Disertasi Action Research dan Action Research Disertasi

Untuk memahami perbedaan kedua ungkapan di atas pertimbangkan dua skenario berikut. Skenario pertama – seorang mahasiswa ProDi S3 berminat menulis disertasi tentang efikasi  Action Research* (AR)  sebagai suatu teknik memberdayakan perempuan di masyarakat dalam pencegahan gangguan pertumbuhan anak. Pembimbing mengarahkannya menelaah pustaka terlebih dahulu tentang apa yang telah diteliti mengenai efikasi AR pemberdayaan perempuan di masyarakat. Setelah secara sistematis mengumpulkan, menyaring dan mensintesis pustaka empirik dengan PICO** yang akan dia gunakan, mahasiswa dan pembimbing-pembimbingnya kemudian mengetahui apa yang masih perlu dikerjakan untuk menghasilkan bukti penelitian yang lebih valid mengenai efikasi AR tersebut.

Skenario kedua – Kepala ProDi S3 IKM prihatin dengan mutu dan lama penulisan disertasi. Dia kemudian merancang suatu AR yang melibatkan mahasiswa dan pembimbing untuk mengatasi hambatan-hambatan secara bertahap. Kelompok AR ini mengumpulkan data mengenai apa yang menghambat dan memperlancar penulisan disertasi, menetapkan urutan prioritas masalah yang akan ditangani (mulai dari yang lebih mudah dapat diselesaikan), mengadakan curah gagasan pemecahan masalah, membuat keputusan, melaksanakan keputusan, mengevaluasi hasil, dan melanjutkan ke masalah-masalah berikut yang makin tinggi tingkat kesulitan pemecahannya.

Di skenario pertama peneliti meneliti dayaguna AR melalui penelitian pustaka (telaah penelitian-penelitian empirik sebelumnya) dan penelitian empirik (penelitian yang dilakukan sendiri). Sedangkan di skenario kedua praktisi menggunakan AR (dengan asumsi telaah pustaka sistematik yang bermutu dan terkini menunjukkan dayagunanya) untuk merubah perilaku pembimbing dan mahasiswa dalam hal penulisan disertasi. Skenario pertama memperlihatkan peneliti berupaya menghasilkan penelitian yang bermutu untuk Evidence Based Health Promotion dan skenario kedua memperlihatkan praktisi berupaya menggunakan hasil penelitian bermutu untuk Evidence Based Management. Kesimpulannya, AR bukan suatu rancangan penelitian disertasi namun suatu intervensi yang dapat dikaji efikasinya melalui penelitian disertasi dengan rancangan metoda penelitian yang kuat (i.e., yang variabel-variabel situasi-kondisi unit analisisnya dikendalikan atau diamati).

Keterangan:

*) AR = teknik melibatkan anggota organisasi dalam mendiagnosis masalah, merancang intervensi, melaksanakan keputusan dan menilai keberhasilan secara progresif.

**) P = populasi organisasi perempuan di masyarakat; I = Intervensi berupa AR; C = Kontrol variabel-variabel moderator, atau rancangan metoda penafsiran hasil penelitian; dan, O = Outcome berupa kemampuan organisasi perempuan memecahkan masalah .

 

Tanggapan dari Prof Bhisma Murti

Definisi sy ttg AR tdk sperti skenario 1 maupun 2. Jadi tdk setuju jk yg dimaksud penerapan AR seperti itu p Rossi.
AR suatu desain penelitian intervensi dg pndekatan kualitatif partisipatif yg bertujuan utk membawa perubahan sosial pd komunitas, shg bukan AR itu sendiri yg diteliti.
Krn mrpk desain penelitian intervensi, istilah “efikasi AR” kedengaran aneh sprti halnya efikasi RCT, efikasi cross sectional dsb. AR bersifat kualitatif shg tdk mngenal istilah efikasi yg biasa digunakn pd RCT sbg  kuantitatif.

