<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Rossi Sanusi</title>
	<atom:link href="http://rossisanusi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rossisanusi.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Jan 2012 11:54:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='rossisanusi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/32bfaf84a19a4e249cbbda3754578fe8?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Rossi Sanusi</title>
		<link>http://rossisanusi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://rossisanusi.wordpress.com/osd.xml" title="Rossi Sanusi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://rossisanusi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Memikir Belajar Berpikir</title>
		<link>http://rossisanusi.wordpress.com/2012/01/22/memikir-belajar-berpikir/</link>
		<comments>http://rossisanusi.wordpress.com/2012/01/22/memikir-belajar-berpikir/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 22:30:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rossi Sanusi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Management]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[Chris Argyris]]></category>
		<category><![CDATA[Donald Schon]]></category>
		<category><![CDATA[Double-Loop Learning]]></category>
		<category><![CDATA[Single-Loop Learning]]></category>
		<category><![CDATA[Taxonomy Bloom yang direvisi]]></category>
		<category><![CDATA[Triple-Loop Learning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rossisanusi.wordpress.com/?p=1168</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Ia yang belajar tetapi tidak berpikir, tersesat. Ia yang berpikir tetapi tidak belajar, dalam bahaya besar. – Confucius (551-479 AD, Filsuf) Ungkapan “belajar tetapi tidak berpikir” dalam kata-kata mutiara di atas dapat disamakan dengan konsep Single-Loop Learning dari Chris Argyris &#8230; <a href="http://rossisanusi.wordpress.com/2012/01/22/memikir-belajar-berpikir/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rossisanusi.wordpress.com&amp;blog=8108433&amp;post=1168&amp;subd=rossisanusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:left;" align="right">&#8220;Ia yang belajar tetapi tidak berpikir, tersesat. Ia yang berpikir tetapi tidak belajar, dalam bahaya besar. – Confucius (551-479 AD, Filsuf)</p>
<p>Ungkapan “belajar tetapi tidak berpikir” dalam kata-kata mutiara di atas dapat disamakan dengan konsep <em>Single-Loop Learning </em>dari Chris Argyris dan Donald Schön (<a href="http://www.infed.org/thinkers/">http://www.infed.org/thinkers/</a>). Seorang dokter, misalnya, dapat “belajar” hal-hal berikut tentang bagaimana tampil-kerjanya dalam menatalaksana kasus: (1) apakah sudah sesuai standard (i.e., suatu protap, kebijakan, atau norma); (2) jika menyimpang dari standard yang dimaksud, apakah penyimpangannya merupakan suatu kekurangan (i.e., tidak mempunyai alasan yang kuat); (3) jika merupakan kekurangan, apa akar penyebabnya dan apa tindakan koreksinya; dan, (4) jika ia sudah melaksanakan tindakan koreksi, apakah tampil-kerjanya sudah memenuhi standard. Belajar seperti ini tidak cukup, karena akan menyebabkan sang dokter “tersesat” – tersesat dalam arti ia sekedar tahu apakah benar telah melaksanakan upaya kesehatan perorangan sesuai standard, namun tidak tahu apakah standard tersebut benar. Ia juga tersesat dalam arti ia hanya berputar-putar mengikuti siklus langkah-langkah (1) sampai (4) yang sama.</p>
<p>Supaya tidak tersesat Confucius menganjurkan supaya kita “berpikir”, yaitu mempertanyakan kebenaran dari standard. Namun, mempertanyakan kebenaran suatu standard diagnosis atau terapi, dan kemudian merubahnya, tanpa mengevaluasi standard yang lama dan menciptakan standard yang baru secara valid dapat “berbahaya” – berbahaya dalam arti sang dokter dapat menyangkal suatu standard yang mungkin benar dan menggantikannya dengan standard yang mungkin tidak benar. Keseluruhan kata-kata mutiara di atas dapat disamakan dengan konsep <em>Double-Loop Learning </em>dari Argyris dan Schön. Pada siklus pertama seseorang dokter belajar mengikuti standard penatalaksanaan kasus, yaitu memperoleh pengetahuan (i.e., mengingat dan memahami) dan memperdalam pengetahuan (i.e., menerapkan dan menganalisis) tentang <em>Evidence-Based Medicine </em>(EBM). Pada siklus kedua ia belajar menyempurnakan standard penatalaksanaan kasus, yaitu menciptakan pengetahuan (i.e., mengevaluasi dan menciptakan) tentang EBM. Menurut taxonomy belajar Bloom yang direvisi, mengevaluasi dan menciptakan merupakan kegiatan belajar yang paling tinggi tingkatannya. (<a href="http://www.unco.edu/cetl/sir/stating_outcome/documents/Krathwohl.pdf">http://www.unco.edu/cetl/sir/stating_outcome/documents/Krathwohl.pdf</a>)</p>
