarat2 kesahihan untuk menjawab suatu hypothesis yang dikembangkan dari masalah Yang menjadi topik hasil telaah ilmiah menyeluruh. Jadi basically AR is a part of the research to built answering research question. PhD should be a full research.  
  • Prof Adi Heru Sutomo (15 Des 2018):

Saya setuju sekali karena AR memudahkan peneliti untuk segera membuktikannya apa apa yg ada dalam pikirannya atau apa apa yg menjadi gagasannya.

  • Dr Jaelan Sulat (15 Des 2018):

Action Research (AR) dapat digunakan sebagai rancangan penelitian atau intervensi yg diteliti. Kelayakannya sbg penelitian disertasi menurut saya tergantung pada: 1) dukungan systematical review atas penelitian-penelitian empiris yg dilakukan sebelumnya yg membuktikan validitas AR sbg rancangan penelitian atau efikasi AR sbg intervensi. Penelitian disertasi yg akan dilakukan ditujukan utk memperbaiki masalah penelitian yg masih dihadapi; 2) Dalam perumusan kerangka konsep, penelitian yg akan dilakukan tidak hanya menggunakan hasil penelitian sebelumnya (validitas empirik) tetapi juga menggunakan basis teori (validitas ahli) baik utk membangun intervensi maupun untuk menjelaskan hubungan antara intervensi dan outcome (variabel mediator); 3) Peneliti mestilah mampu menunjukkan bahwa penelitian dilaksanakan secara seksama dgn menihilkan/meminimalkan risiko bias yg mungkin terjadi (aspek fidelitas). 

  • Prof Bhisma Murti (15 Des 2018):

AR yang dilakukan dengan baik saya kira cukup berbobot untuk disertasi S3. Mendewakan superioritas RCT dengan paradigma metode penelitian empiris kuantitatif adalah pandangan positivisme. Realitas dunia tidak bisa semuanya dijelaskan dengan cara pandangan kuantitatif positivistik yang memburu objektivitas pengetahuan dengan menggunakan indera, dan menjaga jarak antara peneliti dan subjek penelitian. Pandangan positivisme menurut saya tidak sempurna dan itu juga sudah lama dikemukakan oleh filsuf Sir Karl Popper, yang mengkritisi logika positivisme yang mengandalkan verifikasi (verification) untuk mencari kebenaran (truth), dan sebagai gantinya mengemukakan metode falsifikasi (falsification).Masih terdapat ruang kosong yang tertinggal dan tak terjelaskan (unexplained) oleh pandangan positivism, ketika dicoba digunakan sebagai satu-satunya cara untuk menjelaskan fenomena dalam dunia nyata. Positivisme menjelaskan dunia dengan tidak sempurna (imperfectly). Karena itu, menurut saya lebih baik mengadopsi cara pandang post-positivisme dan sosial-konstruktivisme untuk menjelaskan realitas dunia dengan lebih baik, dengan memberikan peran kepada paradigma penelitian kualitatif.Dibandingkan dengan positivis yang menekankan independensi antara peneliti dan subjek/ objek yang diteliti (contoh, “double-blinding” dalam RCT), postpositivis menerima pengaruh dari teori-teori, latar belakang, nilai-nilai dari pihak peneliti, terhadap apa yang diperoleh melalui indera (pengamatan empiris). Bahkan pandangan sosial-konstruktivisme menekankan bahwa pengetahuan manusia dibentuk (dikonstruksi) secara sosial, melalui interaksi dengan orang lain (termasuk interaksi dengan subjek yang diteliti).Kesimpulan, AR yang menggunakan metode campuran kuantitatif dan kualitatif, merefleksikan pandangan post-positivisme dan sosial-konstruktivisme. AR menurut saya tidak lebih inferior daripada RCT, untuk menjelaskan berbagai aspek tertentu tentang suatu fenomena di dalam masyarakat. Baik AR maupun RCT penting dan perlu dilakukan. Informasi yang diberikan kedua pendekatan akan saling melengkapi memberikan pengetahuan yang lebih baik, daripada dilakukan sendiri-sendiri secara absolut. Jangan lupa dapatkan buku saya terbaru “Aplikasi Path Analysis dan Structural Equation Model dengan Stata” di Ika Yuli email: ayuningrum0811@gmail.com.