Tanggapan terhadap Tanggapan Prof Bhisma Murti

Tanggapan dari Prof Bhisma Murti akan ditanggapi dengan skenario ketiga berikut  –  Untuk menurunkan prevalensi stunting di wilayah kerjanya, terutama di beberapa desa  tertinggal, Ka DinKes suatu kabupaten merancang program-program di semua tahap pencegahan dari perjalanan alamiah penyakit tersebut. Untuk tahap pencegahan primordial dia merancang program pemberdayaan wanita. Ahli promkes dari kelompok jabatan fungsional DinKes menyarankan untuk menggunakan pendekatan AR*. Menurut penyelidikan staf fungsional promkes tersebut AR efikasius berdasarkan telaah pustaka sistematik dan sesuai dengan nilai dan harapan wanita setempat. Supaya program ini dikelola secara efektif (i.e., cakupan tinggi dan kesenjangan antar desa rendah) dan efisien (i.e., penggunaan sumberdaya optimal) Ka DinKes memberi instruksi kepada staf struktural seksi promkes supaya menyiapkan logistik yang diperlukan.
Skenario ini digunakan untuk menggambarkan:
  • AR sebagai suatu intervensi manajemen partisipatif dengan output efektivitas dan efisiensi organisasi setempat (memecahkan masalah lokal), bukan sebagai suatu penelitian efikasi intervensi dengan tujuan generalisasi dengan rancangan penafsiran kemaknaan substantif yang sekuat mungkin. Istilah “research” digunakan pada AR karena anggota organisasi dilibatkan dalam pengumpulan dan analisis data untuk mendiagnosis masalah-masalah setempat dan mengevaluasi efektivitas dan efisiensi manajemen penerapan intervensi yang mereka pilih untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Pada saat memilih intervensi diharapkan mereka menggunakan sintesis hasil penelitian empirik yang valid tentang efikasi intervensi.
  • Staf fungsional sebaiknya dilatih (antara lain, melalui ProDi Pasca Sarjana) memanfaatkan dan melakukan penelitian pustaka (yang menggabungkan effect size yang dihasilkan penelitian-penelitian empirik sebelumnya) dan melakukan penelitian empirik dengan rancangan yang lebih kuat untuk menunjukkan kekuatan hubungan intervensi-outcome. Melalui ProDi S3 mereka sebaiknya juga dilatih menyanggah teori yang menjelaskan hubungan tersebut.
* AR sebagai suatu intervensi untuk melibatkan anggota organisasi dalam pemecahan masalah [lihat Koshy, E., Koshy, V., & Waterman, H. (2010). Action research in healthcare. Sage]
Pustaka tambahan tentang AR: Waterman, H., Tillen, D., Dickson, R., & De Koning, K. (2001). Action research: a systematic review and guidance for assessment. Health technology assessment (Winchester, England)5(23), iii.
———————————————————–
Tanggapan dari Dr Jaelan Sulat:
Selamat malam pak Rossi. Saya sampai mengulang membaca hingga 3 kali untuk memahami gagasan ‘AR’ sebagai intervensi dari pada sbg suatu rancangan penelitian. Pemahaman saya mirip dengan tanggapan Prof. Bhisma Murti. Bahwa AR adalah bentuk rancangan penelitian dimana selain menginterpretasi dan mendiskripsi fenomena, peneliti juga sekaligus melakukan intervensi utk perbaikan kondisi dgn partisipasi subjek. Sehingga jika menggunakan PICOS, I (intervensi)nya adalah suatu pendekatan tertentu yg telah teruji mll telaah pustaka sebelumnya. Sedangkan S (study disign)nya adlh ‘AR’. Terus terang gagasan pak Rossi di atas pmenjadi pemahaman baru bagi saya. Link artikel tentang AR in health care akan saya pelajari lebih lanjut. Salam hormat.
Tanggapan terhadap tanggapan Dr Jaelan Sulat:
Huruf C pada akronim PICO, jika dianggap sebagai huruf pertama dari kata Control,  sudah menunjuk kepada rancangan penafsiran (lihat tulisan  https://rossisanusi.wordpress.com/?s=pico di blog ini), yaitu logika yang mendasari validitas dalam (sampai seberapa jauh variabel-variabel si-kon dari unit analisis yang tidak merupakan bagian dari intervensi mengganggu penafsiran hubungan I-O) dan validitas luar (sampai seberapa jauh hubungan I-O dapat digeneralisasi ke populasi sasaran unit analisis). Penambahan huruf S di belakang PICO dapat digunakan untuk menekankan rancangan dari tahap metoda penelitian sebelum penafsiran, yaitu logika yang mendasari validitas pengumpulan dan pengolahan data. AR dapat dianggap sebagai suatu rancangan metoda penelitian jika ia menjelaskan logika yang digunakan untuk menyimpulkan penolakan/penerimaan hipotesis penelitian (yang menyatakan ada korelasi yang tinggi antara I dan O). Kesimpulan hasil penelitian menjadi tidak logis jika rancangan pengumpulan, pengolahan dan penafsiran data I dan O tidak/kurang valid.
Melibatkan subyek penelitian (= peserta penelitian) dalam ketiga tahap penelitian tersebut dapat meningkatkan validitas mengumpulkan, mengolah dan penafsirkan data (tentang berbagai hubungan I-O dalam rangka memecahkan masalah setempat) jika mereka dilatih melakukan penelitian empirik. Misalnya, remaja anggota Karang Taruna dilatih meneliti (dengan rancangan metoda penelitian yang valid) kekuatan hubungan antara X (suatu intervensi berbasis komunitas dan pencegahan/pengurangan merokok; lihat https://www.healthevidence.org/view-article.aspx?a=community-interventionspreventing-smoking-young-people-15701). Tanpa rancangan metoda penelitian yang kuat mereka tidak dapat menyimpulkan secara valid (berbobot) bahwa ada hubungan yang erat antara X dan mencegah/mengurangi merokok.
Diduga (dihipotesiskan) bahwa melibatkan anggota Karang Taruna dalam penelitian empirik hubungan I-O tersebut (pendekatan rasional-empirikal) lebih efikasius merubah perilaku mereka dibandingkan mendidik anggota Karang Taruna untuk merubah norma hidup (pendekatan normative re-edukatif). Hubungan Pendekatan Perubahan Perilaku dan Perubahan Perilaku merokok ini, dan peran Teori Perubahan Perilaku sebagai mediator, layak diteliti oleh mahasiswa pasca sarjana. Unit analisis yang digunakan adalah organisasi Karang Taruna. Sedangkan hubungan intervensi berbasis komunitas dan perilaku merokok mungkin dapat diteliti anggota Karang Taruna. Seorang peneliti akademik dapat saja melaporkan proses AR sebagai suatu studi kasus, namun tidak sebagai tesis atau disertasi.
Advertisements