<p>Perguruan tinggi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebaiknya dijadikan organisasi pembelajaran di mana belajar dua-siklus tersebut dapat berkembang. Tidak hanya bagi mahasiswa kedokteran dan dokter tetapi juga bagi seluruh staf jabatan fungsional; dan, tidak hanya dalam hal EBM (atau <em>Evidence-Based </em>bidang ilmu profesi kesehatan yang lain) tetapi juga dalam hal <em>Evidence-Based Public Health </em>(i.e., Surveilans-Respons dan pencegahan primordial). Supaya dapat menjadi oganisasi pembelajaran staf struktural mempunyai siklus belajar yang khusus, yang terdiri dari mengevaluasi dan menciptakan pengalaman-pengalaman belajar tentang <em>Evidence-Based Education/Evidence-Based Health Care. </em>Berbagai pengalaman-pengalaman belajar (yang terdiri dari berbagai praktek, kebijakan dan norma pengajaran/pelayanan) sebaiknya dievaluasi dan disempurnakan secara terus-menerus. Jadi, di PT dan DinKes ada <em>Triple-Loop Learning, </em>yaitu <em>Double-Loop Learning </em>organisasi tentang <em>Double-Loop Learning </em>mahasiswa/staf fungsional.</p>
<p align="right">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rossisanusi.wordpress.com/1168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rossisanusi.wordpress.com/1168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rossisanusi.wordpress.com/1168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rossisanusi.wordpress.com/1168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rossisanusi.wordpress.com/1168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rossisanusi.wordpress.com/1168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rossisanusi.wordpress.com/1168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rossisanusi.wordpress.com/1168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rossisanusi.wordpress.com/1168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rossisanusi.wordpress.com/1168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rossisanusi.wordpress.com/1168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rossisanusi.wordpress.com/1168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rossisanusi.wordpress.com/1168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rossisanusi.wordpress.com/1168/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rossisanusi.wordpress.com&amp;blog=8108433&amp;post=1168&amp;subd=rossisanusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rossisanusi.wordpress.com/2012/01/22/memikir-belajar-berpikir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dc5ebf75e7e481ac640672b53e1f7bed?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rossi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penelitian Imitasi</title>
		<link>http://rossisanusi.wordpress.com/2012/01/15/penelitian-imitasi/</link>
		<comments>http://rossisanusi.wordpress.com/2012/01/15/penelitian-imitasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jan 2012 21:49:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rossi Sanusi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penelitan]]></category>
		<category><![CDATA[Exact Replication]]></category>
		<category><![CDATA[Falsifikasi Teori]]></category>
		<category><![CDATA[Peer Review Failure]]></category>
		<category><![CDATA[Pengembangan Teori]]></category>
		<category><![CDATA[Plagiarisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rossisanusi.wordpress.com/?p=1154</guid>
		<description><![CDATA[“Keaslian adalah plagiarisme yang tidak terdeteksi”. William Ralph Inge (1860-1954, Penulis) Banyak dosen dan editor berkala ilmiah mempermasalahkan penelitian imitasi karena dianggap tidak “asli” atau tidak bermanfaat untuk pengembangan teori. Penelitian imitasi adalah penelitian replikasi yang menggunakan proposisi dan rancangan &#8230; <a href="http://rossisanusi.wordpress.com/2012/01/15/penelitian-imitasi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rossisanusi.wordpress.com&amp;blog=8108433&amp;post=1154&amp;subd=rossisanusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">“Keaslian adalah plagiarisme yang tidak terdeteksi”.</p>
<p align="right">William Ralph Inge (1860-1954, Penulis)</p>
<p>Banyak dosen dan editor berkala ilmiah mempermasalahkan penelitian imitasi karena dianggap tidak “asli” atau tidak bermanfaat untuk pengembangan teori. Penelitian imitasi adalah penelitian replikasi yang menggunakan proposisi dan rancangan yang persis sama seperti yang digunakan penelitian sebelumnya. (Sebutan lain untuk penelitian imitasi: <em>exact replication, precise replication, strict replication</em>). Sebagai contoh, naskah beberapa peneliti yang mengimitasi penelitian Daryl Bem, seorang peneliti psikologi ternama, tentang prekognisi (i.e., penentuan pilihan saat ini dipengaruhi kejadian dikemudian hari) ditolak oleh penerbit <cite>Journal of Personality and Social Psychology</cite> berdasarkan alasan-alasan tersebut. Berkala terkemuka ini, yang ditelaah sejawat (<em>peer-reviewed</em>), sebelumnya memuat laporan penelitian Bem yang menyimpulkan bahwa hasil penelitiannya mendukung hipotesis prekognisi. Penelitian-penelitian replikasi yang menyusul tentang proposisi yang sama menyimpulkan sebaliknya dan beberapa pihak menganggap perbedaan pendapat ini sebagai suatu kegagalan telaah sejawat (<em>peer review failure</em>). (<a href="http://www.sciencebasedmedicine.org/index.php/the-value-of-replication/">http://www.sciencebasedmedicine.org/index.php/the-value-of-replication/</a>)</p>