 

Prof Hari Kusnanto Josef (15 Des 2018): 

     Buku ini apa sebaiknya dibeli oleh Prodi S3 …harganya sekitar 600 ribu rupiah…

Herr, K., & Anderson, G. L. (2014). The action research dissertation: A guide for students and faculty. Sage publications.

 

 

 

 

Penyembunyian dan Penyingkapan

      “We should use new remedies quickly, while they are still efficacious” –                                 Sir William Osler (1849-1919), the father of modern medicine.

Untuk meniadakan efek plasebo/nocebo (pengaruh dari pengharapan akan akibat baik/buruk dari suatu intervensi) pada penelitian efikasi bagian substansial intervensi subyek penelitian dapat tidak diberitahu jenis intervensi yang diterima (dengan/tanpa bagian substansial intervensi). Penyembunyian seperti ini perlu dilakukan jika bagian proseduralnya sama dan terutama diperlukan jika subyek penelitian diminta untuk melaporkan outcome dari intervensi (untuk menghindari self-reporting bias). Peneliti (orang yang memberi intervensi dan yang mengukur outcome) dan pengolah data sebaiknya juga tidak diberitahu penempatan subyek ke kelompok intervensi/kontrol jika dikhawatirkan mereka mengharapkan outcome tertentu dari intervensi (untuk mencegah observer bias, analytical bias, confirmatory bias, data confabulation dsb). Disarankan supaya melaporkan secara spesifik kepada siapa saja penyembunyian diberlakukan, dan alasannya, alih-alih menggunakan istilah-istilah single, double dan tripple blinding.(1, 2)

Penyembunyian tidak dapat dilakukan jika bagian prosedural intervensi tidak serupa.  Misalnya, pada penelitian yang membandingkan ablasio kateter dan obat antiaritmik untuk fibrilasi atrial.(3) Dapat dikatakan bahwa yang diteliti pada RCT seperti ini adalah efektivitas Evidence-Based Medicine (EBM), yaitu hasilguna gabungan bagian substansial intervensi, bagian prosedural intervensi dan plasebo/nosebo. Penyembunyian masih dapat dilakukan terhadap pengolah data. Penyembunyian juga tidak  dapat dilakukan jika peneliti bertujuan mempelajari efikasi plasebo/nosebo, karena subyek kelompok kontrol jelas tidak diberi apa-apa dan kepada subyek kedua kelompok disingkapkan tujuan dari ujicoba.(4)

Open-label trial atau open trial juga dapat dilakukan jika peneliti berminat meneliti efektvitas penerapan EBM/EBPH di suatu organisasi. Kepada anggota organisasi disingkapkan pengaruh dari iklim organisasi dan peran dari fasilitator. Melalui Action Research, misalnya, fasilitator internal dan eksternal (yang juga dapat berperan sebagai peneliti) akan menggerakan anggota organisasi mendirikan mekanisme siklis pengumpulan informasi (e.g., melalui audit medik/PH, exit poll, survei), pembuatan keputusan bersama, pelaksanaan intervensi dan evaluasi keberhasilan intervensi.

Rujukan

  1. Miller, L. E., & Stewart, M. E. (2011). The blind leading the blind: use and misuse of blinding in randomized controlled trials. Contemporary Clinical Trials32(2), 240-243.
  2. Diunduh 30 November 2018 dari: https://en.wikipedia.org/wiki/Bias_(statistics).
  3. Noheria, A., Kumar, A., Wylie, J. V., & Josephson, M. E. (2008). Catheter ablation vs antiarrhythmic drug therapy for atrial fibrillation: a systematic review. Archives of internal medicine168(6), 581-586.
  4. Hróbjartsson, A., & Gøtzsche, P. C. (2001). Is the placebo powerless? An analysis of clinical trials comparing placebo with no treatment. New England Journal of Medicine344(21), 1594-1602.