ProDi S2 IKM UNS Okt-Nov 2018

JUMAT 2 NOVEMBER 2018

08:00-11:30; Ruang 1511: Perencanaan & evaluasi program PromKes dan pencegahan penyakitn pada Ibu dan anak (KIA; Sem II/1-4[4]; 25 Mhs)

Perencanaan & Evaluasi Promosi & Pencegahan Penyakit Ibu & Anak_KIA 2018 Sem 2

12:30-15:00; Ruang 1514: EB Health Practice  (Promosi&Perilaku Kesehatan; Sem II/1-4(8); 20 Mhs)

https://rossisanusi.files.wordpress.com/2013/09/ebm-overview.pdf

SENIN 5 NOVEMBER 2018

08:00-11:30; Ruang 1404: Kesehatan global dan implikasinya bagi kebijakan pencegahan dan pengendalian penyakit di Indonesia (Epid&Biostat; Sem III/1-4[4]; 7 Mhs)

12:30-15:00; Ruang 1511: EB Health Practice (KMPK; Sem II/5-8[8]; 15 Mhs)

 

JUMAT 9 NOVEMBER 2018

08:00-11:30; Ruang 1514: EB Health Practice (Promosi&PerilakuKes; Sem II/5-8[8]; 20 Mhs)

Definisi “practice” menurut kamus Merriam Webster?