<p>Sebenarnya melakukan penelitian imitasi, bahkan yang diulang di tempat yang sama dengan subyek-subyek yang sama, dapat “asli” dan berguna untuk pengembangan teori. Laporan penelitian imitasi, seperti laporan semua jenis penelitian yang lain, dinilai “tidak asli” jika terdeteksi memuat informasi atau data hasil pemalsuan, perékaan, atau penjiplakan (tulisan atau gagasan) oleh si peneliti. Penelitian imitasi “asli” yang dilakukan dengan benar diperlukan untuk falsifikasi teori. Artinya, penelitian imitasi dapat menyangkal suatu teori yang didukung oleh penelitian-penelitian sebelumnya jika hasil penelitian imitasi tersebut tidak mendukung proposisi(-proposisi) yang menyusun teori yang bersangkutan. Jadi, yang sebaiknya diperhatikan ialah kriteria kelayakan penelitian imitasi: (1) berada di garis depan dari perkembangan suatu teori yang praktis (yaitu, yang bermanfaat untuk memecahkan masalah kehidupan nyata); dan, (2) proposisi-proposisi yang menyusun teori tersebut belum dapat digugurkan oleh penelitian-penelitian sebelumnya dengan rancangan yang kuat (i.e., dengan metoda pengumpulan, pengolahan dan penafsiran data yang valid).</p>
<p>Penelitian Daryl Bem (<a href="http://dbem.ws/FeelingFuture.pdf">http://dbem.ws/FeelingFuture.pdf</a>) sebenarnya tidak layak untuk diimitasi jika kedua kriteria di atas digunakan. Tidak ada teori praktis yang secara eksplisit memayungi proposisi yang dikaji; dan, proposisi yang bersangkutan telah digugurkan oleh Eric-Jan Wagenmakers dkk. dengan metoda pengolahan data yang lebih valid. (<a href="http://caps.ucsf.edu/wordpress/wp-content/uploads/2011/02/bem2011comments.pdf">http://caps.ucsf.edu/wordpress/wp-content/uploads/2011/02/bem2011comments.pdf</a>) Ada yang berpendapat bahwa teori eksplisit tidak diperlukan di dalam suatu penelitian. Namun, jika seorang  peneliti ingin mengembangkan teori ia sebaiknya memeriksa terlebih dahulu apakah semua proposisi yang dikandungnya sudah diteliti dengan rancangan yang kuat. Dengan peta atau rekam-jejak proposisi yang lengkap semua pihak (peneliti, dosen, penelaah, editor) dapat mengidentifikasi proposisi yang belum diteliti, yang sudah diteliti dengan rancangan yang lemah dan yang sudah diteliti dengan rancangan yang kokoh. Penelitian proposisi golongan yang terakhir ini yang perlu diimitasi. Falsifikasi dari proposisi(-proposisi)  ini menandakan bahwa perubahan diperlukan pada letak dan isi dari proposisi-proposisi, konstruk-konstruk atau variabel-variabel.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rossisanusi.wordpress.com/1154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rossisanusi.wordpress.com/1154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rossisanusi.wordpress.com/1154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rossisanusi.wordpress.com/1154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rossisanusi.wordpress.com/1154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rossisanusi.wordpress.com/1154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rossisanusi.wordpress.com/1154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rossisanusi.wordpress.com/1154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rossisanusi.wordpress.com/1154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rossisanusi.wordpress.com/1154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rossisanusi.wordpress.com/1154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rossisanusi.wordpress.com/1154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rossisanusi.wordpress.com/1154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rossisanusi.wordpress.com/1154/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rossisanusi.wordpress.com&amp;blog=8108433&amp;post=1154&amp;subd=rossisanusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rossisanusi.wordpress.com/2012/01/15/penelitian-imitasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dc5ebf75e7e481ac640672b53e1f7bed?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rossi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menemukan Kasus TB Paru Tersembunyi</title>
		<link>http://rossisanusi.wordpress.com/2011/12/28/menemukan-kasus-tb-paru-tersembunyi/</link>
		<comments>http://rossisanusi.wordpress.com/2011/12/28/menemukan-kasus-tb-paru-tersembunyi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2011 17:47:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rossi Sanusi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengendalian Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Active Case Finding]]></category>
		<category><![CDATA[Beban HIV]]></category>
		<category><![CDATA[Beban MDR-TB]]></category>
		<category><![CDATA[Beban TB]]></category>
		<category><![CDATA[Case Holding]]></category>
		<category><![CDATA[General Check-up]]></category>
		<category><![CDATA[MDGs]]></category>