Efek Plasebo

Ada yang mencela ablasio kateter jantung untuk mengatasi fibrilasi atrial sebagai suatu plasebo yang rumit.(1) Maksudnya, manajemen kasus fibrilasi atrial (MK FA) dengan ablasio kateter efektif menyembuhkan FA karena pasien berharap akan sembuh.(2)  MK FA terdiri dari bagian prosedural (menggunakan sumberdaya untuk melaksanakan ablasio) dan bagian substansial (stimulus fisika atau kimia untuk mengablasi jaringan abnormal jantung yang mengganggu sistem listrik pengatur irama detak jantung). Untuk mengetahui apakah bagian prosedural mempunyai efek plasebo terhadap irama detak jantung dapat dilakukan RCT dengan kelompok kontrol yang diberi prosedur MK FA tanpa stimulus fisika/kimia. Jika ada pasien yang sembuh di kelompok kontrol hal ini mungkin karena efek plasebo; dan, jika jumlah pasien yang sembuh di kedua kelompok tidak jauh berbeda hal ini mungkin terjadi karena bagian substansialnya tidak efikasius (potent, berdaya, manjur). Melakukan eksperimen dengan kelompok pembanding yang tidak diberi intervensi inti mungkin dinilai tidak etis, namun lebih tidak etis jika ribuan penderita FA diberi suatu intervensi substansial yang belum terbukti efikasinya.Telaah-telaah pustaka sistematik yang ada tentang efikasi ablasio kateter hanya menemukan makalah-makalah penelitian empirik dengan rancangan kasus-kontrol, kohort, atau pra/kuasi eksperimental. Rancangan-rancangan penafsiran data ini hanya mampu mengendalikan moderator-moderator spesifik (melalui kriteria inklusi, penyetaraan atau stratifikasi) atau yang penafsiran hubungan Intervensi-outcomenya dirancu oleh variabel-variabel moderator tidak spesifik (termasuk efek plasebo).(3)

Efek plasebo dapat dimanfaatkan secara positif atau negatif. Untuk meningkatkan efektivitas Upaya Kesehatan Perorangan (UKP), secara positif plasebo ditambahkan pada pengobatan/ tindakan inti yang terbukti efikasius dan yang ditangani oleh tenaga kesehatan yang cakap dengan memberi perhatian khusus kepada hubungan pasien-tenaga kesehatan (e.g., bersikap simpatik dan empatik, memberikan keterangan yang jelas kepada pasien tentang penyakit dan pengobatannya, membesarkan hati) dan kepada lingkungan tempat pelaksanaan upaya kesehatan (e.g., kebersihan, kenyamanan, estetika).(4) Plasebo dimanfaatkan secara negatif jika dikaitkan dengan pengobatan/tindakan yang tidak terbukti efikasius, walapun ditangani oleh tenaga kesehatan yang kompeten.(5)

Efek plasebo juga perlu diperhatikan di bidang Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM). Misalnya, walaupun program vaksinasi HPV dikelola dengan efektif sebagian wanita yang telah divaksinasi tetap menderita ca serviks di wilayah kerja Puskesmas-Puskesmas yang bersangkutan. Manajer program di DinKes Kabupaten/Kota dapat memastikan sebelumnya efikasi vaksin dari segi hasil telaah pustaka sistematik RCT yang terkini dan bermutu tentang effect size gabungan dan moderator-moderator spesifik yang dapat mempengaruhinya (6), dari segi kecocokkan dengan strain virus setempat, dan dari segi kualitas vaksin pada saat diterima, disimpan dan dipakai. Manajer program kemudian sebaiknya memeriksa penggunaan sumberdaya (terutama SDM) untuk meningkatkan cakupan, menurunkan ketimpangan  dan menaikkan kepuasan masyarakat.