Arti Evidence-based:

  • Health practice
  • Health care practice
  • Health care management practice.

11:30-15:00; Ruang 1512: EB Health Practice (KIA; Sem II/1-4[8]; 25 Mhs)

Definisi “practice” menurut kamus Merriam Webster?

Arti Evidence-based:

  • Health practice
  • Health care practice
  • Health care management practice.

 

SENIN 12 NOVEMBER 2018

08:00-11:30; Ruang 1511: EB Health Practice (KMPK; Sem II/5-8[8]; 15 Mhs)

  • 08:00-08:30: Diskusi tentang bagaimana memberdayakan organisasi mempraktekkan UKM & UKP berdasarkan bukti? Baca Kitson, A., Harvey, G., & McCormack, B. (1998). Enabling the implementation of evidence based practice: a conceptual framework. BMJ Quality & Safety7(3), 149-158.  Kitson_Enabling the implementation of EB Practice
  • 08:30-09:30: Diskusi kelompok: diskusikan dalam kelompok (@ 5 mahasiswa) dan buat 5 slide presentasi PPt berikut: (1) Organisasi sasaran dan Health Care Management Practice (HCMP) yang akan diubah; (2) Rujukan penelitian (tentang efikasi intervensi manajemen) yang terbaik dan terkini; (3) Evidence yang mendasari perubahan tersebut; (4) Persiapan context untuk memperlancar implementasi EB HCMP yang baru; (5) Persiapan fasilitator untuk memperlancar implementasi EB HCMP yang baru.
  • 09:30-11:30: Presentasi kelompok dan tanya-jawab.

 

11:30-15:00: Ruang 1514: EB Health Practice (KIA; Sem II/5-8[8]; 25 Mhs)

  • 11:30-12:00: Diskusi tentang bagaimana memberdayakan organisasi mempraktekkan UKM & UKP berdasarkan bukti? Baca Kitson, A., Harvey, G., & McCormack, B. (1998). Enabling the implementation of evidence based practice: a conceptual framework. BMJ Quality & Safety7(3), 149-158.  Kitson_Enabling the implementation of EB Practice
  • 12:00-13:00: Diskusi kelompok: diskusikan dalam kelompok (@ 5 mahasiswa) dan buat 5 slide presentasi PPt berikut: (1) Organisasi sasaran dan Health Care Practice (HCP) yang akan diubah; (2) Rujukan penelitian (tentang efikasi intervensi KIA) yang terbaik dan terkini; (3) Evidence terbaik yang mendasari perubahan tersebut; (4) Persiapan context untuk memperlancar implementasi EB HCP yang baru; (5) Persiapan fasilitator untuk memperlancar implementasi EB HCP yang baru.
  • 13:00-15:00: Presentasi kelompok dan tanya-jawab.

 

 

Kuliah ProDi S3 IKM UNS7 Sep 2018

Telaah Pustaka 7 Sep 2018

Kerangka Konsep, Landasan Teori & Hipotesis 7 Sep 2018

Flowchart

Keterangan Flowchart

CA Form

Merancang Penelitian

Tugas untuk 28 Sept 2018:

  1. Jeet G, Thakur J, Prinja S, & Singh M. (2017). Community health workers for noncommunicable diseases prevention and control in developing countries: Evidence and implications. PLoS ONE12(7), e0180640.  (https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0180640).    Apakah Systematic Review (SR) ini layak untuk dibarui? Jika layak jelaskan mengapa dan bagaimana caranya. SR yang sudah dibarui diletakkan di bagian apa dari disertasi?
  2. Hasandokht, T., Farajzadegan, Z., Siadat, Z. D., Paknahad, Z., & Rajati, F. (2015). Lifestyle interventions for hypertension treatment among Iranian women in primary health-care settings: Results of a randomized controlled trial. Journal of research in medical sciences: the official journal of Isfahan University of Medical Sciences20(1), 54. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4354066/). Apakah kesimpulan dari penelitian empirik ini valid? Jelaskan. 