		<category><![CDATA[Screening]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rossisanusi.wordpress.com/?p=871</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;a large number of people at a small risk may give rise to more cases of disease than the small number who are at high risk&#8221; Geoffrey Rose (1926-1993, Epidemiologist, London School of Hygiene &#38; Tropical Medicine) Yang dimaksud dengan &#8230; <a href="http://rossisanusi.wordpress.com/2011/12/28/menemukan-kasus-tb-paru-tersembunyi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rossisanusi.wordpress.com&amp;blog=8108433&amp;post=871&amp;subd=rossisanusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:right;"><em>&#8220;a large number of people at a small risk may give rise to more cases of disease than the small number who are at high risk&#8221; </em></p>
<p style="text-align:right;">Geoffrey Rose (1926-1993, Epidemiologist, London School of Hygiene &amp; Tropical Medicine)<em><br />
</em></p>
<p>Yang dimaksud dengan kasus TB paru tersembunyi ialah penderita tuberkulosis paru aktif (i.e., yang jika diperiksa secara bakteriologis akan memberikan hasil TB positif) tetapi yang tidak atau belum ditemukan tenaga kesehatan. Ada tiga jenis kasus seperti ini: (A) penderita yang menunjukkan gejala klinik tetapi tidak mengunjungi Sarana Pelayanan Kesehatan (SPK) karena yang bersangkutan tidak tahu, tidak mampu atau tidak mau; (B) penderita yang mengunjungi SPK tetapi tidak terdeteksi menderita TB paru aktif walaupun menunjukkan gejala klinik; dan, (C) penderita yang telah dideteksi dan diobati petugas kesehatan tetapi kemudian menghilang dan tidak melanjutkan pengobatan. Kasus jenis B dapat terjadi karena petugas SPK tidak mampu menghasilkan hasil pemeriksaan bakteriologis yang positif TB (i.e., negatif palsu TB) karena kesalahan mendapatkan sediaan dahak, membuat sediaan apus atau meriksa secara mikroskopik. Kasus jenis B juga dapat terjadi karena petugas menganggap penderita yang bersangkutan tidak memenuhi syarat untuk diperiksa secara bakteriologis, terutama karena petugas terlampau ketat menerapkan batas lama batuk-batuk. Ada penelitian yang menunjukkan bahwa jika penderita-penderita dengan lama batuk-batuk di atas dan di bawah batas dua minggu diperiksa secara bakteriologis persentase jumlah yang positif TB tidak akan berbeda. (<a href="http://www.biomedcentral.com/1472-6963/9/112">http://www.biomedcentral.com/1472-6963/9/112</a>)</p>
<p>Kasus-kasus TB tersembunyi ini sebaiknya dilacak secara proaktif sebab penderita TB paru aktif yang tidak diobati mempunyai potensi menularkan penyakit TB paru kepada 10 – 15 orang lain per tahun melalui udara pada saat berbicara, bersin, batuk atau meludah. (<a href="http://www.who.int/features/qa/08/en/index.html">http://www.who.int/features/qa/08/en/index.html</a>) Yang perlu mendapat perhatian khusus ialah kasus jenis C karena mereka mempunyai potensi untuk menyebarkan kuman TB yang resisten terhadap obat-obat anti TB. Kasus-kasus TB tersembunyi  dapat ditemukan di tempat-tempat atau keadaan-keadaan di mana mereka kemungkinan besar dapat ditemukan, yaitu di kantong-kantong miskin di pulau Jawa, daerah-daerah tertinggal di luar pulau Jawa, pemukiman-pemukiman kumuh di kota-kota besar, sekolah-sekolah, asrama-asrama, tempat-tempat penitipan anak, tempat pekerjaan (terutama yang memperkerjakan buruh berpenghasilan rendah, PSK, tenaga kesehatan) dan penjara. Mereka juga dapat dijaring pada waktu melamar pekerjaan (terutama guru, pengasuh anak, pembantu rumah tangga), mendaftarkan diri masuk sekolah, mengajukan ijin imigrasi masuk dari negara-negara prevalensi tinggi dan ke luar negeri untuk bekerja sebagai buruh atau pembantu, melamar transmigrasi, dan pada saat pemeriksaan kesehatan tahunan di tempat kerja.</p>
<p>Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebaiknya mengadakan pogram khusus untuk menemukan kasus-kasus TB tersembunyi melalui kegiatan-kegiatan <em>active case finding, screening </em>dan <em>general check-up</em> yang terandal. Kegiatan-kegiatan menemukan kasus ini, yang melibatkan seluruh SPK pemerintah maupun swasta dan yang disosialisasikan lintas sektor, sebaiknya dilakukan secara bertahap dan disertai dengan meningkatkan kemampuan SPK-SPK untuk mempertahankan kasus (<em>case holding</em>)<em> </em>sampai sembuh. DinKes Kab/Kota juga dapat melibatkan pengurus kelurahan atau desa dalam menggerakkan masyarakat untuk membantu di dalam upaya penemuan dan mempertahankan kasus. (<a href="http://www.plosone.org/article/info%3Adoi%2F10.1371%2Fjournal.pone.0005443">http://www.plosone.org/article/info%3Adoi%2F10.1371%2Fjournal.pone.0005443</a>)</p>