Efektivitas program-program UKP dan UKM, selain tergantung dari mutu Evidence Based Practice (efikasi pengobatan/tindakan, kecakapan petugas kesehatan dan harapan pasien/masyarakat), juga dipengaruhi oleh manajemen organisasi (budaya belajar, kepemimpinan dan kendali mutu berkesinambungan) dan kemampuan fasilitator (konsultan/mahasiswa S3 yang membantu organisasi menerapkan UKP/UKM berdasarkan bukti).(7)

Rujukan & Keterangan:

  1. Contoh: Mandrola, J. Is AF Ablation a big placebo? Diunduh 13 Nov 2018 dari https://www.drjohnm.org/2016/06/is-af-ablation-a-big-placebo/. (Menurut Mandrola, makin rumit prosedurnya makin besar efek plasebonya)
  2. Kata “placebo” berasal dari kata “placeō” (L) yang berarti “saya membuat senang” dan kata “nocebo” berasal dari kata “noceō” (L) yang berarti “saya melukai”. Di bidang kedokteran dan kesehatan kedua kata tersebut digunakan untuk menunjukkan pengaruh menguntungkan atau merugikan dari suatu obat atau tindakan yang sebenarnya tidak mempunyai pengaruh biologis secara langsung. (https://en.wikipedia.org/wiki/Nocebo).
  3. Contoh: Chen, H. S., Wen, J. M., Wu, S. N., & Liu, J. P. (2012). Catheter ablation for paroxysmal and persistent atrial fibrillation.The Cochrane Database of Systematic Reviews, (4), CD007101. doi:10.1002/14651858.CD007101.pub2. Telaah sistematik ini menyimpulkan bahwa bukti masih lemah tentang keunggulan ablasio kateter  dibandingkan obat. Makalah-makalah penelitian empirik tidak membandingkan prosedur ablasio kateter dengan/tanpa stimulus fisika/kimia.
  4. Olshansky, B. (2007). Placebo and nocebo in cardiovascular health: implications for healthcare, research, and the doctor-patient relationship. Journal of the American College of Cardiology49(4), 415-421.
  5. Contoh, “terapi cuci otak”. Terapi ini memang Evidence Based – berdasarkan hasil penelitian, diminati oleh masyarakat dan dikerjakan oleh tenaga-tenaga ahli yang terampil. Namun, penelitian empirik yang mendasarinya menggunakan rancangan penelitian “Pre- dan post-test tanpa kelompok kontrol” yang tidak dapat mengendalikan efek plasebo dan moderator-moderator tidak spesifik lain. Lihat: (a) Putranto, T. A., Yusuf, I., Murtala, B., & Wijaya, A. (2016). Intra Arterial Heparin Flushing Increases Cereberal Blood Flow in Chronic Ischemic Stroke Patients. The Indonesian Biomedical Journal8(2), 119-126; dan, (b) Putranto, T. A., Yusuf, I., Murtala, B., & Wijaya, A. (2016). Intra arterial heparin flushing increases Manual Muscle Test–Medical Research Councils (MMT-MRC) score in chronic ischemic stroke patient. Bali Medical Journal5(2), 25-29.
  6. Arbyn, M., Xu, L., Simoens, C., & Martin‐Hirsch, P. P. (2018). Prophylactic vaccination against human papillomaviruses to prevent cervical cancer and its precursors. Cochrane Database of Systematic Reviews, (5).
  7. Kitson, A., Harvey, G., & McCormack, B. (1998). Enabling the implementation of evidence based practice: a conceptual framework. BMJ Quality & Safety7(3), 149-158.

Tanggapan dari Dr Jaelan Sulat:

Placebo lazim digunakan dalam penelitian klinis untuk mengendalikan efek psikosomatis suatu terapi yang diberikan. Bahwa ekspektasi seseorang terhadap terapi dapat menyebabkan munculnya efek placebo. Bukti menunjukkan bahwa senyawa-senyawa dalam tubuh membuat efek yang menyerupai harapan orang tersebut terhadap terapi. Sejauh ini pertanyaan etikal mengenai penggunaan placebo sebagai kontrol dalam penelitian klinis masih kontroversial dan belum mendapatkan kesimpulan yang baik.
Pengritik mengatakan bahwa jika ‘a proven effective therapy exists’ (meski definisi istilah ini juga diperdebatkan), maka placebo tidak seharusnya diperlukan. Sebaliknya, para pendukung berpendapat kontrol placebo tetap krusial dilakukan untuk membuktikan efikasi dan keamanan suatu terapi (1). Penjelasan terhadap paragrap 29 Deklarasi Helsinki menyatakan ‘Extreme care must be taken in making use of placebo-controlled trial’. Hemat penulis, penting bagi kita untuk mendapatkan bukti klinis terbaik melalui penggunaan kontrol placebo, dengan tetap menjunjung tinggi kaidah etik. Terdengar absurd, tetapi bisa diusahakan.

Rujukan

  1. Stang A, Hense HW, Jockel KH, Turner EH, Tramer MR (2005). Is it always unethical to use a placebo in a clinical trial? PLoS Med 2(3): e72. https://doi.org/10.1371/journal.pmed.0020072
  2. World Medical Association Declaration of Helsinki (2004). Ethical principles for medical research involving human subjects. https://www.wma.net/e/policy/b3.htm
  3. Lichtenberg P. The ethics of the placebo in clinical practice. J. Med. Ethics, 2004 Dec 1; 30(6): 551-4

Disertasi Action Research dan Action Research Disertasi

Untuk memahami perbedaan kedua ungkapan di atas pertimbangkan dua skenario berikut. Skenario pertama – seorang mahasiswa ProDi S3 berminat menulis disertasi tentang efikasi  Action Research* (AR)  sebagai suatu teknik memberdayakan perempuan di masyarakat dalam pencegahan gangguan pertumbuhan anak. Pembimbing mengarahkannya menelaah pustaka terlebih dahulu tentang apa yang telah diteliti mengenai efikasi AR pemberdayaan perempuan di masyarakat. Setelah secara sistematis mengumpulkan, menyaring dan mensintesis pustaka empirik dengan PICO** yang akan dia gunakan, mahasiswa dan pembimbing-pembimbingnya kemudian mengetahui apa yang masih perlu dikerjakan untuk menghasilkan bukti penelitian yang lebih valid mengenai efikasi AR tersebut.

Skenario kedua – Kepala ProDi S3 IKM prihatin dengan mutu dan lama penulisan disertasi. Dia kemudian merancang suatu AR yang melibatkan mahasiswa dan pembimbing untuk mengatasi hambatan-hambatan secara bertahap. Kelompok AR ini mengumpulkan data mengenai apa yang menghambat dan memperlancar penulisan disertasi, menetapkan urutan prioritas masalah yang akan ditangani (mulai dari yang lebih mudah dapat diselesaikan), mengadakan curah gagasan pemecahan masalah, membuat keputusan, melaksanakan keputusan, mengevaluasi hasil, dan melanjutkan ke masalah-masalah berikut yang makin tinggi tingkat kesulitan pemecahannya.

Di skenario pertama peneliti meneliti dayaguna AR melalui penelitian pustaka (telaah penelitian-penelitian empirik sebelumnya) dan penelitian empirik (penelitian yang dilakukan sendiri). Sedangkan di skenario kedua praktisi menggunakan AR (dengan asumsi telaah pustaka sistematik yang bermutu dan terkini menunjukkan dayagunanya) untuk merubah perilaku pembimbing dan mahasiswa dalam hal penulisan disertasi. Skenario pertama memperlihatkan peneliti berupaya menghasilkan penelitian yang bermutu untuk Evidence Based Health Promotion dan skenario kedua memperlihatkan praktisi berupaya menggunakan hasil penelitian bermutu untuk Evidence Based Management. Kesimpulannya, AR bukan suatu rancangan penelitian disertasi namun suatu intervensi yang dapat dikaji efikasinya melalui penelitian disertasi dengan rancangan metoda penelitian yang kuat (i.e., yang variabel-variabel situasi-kondisi unit analisisnya dikendalikan atau diamati).