Kesempatan Terlewatkan & Survei Pintu Keluar (Missed Opportunities & Exit Polls)

Saat ini di berbagai tempat di Indonesia terjadi KLB Difteri dan kenaikan AKI. Salah satu cara untuk mencegahnya ialah dengan menurunkan MOV (Missed Opportunities for Vaccination, kesempatan terlewatkan memberi vaksinasi kepada anak) dan MOC (Missed Opportunities for Contraception, kesempatan terlewatkan memberi kontrasepsi kepada orang dewasa). Petugas pelayanan kesehatan mendapat kesempatan untuk memberi pelayanan vaksinasi dan kontrasepsi kepada pengunjung sarana kesehatan yang terindikasi memerlukan pelayanan tersebut dan tidak terkontraindikasi untuk memperolehnya. Pasien dan pengantar pasien berkunjung ke sarana kesehatan mungkin untuk keperluan lain dan kunjungan ini sebenarnya dapat dimanfaatkan secara terencana untuk memberikan pelayanan kesehatan prioritas.

Rencana mengurangi MOV dan MOC sebaiknya didasarkan atas penyelidikan tentang kemungkinan penyebab dari kesempatan yang terlewatkan (MO). Ada penyebab yang berasal dari pengunjung, dari petugas dan dari sarana kesehatan.  Penyebab-penyebab ini dapat diketahui dengan mengadakan survei singkat di pintu keluar sarana kesehatan (exit poll). Jika yang keluar dari sarana kesehatan anak balita, kepada pengasuhnya dapat ditanyakan hal-hal berikut tentang anak balita tersebut:

  1. Tanggal lahir (umur dalam bulan) dan dusun/desa.
  2. Vaksinasi yang seharusnya sudah diterima pada umur yang bersangkutan – beri tanda “” pada Kartu Jadual Imunisasi atau periksa Kartu Imunisasi balita tersebut.
  3. Jika ada vaksin yang belum diterima tanyakan mengapa tidak divaksinasi pada kunjungan ini – beri tanda “” pada daftar tilik yang, sebagai contoh, memuat butir-butir berikut untuk MOV (Velandia-González dkk, 2015):

Terkait petugas kesehatan:

  • Petugas mengatakan anak sudah divaksinasi, atau sudah lengkap vaksinasinya, atau belum waktunya divaksinasi.
  • Petugas kesehatan tidak menanyakan/menawarkan.
  • Petugas mengatakan tidak bisa divaksinasi karena anaknya sakit (tulis kontraindikasi yang disebutkan petugas).
  • Lainnya (sebutkan): ______________________

Terkait pengasuh:

  • Pada waktu divaksinasi terakhir anak menjadi sakit/ada reaksinya.
  • Tidak diperbolehkan agama saya.
  • Pengalaman negatif anggota keluarga atau kenalan.
  • Saya meragukan vaksin/petugas pelayanan kesehatan.
  • Saya lupa/tidak punya waktu.
  • Vaksin tidak diperlukan/Saya tidak percaya vaksin.
  • Vaksin mengandung bahan-bahan berbahaya.
  • Vaksinasi sudah lengkap.
  • Bukan tujuan kunjungan.
  • Lainnya (sebutkan): ______________________

Terkait sarana kesehatan:

  • Tidak ada vaksin.
  • Tidak ada alat vaksinasi.
  • Bukan hari vaksinasi.
  • Tempat vaksinasi tutup.
  • Petugas vaksinasi tidak ada.
  • Antrean panjang.
  • Petugas kurang ramah.
  • Jam vaksinasi dibatasi.
  • Lainnya (sebutkan): ______________________

Kepada pengasuhnya, dan kepada pengunjung tanpa balita, juga dapat ditanyakan hal-hal yang berkaitan dengan MOV untuk orang dewasa atau MOC. Sebaiknya butir-butir daftar tilik MOV dan MOC (atau MO-MO yang lain) disusun bersama dengan seluruh staf terkait dari sarana kesehatan yang bersangkutan dan exit poll dilakukan secara berkala. Petugas yang melakukan survei singkat ini digilir, termasuk dokter dan bidan, supaya setiap petugas  dapat mendengar sendiri apa yang dipikirkan pengunjung sarana kesehatan.