<p>Kita jangan terlena dengan keberhasilan mencapai MDG Target 6.c. Menurut laporan Bappenas tahun 2010 Indonesia telah menacapai “peningkatan penemuan kasus tuberkulosis dari 20,0 persen pada tahun 2000 menjadi 73,1 persen pada tahun 2009, dari target 70,0 persen; dan penurunan prevalensi tuberkulosis dari 443 kasus pada 1990 menjadi 244 kasus per 100.000 penduduk pada tahun tahun 2009”. (<a href="http://www.bappenas.go.id/node/118/2814/peta-jalan-percepatan-pencapaian-tujuan-pembangunan-milenium-di-indonesia/">http://www.bappenas.go.id/node/118/2814/peta-jalan-percepatan-pencapaian-tujuan-pembangunan-milenium-di-indonesia/</a>) Perlu  diingat bahwa Indonesia masih termasuk di antara 22 negera dengan beban TB tinggi, beban HIV tinggi dan beban MDR-TB tinggi. (<a href="http://www.who.int/tb/publications/global_report/2011/gtbr11_full.pdf">http://www.who.int/tb/publications/global_report/2011/gtbr11_full.pdf</a>)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rossisanusi.wordpress.com/871/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rossisanusi.wordpress.com/871/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rossisanusi.wordpress.com/871/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rossisanusi.wordpress.com/871/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rossisanusi.wordpress.com/871/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rossisanusi.wordpress.com/871/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rossisanusi.wordpress.com/871/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rossisanusi.wordpress.com/871/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rossisanusi.wordpress.com/871/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rossisanusi.wordpress.com/871/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rossisanusi.wordpress.com/871/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rossisanusi.wordpress.com/871/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rossisanusi.wordpress.com/871/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rossisanusi.wordpress.com/871/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rossisanusi.wordpress.com&amp;blog=8108433&amp;post=871&amp;subd=rossisanusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rossisanusi.wordpress.com/2011/12/28/menemukan-kasus-tb-paru-tersembunyi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dc5ebf75e7e481ac640672b53e1f7bed?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rossi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Efek MacGyver atau Efek Dr Seuss dalam Penelitian Pelayanan Kesehatan?</title>
		<link>http://rossisanusi.wordpress.com/2011/12/25/efek-macgyver-atau-efek-dr-seuss-dalam-penelitian-pelayanan-kesehatan/</link>
		<comments>http://rossisanusi.wordpress.com/2011/12/25/efek-macgyver-atau-efek-dr-seuss-dalam-penelitian-pelayanan-kesehatan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2011 12:10:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rossi Sanusi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Management]]></category>
		<category><![CDATA[Penelitan]]></category>
		<category><![CDATA[Badan LitBang KemenKes]]></category>
		<category><![CDATA[Dr Seuss]]></category>
		<category><![CDATA[MacGyver Effect]]></category>
		<category><![CDATA[Peneliti Akademik]]></category>
		<category><![CDATA[Penelitian Pelayanan Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rossisanusi.wordpress.com/?p=868</guid>
		<description><![CDATA[Angus MacGyver adalah lakon utama dalam seri TV laga yang enggan menggunakan cara-cara kekerasan saat menghadapi bahaya. Karena pengetahuannya yang luas dalam bidang sains dia mampu menerapkan prinsip-prinsip sains dalam memecahkan masalah-masalah yang genting dengan bahan-bahan apa adanya. TV seri &#8230; <a href="http://rossisanusi.wordpress.com/2011/12/25/efek-macgyver-atau-efek-dr-seuss-dalam-penelitian-pelayanan-kesehatan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rossisanusi.wordpress.com&amp;blog=8108433&amp;post=868&amp;subd=rossisanusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Angus MacGyver adalah lakon utama dalam seri TV laga yang enggan menggunakan cara-cara kekerasan saat menghadapi bahaya. Karena pengetahuannya yang luas dalam bidang sains dia mampu menerapkan prinsip-prinsip sains dalam memecahkan masalah-masalah yang genting dengan bahan-bahan apa adanya. TV seri ini sangat digemari di berbagai negara antara tahun 1985 – 1992 dan nama MacGyver kemudian digunakan sebagai eponym untuk menunjukkan benda (<em>MacGyverism</em>) atau kerja (<em>to MacGyver</em>) yang berkaitan dengan penggunaan cara-cara ilmiah dengan sarana yang sederhana untuk memecahkan masalah-masalah yang sulit. Dalam makalah yang berjudul “The MacGyver effect: Alive and well in health services research?” Roshan Perera dan Helen Moriarty menggunakan ungkapan “<em>the MacGyver effect</em>” untuk menggambarkan upaya peneliti pelayanan kesehatan pada saat menghadapi tantangan dari pemesan (i.e., pengatur pelayanan kesehatan), pendana dan pemanfaat penelitian.</p>