Keterangan:

*) AR = teknik melibatkan anggota organisasi dalam mendiagnosis masalah, merancang intervensi, melaksanakan keputusan dan menilai keberhasilan secara progresif.

**) P = populasi organisasi perempuan di masyarakat; I = Intervensi berupa AR; C = Kontrol variabel-variabel moderator, atau rancangan metoda penafsiran hasil penelitian; dan, O = Outcome berupa kemampuan organisasi perempuan memecahkan masalah .

 

Tanggapan dari Prof Bhisma Murti

Definisi sy ttg AR tdk sperti skenario 1 maupun 2. Jadi tdk setuju jk yg dimaksud penerapan AR seperti itu p Rossi.
AR suatu desain penelitian intervensi dg pndekatan kualitatif partisipatif yg bertujuan utk membawa perubahan sosial pd komunitas, shg bukan AR itu sendiri yg diteliti.
Krn mrpk desain penelitian intervensi, istilah “efikasi AR” kedengaran aneh sprti halnya efikasi RCT, efikasi cross sectional dsb. AR bersifat kualitatif shg tdk mngenal istilah efikasi yg biasa digunakn pd RCT sbg  kuantitatif.

Tanggapan terhadap Tanggapan Prof Bhisma Murti

Tanggapan dari Prof Bhisma Murti akan ditanggapi dengan skenario ketiga berikut  –  Untuk menurunkan prevalensi stunting di wilayah kerjanya, terutama di beberapa desa  tertinggal, Ka DinKes suatu kabupaten merancang program-program di semua tahap pencegahan dari perjalanan alamiah penyakit tersebut. Untuk tahap pencegahan primordial dia merancang program pemberdayaan wanita. Ahli promkes dari kelompok jabatan fungsional DinKes menyarankan untuk menggunakan pendekatan AR*. Menurut penyelidikan staf fungsional promkes tersebut AR efikasius berdasarkan telaah pustaka sistematik dan sesuai dengan nilai dan harapan wanita setempat. Supaya program ini dikelola secara efektif (i.e., cakupan tinggi dan kesenjangan antar desa rendah) dan efisien (i.e., penggunaan sumberdaya optimal) Ka DinKes memberi instruksi kepada staf struktural seksi promkes supaya menyiapkan logistik yang diperlukan.
Skenario ini digunakan untuk menggambarkan:
  • AR sebagai suatu intervensi manajemen partisipatif dengan output efektivitas dan efisiensi organisasi setempat (memecahkan masalah lokal), bukan sebagai suatu penelitian efikasi intervensi dengan tujuan generalisasi dengan rancangan penafsiran kemaknaan substantif yang sekuat mungkin. Istilah “research” digunakan pada AR karena anggota organisasi dilibatkan dalam pengumpulan dan analisis data untuk mendiagnosis masalah-masalah setempat dan mengevaluasi efektivitas dan efisiensi manajemen penerapan intervensi yang mereka pilih untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Pada saat memilih intervensi diharapkan mereka menggunakan sintesis hasil penelitian empirik yang valid tentang efikasi intervensi.
  • Staf fungsional sebaiknya dilatih (antara lain, melalui ProDi Pasca Sarjana) memanfaatkan dan melakukan penelitian pustaka (yang menggabungkan effect size yang dihasilkan penelitian-penelitian empirik sebelumnya) dan melakukan penelitian empirik dengan rancangan yang lebih kuat untuk menunjukkan kekuatan hubungan intervensi-outcome. Melalui ProDi S3 mereka sebaiknya juga dilatih menyanggah teori yang menjelaskan hubungan tersebut.
* AR sebagai suatu intervensi untuk melibatkan anggota organisasi dalam pemecahan masalah [lihat Koshy, E., Koshy, V., & Waterman, H. (2010). Action research in healthcare. Sage]
Pustaka tambahan tentang AR: Waterman, H., Tillen, D., Dickson, R., & De Koning, K. (2001). Action research: a systematic review and guidance for assessment. Health technology assessment (Winchester, England)5(23), iii.