Hasil poll ini kemudian diringkas dalam bentuk persen untuk masing-masing alasan MOV/MOC atau dalam bentuk diagram/peta tunjuk (spot map) untuk alasan-alasan yang terkait dengan pengunjung. Seluruh staf terkait pelayanan vaksinasi dan kontrasepsi diikutsertakan dalam merancang tindakan-tindakan koreksi, pelaksanaannya dan MonEv. Koreksi berupa: (a) supervisi/pelatihan ditempat untuk penyebab MO yang berkaitan petugas; (b) promkes untuk penyebab MO yang berkaitan dengan pengunjung; dan (c) perbaikan kebijakan/logistik untuk penyebab MO yang berkaitan dengan sarana kesehatan. Sebagai contoh, dari peta-tunjuk dapat diketahui di dusun/desa mana terkonsentrasi pengunjung yang memberi alasan “Tidak diperbolehkan agama saya”. Petugas PromKes/Humas sarana kesehatan dapat mendekati ulama terkait di dusun/desa tersebut dan mensosialisasi kegiatan vaksinasi dan kontrasepsi. Diagram distribusi pengunjung dewasa menurut umur dan jenis kelamin digunakan untuk merencanakan materi dan metoda penyuluhan kesehatan tentang vaksinasi dan kontrasepsi yang sesuai dengan ciri-ciri sasarannya.

 

Rujukan

 Jadual Imunisasi 2017. Diunduh 22 Desember 2017 dari http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-2017

Velandia-González, M., Trumbo, S. P., Díaz-Ortega, J. L., Bravo-Alcántara, P., Danovaro-Holliday, M. C., Dietz, V., & Ruiz-Matus, C. (2015). Lessons learned from the development of a new methodology to assess missed opportunities for vaccination in Latin America and the Caribbean. BMC international health and human rights15(1), 5.

 

 

 

“C” dari PICO menunjuk kepada Comparison atau Control?

Akronim PICO dapat digunakan untuk mengidentifikasi kata-kata kunci pencarian makalah-makalah systematic review (SR) dan makalah-makalah penelitian empirik (PE) dan untuk merumuskan hipotesis penelitian. “P” menunjukkan populasi unit analisis yang diteliti; “I” menandakan  intervensi yang dilakukan peneliti (suatu tindakan penatalaksanaan kasus perorangan atau masyarakat) atau pemaparan terhadap intervensi yang dilakukan pihak lain atau alam; “C” menyatakan comparison, yaitu intervensi biasanya/lain sebagai pembanding; dan, “O” melambangkan outcome, atau hasil yang berkaitan dengan intervensi. Karena tidak menggunakan kelompok pembanding ada peneliti yang menganggap “C” tidak relevant. Misalnya, Oliveira, dkk. (2016) menyatakan dalam penelitian pustakanya bahwa “The element C from the PICO strategy has not been addressed in this research, as this is not intended to compare interventions”.