<p>Perera dan Moriarty mengidentifikasi tiga “<em>MacGyver drivers</em>” dengan “<em>Mac Gyver effects”</em>nya  -  perbedaan budaya organisasi, keterbatasan dan pembatasan waktu, dan penguasaan hak milik dan kepemilikan intelektual. Hambatan yang pertama (agenda tersembunyi, pelaporan dan implementasi selektif, dan kesulitan mendapatkan informasi) diatasi dengan menonjolkan perbedaan budaya oganisasi, mencari dukungan publik, atau menunggu perubahan keadaan. Masalah yang kedua (penundaan pelaksanaan penelitian, perubahan jadual waktu dan anggaran selama penelitian berlangsung) dipecahkan dengan merundingkan sejak awal syarat-syarat penelitian yang dapat dipenuhi, menghentikan penelitian sebelum waktunya, menyepakati pencapaian tujuan-tujuan antara, memadukan metoda-metoda penelitian, bekerjasama dengan kelompok peneliti lain, atau menyerahkan sebagian hasil penelitian sambil menyelesaikan keseluruhannya. Rintangan yang ketiga (kepemilikan pendana, kewajiban merahasiakan data, pembatasan metoda sehingga tidak memenuhi syarat publikasi) ditanggulangi dengan menggunakan saluran lain untuk meningkatkan keseksamaan pengetahuan dan metoda, menuntut pengakuan sumber, atau menyimpan data untuk publikasi atau penggunaan di kemudian hari. (<a href="http://www.biomedcentral.com/content/pdf/1472-6963-11-226.pdf">http://www.biomedcentral.com/content/pdf/1472-6963-11-226.pdf</a>; <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/MacGyver">http://en.wikipedia.org/wiki/MacGyver</a>)</p>
<p>Cara-cara menyelesaikan pertentangan antara peneliti di satu pihak (yang ingin meningkatkan validitas kesimpulan penelitian) dan pemesan, pendana dan pemanfaat di pihak lain (yang ingin memperoleh hasil yang bermanfaat untuk kebijakan dan implementasi pelayanan kesehatan dalam waktu yang sesingkatnya) yang dikemukakan kedua penulis tersebut di atas mungkin tidak sepenuhnya memenuhi syarat untuk disebut sebagai efek MacGyver karena lebih merupakan kompromi pragmatis dari pada penerapan kaidah-kaidah ilmu-ilmu perilaku dan sosial. Pertentangan antara kedua belah pihak juga tidak perlu terjadi jika peneliti bersikap seperti Dr Seuss.</p>
<p>Dr Seuss, nama samaran dari Theodor<strong> </strong>Seuss Geisel (1904-1991), adalah seorang penulis buku anak-anak. Melalui cerita-cerita yang penuh gairah, sajak-sajak yang jenaka, kata-kata yang “<em>kids-friendly</em>”, dan gambar-gambar yang aneh ia berhasil membuat anak-anak gemar membaca materi yang berisi pesan-pesan yang berbobot (e.g., masalah lingkungan, komersialisme, individualisme). Lebih dari 200 juta bukunya, dari 44 judul dan dalam lebih dari 15 bahasa, terjual di seluruh dunia. Bahkan tanggal lahirnya, 2 Maret, dijadikan hari nasional <em>Read Across America.</em> Yang menarik ialah komentar isterinya, Helen: “Ted tidak duduk dan menulis untuk anak-anak. Dia menulis apa yang menarik bagi dirinya. Secara kebetulan apa yang memikat perhatiannya juga memikat perhatian mereka”. Dan menurut Dr Seuss: “Anak-anak menginginkan hal-hal yang sama seperti yang kita inginkan. Tertawa, ditantang, dihibur, dan disenangkan.&#8221; (<a href="http://core.ecu.edu/engl/hackettt/Odell.ppt">http://<strong>core.ecu.edu</strong>/engl/hackettt/Odell.ppt</a>; <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Dr._Seuss">http://en.wikipedia.org/wiki/Dr._Seuss</a>)</p>
<p>Seperti Dr Seuss peneliti akademik sebaiknya meneliti masalah-masalah pelayanan kesehatan yang memikat perhatiannya (e.g., deteksi penyakit yang lebih valid dan tindakan menanggulangi penyakit yang lebih efikasius pada masing-masing tahap perjalanan alamiah, surveilans dan respons kesehatan masyarakat yang lebih cepat dan tepat, cara pengelolaan sumberdaya untuk pengendalian penyakit yang lebih efektif dan efisien) tanpa harus mengikuti kehendak pihak pemesan atau pendana karena membutuhkan dana penelitian. Menyediakan sumberdaya yang memadai bagi para peneliti merupakan tanggungjawab pengelola perguruan tinggi.</p>
<p>Yang memikat perhatian peneliti dapat sama dengan yang memikat perhatian pemesan (i.e., KemenKes) jika: (1) peneliti menelusuri dan meneruskan rekam jejak dari teori-teori dan pengalaman-pengalaman empirik yang berkaitan dengan masalah pelayanan kesehatan yang diminatinya; dan, (2) Badan LitBang KemenKes menapis temuan-temuan dari para peneliti akademik dalam hal validitas dan relevansi, menguji-coba di lapangan kegiatan/program baru yang memanfaatkan temuan-temuan tersebut, dan memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan/program baru oleh UPT-UPT. Pendana yang berminat dapat memberikan sumberdaya kepada perguruan tinggi atau Badan LitBang KemenKes dalam bentuk uang, bahan, alat, atau tenaga ahli dan membiarkan mereka memutuskan sendiri apa yang memikat perhatian mereka masing-masing untuk diteliti di bidang pelayanan