———————————————————–
Tanggapan dari Dr Jaelan Sulat:
Selamat malam pak Rossi. Saya sampai mengulang membaca hingga 3 kali untuk memahami gagasan ‘AR’ sebagai intervensi dari pada sbg suatu rancangan penelitian. Pemahaman saya mirip dengan tanggapan Prof. Bhisma Murti. Bahwa AR adalah bentuk rancangan penelitian dimana selain menginterpretasi dan mendiskripsi fenomena, peneliti juga sekaligus melakukan intervensi utk perbaikan kondisi dgn partisipasi subjek. Sehingga jika menggunakan PICOS, I (intervensi)nya adalah suatu pendekatan tertentu yg telah teruji mll telaah pustaka sebelumnya. Sedangkan S (study disign)nya adlh ‘AR’. Terus terang gagasan pak Rossi di atas pmenjadi pemahaman baru bagi saya. Link artikel tentang AR in health care akan saya pelajari lebih lanjut. Salam hormat.
Tanggapan terhadap tanggapan Dr Jaelan Sulat:
Huruf C pada akronim PICO, jika dianggap sebagai huruf pertama dari kata Control,  sudah menunjuk kepada rancangan penafsiran (lihat tulisan  https://rossisanusi.wordpress.com/?s=pico di blog ini), yaitu logika yang mendasari validitas dalam (sampai seberapa jauh variabel-variabel si-kon dari unit analisis yang tidak merupakan bagian dari intervensi mengganggu penafsiran hubungan I-O) dan validitas luar (sampai seberapa jauh hubungan I-O dapat digeneralisasi ke populasi sasaran unit analisis). Penambahan huruf S di belakang PICO dapat digunakan untuk menekankan rancangan dari tahap metoda penelitian sebelum penafsiran, yaitu logika yang mendasari validitas pengumpulan dan pengolahan data. AR dapat dianggap sebagai suatu rancangan metoda penelitian jika ia menjelaskan logika yang digunakan untuk menyimpulkan penolakan/penerimaan hipotesis penelitian (yang menyatakan ada korelasi yang tinggi antara I dan O). Kesimpulan hasil penelitian menjadi tidak logis jika rancangan pengumpulan, pengolahan dan penafsiran data I dan O tidak/kurang valid.
Melibatkan subyek penelitian (= peserta penelitian) dalam ketiga tahap penelitian tersebut dapat meningkatkan validitas mengumpulkan, mengolah dan penafsirkan data (tentang berbagai hubungan I-O dalam rangka memecahkan masalah setempat) jika mereka dilatih melakukan penelitian empirik. Misalnya, remaja anggota Karang Taruna dilatih meneliti (dengan rancangan metoda penelitian yang valid) kekuatan hubungan antara X (suatu intervensi berbasis komunitas dan pencegahan/pengurangan merokok; lihat https://www.healthevidence.org/view-article.aspx?a=community-interventionspreventing-smoking-young-people-15701). Tanpa rancangan metoda penelitian yang kuat mereka tidak dapat menyimpulkan secara valid (berbobot) bahwa ada hubungan yang erat antara X dan mencegah/mengurangi merokok.
Diduga (dihipotesiskan) bahwa melibatkan anggota Karang Taruna dalam penelitian empirik hubungan I-O tersebut (pendekatan rasional-empirikal) lebih efikasius merubah perilaku mereka dibandingkan mendidik anggota Karang Taruna untuk merubah norma hidup (pendekatan normative re-edukatif). Hubungan Pendekatan Perubahan Perilaku dan Perubahan Perilaku merokok ini, dan peran Teori Perubahan Perilaku sebagai mediator, layak diteliti oleh mahasiswa pasca sarjana. Unit analisis yang digunakan adalah organisasi Karang Taruna. Sedangkan hubungan intervensi berbasis komunitas dan perilaku merokok mungkin dapat diteliti anggota Karang Taruna. Seorang peneliti akademik dapat saja melaporkan proses AR sebagai suatu studi kasus, namun tidak sebagai tesis atau disertasi.