Karena kelompok pembanding digunakan untuk mengontrol (= meniadakan variasi nilai)  variabel-variabel moderator, dan karena ada cara-cara lain yang dapat digunakan untuk mengendalikan variabel-variabel tersebut (e.g., kriteria inklusi, stratifikasi, matching), lebih baik huruf “C” dari singkatan PICO menunjukkan Control. Intervensi pada penelitian eksperimen menggunakan kelompok pembanding yang biasanya berskala diskrit (i.e., X1 dan X0) dan pada RCT disertai dengan penempatan secara acak ke kelompok intervensi dan kelompok kontrol  dengan/tanpa pre-test. Pada penelitian Oliveira dkk variabel “I” (= beban kerja perawat”) berskala kontinu dan mereka seharusnya menjelaskan “C” (metoda kontrol) yang digunakan untuk mengendalikan variabel-variabel moderator. Jika tidak dikendalikan korelasi antara “I” dan “O” mungkin semu (merancukan hubungan yang sesungguhnya antara suatu situasi/kondisi dari unit analisis dan “O”). Alternatifnya, ialah ikut memperhitungkan pengaruh moderator-moderator (analisis multivariat), yang memerlukan ukuran populasi/sampel yang lebih besar namun mempunyai validitas luar yang lebih tinggi.

Ada peneliti yang menambahkan simbol “T” di belakang akronim PICO. Huruf T ini sebaiknya tidak digunakan untuk mewakili “Time”, karena kalau itu dimaksudkan untuk menunjukkan selang waktu antara Intervensi dan Outcome maka variabel-variabel perancu yang ditimbulkannya (i.e., History, Maturation, Testing dan Instrumentation) dikendalikan oleh kelompok pembanding (i.e., Control atau Comparison, yang dapat diwakili oleh huruf “C). Atau, kalau itu dimaksudkan untuk menunjukkan lamanya intervensi maka variabel waktu merupakan bagian dari konstruk Intervention. Sebaiknya huruf “T” digunakan untuk menandakan “Theory”, karena untuk menjelaskan proses atau alasan hubungan antara I dan O diperlukan suatu teori.

Rujukan:

Oliveira AC, Garcia PC, Nogueira LS. Nursing workload and occurrence of adverse events in intensive care: a systematic review. Rev Esc Enferm USP. 2016;50(4):679-689. DOI: http://dx.doi.org/10.1590/S0080-623420160000500020

Riva, J. J., Malik, K. M. P., Burnie, S. J., Endicott, A. R., & Busse, J. W. (2012). What is your research question? An introduction to the PICOT format for clinicians. The Journal of the Canadian Chiropractic Association56(3), 167–171.

 

Tanggapan dari Prof. Dr. Mohammad Hakimi:

Sepengetahuan saya yang dimaksudkan dengan C dalam PICO adalah “Comparison” atau “Comparator“. Kalau untuk terapi memang fungsinya lebih ke arah “Control” tetapi dalam uji diagnositik, misalnya, lebih tepat sebagai pembanding (reference standard). Dalam evidence tentang prognosis kadang-kadang memang tidak diperlukan pembanding.

Penyesuaian bentuk dan isi Tesis dan Disertasi

Bentuk serta isi tesis dan disertasi sebaiknya disesuaikan dengan hasil yang ingin diperoleh – (1) publikasi sebelum penelitian empirik (PE) selesai; dan, (2) PE yang mempunyai nilai tambah. Ada banyak penerbit berkala ilmiah terandal yang bersedia memuat laporan telaah pustaka tentang proposisi yang menarik (i.e., tentang kerangka konsep dari intervensi yang praktis dan mempunyai landasan teori yang valid), yang menggunakan rancangan serta metoda yang kokoh, dan yang dilaksanakan secara seksama. Penelitian yang dilakukan sendiri juga akan makin besar kemungkinannya untuk diterima penerbit jika, selain memenuhi tiga syarat di atas, berhasil memecahkan sebagian atau seluruh masalah penelitian yang masih terdeteksi oleh penelitian pustaka PE terkini yang dilakukan secara sistematis. Jika sudah ada telaah pustaka sistematik tentang hubungan-hubungan yang sama, peneliti yang sekarang dapat melanjutkannya jika telaah pustaka tersebut bermutu.