kesehatan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rossisanusi.wordpress.com/868/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rossisanusi.wordpress.com/868/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rossisanusi.wordpress.com/868/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rossisanusi.wordpress.com/868/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rossisanusi.wordpress.com/868/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rossisanusi.wordpress.com/868/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rossisanusi.wordpress.com/868/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rossisanusi.wordpress.com/868/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rossisanusi.wordpress.com/868/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rossisanusi.wordpress.com/868/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rossisanusi.wordpress.com/868/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rossisanusi.wordpress.com/868/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rossisanusi.wordpress.com/868/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rossisanusi.wordpress.com/868/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rossisanusi.wordpress.com&amp;blog=8108433&amp;post=868&amp;subd=rossisanusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rossisanusi.wordpress.com/2011/12/25/efek-macgyver-atau-efek-dr-seuss-dalam-penelitian-pelayanan-kesehatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dc5ebf75e7e481ac640672b53e1f7bed?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rossi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Model Percepatan Peningkatan Pelayanan Kesehatan untuk Mencapai MDGs</title>
		<link>http://rossisanusi.wordpress.com/2011/12/19/model-percepatan-peningkatan-pelayanan-kesehatan-untuk-mencapai-mdgs/</link>
		<comments>http://rossisanusi.wordpress.com/2011/12/19/model-percepatan-peningkatan-pelayanan-kesehatan-untuk-mencapai-mdgs/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2011 09:32:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rossi Sanusi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Management]]></category>
		<category><![CDATA[Pengendalian Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[BAPPENAS]]></category>
		<category><![CDATA[Millennium Development Goals]]></category>
		<category><![CDATA[Models for Scaling Up Health Services]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintahan Provinsi]]></category>
		<category><![CDATA[Rencana Aksi Daerah Percepatan Pencapaian MDGs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rossisanusi.wordpress.com/?p=857</guid>
		<description><![CDATA[Dalam makalah mereka yang berjudul “Do we have the right models for scaling up health services to achieve the Millennium Development Goals?”, yang terbit di BMC Health Services Research 2011, 11:336 (http://www.biomedcentral.com/1472-6963/11/336), Subramanian dkk. menulis bahwa pada umumnya negara-negara sedang &#8230; <a href="http://rossisanusi.wordpress.com/2011/12/19/model-percepatan-peningkatan-pelayanan-kesehatan-untuk-mencapai-mdgs/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rossisanusi.wordpress.com&amp;blog=8108433&amp;post=857&amp;subd=rossisanusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam makalah mereka yang berjudul “Do we have the right models for scaling up health services to achieve the Millennium Development Goals?”, yang terbit di <em>BMC Health Services Research </em>2011, <strong>11</strong>:336 (<a href="http://www.biomedcentral.com/1472-6963/11/336">http://www.biomedcentral.com/1472-6963/11/336</a>), Subramanian dkk. menulis bahwa pada umumnya negara-negara sedang berkembang menggunakan kerangka teori yang terlalu sederhana dan tidak memadai untuk mencapai MDGs sektor kesehatan, yang perhatiannnya lebih pada pencapaian angka-angka cakupan dan penurunan angka-angka kematian dibandingkan pada bagaimana melakukan percepatan peningkatan (<em>scaling up</em>). Menurut mereka banyak negera tidak akan mencapai sasaran tingkat pelayanan kesehatan menjelang tahun 2015 karena menganggap proses percepatan peningkatan sebagai replikasi intervensi-intervensi kesehatan tertentu (e.g., imunisasi, persalinan dibantu tenaga kesehatan terlatih, penatalaksanaan terpadu anak sakit) melalui suatu sistem pelayanan kesehatan (pada umumnya melalui sistem kesehatan kabupaten/kota) dengan memperbanyak titik pelayanan dan sumber-daya.</p>
<p>Berdasarkan telaah 102 makalah yang mengandung kerangka konsep percepatan peningkatan pelayanan kesehatan (i.e., identifikasi faktor-faktor saling terkait yang mempengaruhi outcome MDGs sektor kesehatan dan uraian proses peningkatan pelayanan kesehatan) mereka menemukan enam model. Keenam model ini kemudian dibandingkan dengan model-model yang dikembangkan setelah MDGs dideklarasikan pada tahun 2000 dari segi pengertian percepatan peningkatan, sumber-daya percepatan peningkatan, wawasan perencanaan, wawasan pelaksanaan, dan MonEv.</p>
<p>Model-model percepatan peningkatan pelayanan kesehatan pasca pencanangan MDGs, yang oleh Subramanian dkk. digunakan sebagai tolok ukur, juga tidak akan banyak membantu negara-negara untuk mencapai semua target pelayanan kesehatan pada waktunya. Ini disebabkan karena model-model tersebut, sama seperti keenam model yang dinilai, tidak menjelaskan bagaimana sistem pelayanan kesehatan mengendalikan penyakit-penyakit prioritas (i.e., penyakit-penyakit yang paling banyak menyumbang kepada angka-angka kematian ibu, neonatus, bayi, batuta dan balita, dan penyakit-penyakit sasaran MDGs seperti HIV/AIDS, Malaria dan TB Paru), yaitu bagaimana menatalaksana kasus dan lingkungan pada tingkat perorangan (UKP) maupun pada tingkat masyarakat (UKM). Kelemahan yang lain dari model-model tersebut ialah mereka tidak secara spesifik menyebutkan keterkaitan pencapaian target-target MDGs sektor kesehatan (4,5, &amp; 6) dengan pencapaian MDGs yang lain (1, 2, 3, 7 &amp; 8). Untuk mencapai target angka-angka kematian dan insidensi/prevalensi penyakit-penyakit prioritas MDGs menjelang tahun 2015 masing-masing Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di Indonesia sebaiknya melakukan hal-hal berikut:</p>