Mengingat dua hasil yang akan dicapai tersebut sebaiknya Bab II dari (proposal) tesis dan disertasi khusus membahas “Penelitian Pustaka” dan Bab III khusus menguraikan “Penelitian Empirik”. Bab “Penelitian  Pustaka” t.a.: (1) Kerangka konsep sederhana* (untuk mengidentifikasi kata-kata kunci) dan kriteria inklusi lain (misalnya, lingkup tahun publikasi, bahasa, sumber pustaka, metoda pelacakan, termasuk gray literature/tidak, menggunakan rancangan penelitian tertentu) yang digunakan untuk mengarahkan penjaringan pustaka PE; (2) Metoda yang digunakan untuk menjaring dan menyaring pustaka PE; (3) Kriteria dan metoda critical appraisal pustaka PE yang lolos penyaringan; (4) Mensintesis hasil penelitian PE yang lolos penilaian kritis secara kualitatif dan, kalau PE-PEnya cukup homogen, secara kuantitatif (meta analisis); (5) Pelaksanaan dan Hasil penelitian pustaka; dan, (6) Kesimpulan tentang Effect Size gabungan dan saran untuk PE selanjutnya. Karena tujuan penelitian tesis** menguji teori, penelitian pustaka sebaiknya tentang hubungan prediktor–kriterion dan tentang hubungan prediktor-landasan teori-kriterion. Karena tujuan penelitian disertasi** mengembangkan teori, penelitian pustaka sebaiknya didahului pemetaan teori-teori yang digunakan peneliti-peneliti PE sebelumnya.

Bab “Penelitian Empirik” t.a.: (1) Kerangka konsep lengkap yang, selain memperlihatkan konstruk-konstruk prediktor dan kriterion, juga memperlihatkan konstruk-konstruk moderator (situasi dan kondisi unit analisis yang memoderasi hubungan prediktor-kriterion) dan mediator (landasan teori yang digunakan untuk menjelaskan hubungan prediktor-kriterion). Masing-masing konstruk ini dilengkapi dengan demensi-demensi dan variabel-variabelnya; (2) Rancangan dan Metoda pengumpulan, pengolahan dan penafsiran data; (3) Pelaksanaan dan Hasil PE; dan, (5) Kesimpulan tentang hipotesis penelitian dan saran untuk PE selanjutnya jika hubungan prediktor-kriterion tidak bermakna atau pengujian hipotesis penelitian masih bermasalah.

Hasil penelitian pustaka dapat digunakan untuk melengkapi Bab I (Pendahuluan). Selain masalah praktis yang dihadapi praktisi, peneliti sekarang dapat menambahkan di bagian latar belakang rekam jejak upaya memecahkan masalah penelitian. Alasan mempertanyakan hubungan prediktor-kriterion dan hubungan prediktor-landasan teori-kriterion, serta apa yang (akan) diupayakan untuk memperkuat pembuktian hubungan-hubungan tersebut dan apa manfaatnya, juga menjadi lebih spesifik. Kebaruan, atau nilai tambah, penelitian dapat dikemukakan dengan lebih spesifik dan lebih obyektif. Bab IV konvensional tidak diperlukan lagi karena hasil, kesimpulan dan saran dari penelitian pustaka dan penelitian empirik sudah dikemukakan di masing-masing bab. Informasi yang dimuat di Bab I dan Bab II dapat digunakan untuk menulis naskah publikasi systematic review, atau naskah proposalnya (systematic review protocol) dapat didaftarkan pada dan dipublikasi oleh organisasi yang diakui (e.g., PROSPERO, Cochrane Library of Systematic Reviews, Joanna Briggs Institute). Informasi yang ditulis di Bab I dan Bab III dapat digunakan untuk menyusun naskah publikasi empirical research.

Keterangan:

*) Contoh, PICO yang menunjukkan konstruk prediktor (intervensi/exposure) dan konstruk kriterion (outcome) pada populasi unit analisis (yang dibagi menjadi dua atau lebih kelompok intervensi dan kelompok kontrol).

**) Tentang perbedaan skripsi, tesis dan disertasi lihat tulisan https://rossisanusi.wordpress.com/metoda-penelitian/skripsi-tesis-disertasi-apa-bedanya/