<ol>
<li>Mengidentifikasi penyakit-penyakit prioritas MDGs di wilayah kerjanya.</li>
<li>Merumuskan protap deteksi dan tindakan kasus ResTi, kasus a-simptomatis, kasus simptomatis dan kasus cacat dari penyakit-penyakit tersebut.</li>
<li>Merumuskan protap surveilans aktif dan respons segera/terencana dari penyakit-penyakit tersebut.</li>
<li>Menginstruksikan unit-unit pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta untuk mengikuti protap-protap UKP dan UKM penyakit-penyakit tersebut,</li>
<li>Mengadakan MonEv pelaksanaan protap-protap UKP dan UKM penyakit-penyakit tersebut.</li>
</ol>
<p>Catatan: Langkah 2 dan 3 didasarkan atas protap-protap yang ada dari KemenKes dan DinKes Provinsi, dan menghasilkan protap UKP dan UKM untuk masing-masing penyakit prioritas.</p>
<p>Keterkaitan antara percepatan pencapaian target-target MDGs sektor kesehatan dan percepatan pencapaian target-target MDGs yang lain sebaiknya diwujudkan oleh pemerintahan kabupaten/kota melalui langkah-langkah berikut:</p>
<ol>
<li>Merumuskan protap deteksi dan tindakan lingkungan-lingkungan fisik, biologis dan sosial yang mempengaruhi kerentanan dan pemaparan anggota masyarakat terhadap agen-agen penyakit prioritas yang telah diidentifikasi Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.</li>
<li>Merumuskan protap surveilans aktif dan respons segera/terencana dari lingkungan-lingkungan tersebut.</li>
<li>Menginstruksikan unit-unit pelayanan sektor lain, baik pemerintah maupun swasta, untuk mengikuti protap-protap penatalaksanaan lingkungan tersebut.</li>
<li>Mengadakan MonEv pelaksanaan protap-protap penatalaksanaan lingkungan tersebut.</li>
<li>Mengkoordinasi perusahaan-perusahaan swasta supaya melaksanakan CSR yang terarah kepada pencapaian target-target MDGs.</li>
</ol>
<p>Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS menganjurkan supaya pemerintahan provinsi menyiapkan “Rencana Aksi Daerah Percepatan Pencapaian MDGs”. (<a href="http://www.bappenas.go.id/node/118/2814/peta-jalan-percepatan-pencapaian-tujuan-pembangunan-milenium-di-indonesia/">http://www.bappenas.go.id/node/118/2814/peta-jalan-percepatan-pencapaian-tujuan-pembangunan-milenium-di-indonesia/</a>) Dinas-dinas pemerintahan provinsi sebaiknya membuat rencana kerja, melaksanakan dan melakukan MonEv pemberian bimbingan teknis kepada pemerintahan-pemerintahan kabupaten/kota di wilayah kerjanya untuk melaksanakan langkah-langkah tersebut di atas. Model alternatif ini ditujukan kepada percepatan peningkatan pelayanan secara fungsional (i.e., melengkapi jenis pelayanan dengan intervensi-intervensi yang efikasius dengan manajemen sumber-daya yang efektif dan efisien), tidak kepada percepatan peningkatan pelayanan secara administratif (i.e., menambah titik pelayanan dan sumber-daya). (<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Scalability">http://en.wikipedia.org/wiki/Scalability</a>)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rossisanusi.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rossisanusi.wordpress.com/857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rossisanusi.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rossisanusi.wordpress.com/857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rossisanusi.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rossisanusi.wordpress.com/857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rossisanusi.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rossisanusi.wordpress.com/857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rossisanusi.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rossisanusi.wordpress.com/857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rossisanusi.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rossisanusi.wordpress.com/857/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rossisanusi.wordpress.com/857/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rossisanusi.wordpress.com/857/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rossisanusi.wordpress.com&amp;blog=8108433&amp;post=857&amp;subd=rossisanusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rossisanusi.wordpress.com/2011/12/19/model-percepatan-peningkatan-pelayanan-kesehatan-untuk-mencapai-mdgs/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dc5ebf75e7e481ac640672b53e1f7bed?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rossi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kuliah FETP 23 September 2011</title>
		<link>http://rossisanusi.wordpress.com/2011/09/20/kuliah-fetp-23-september-2011/</link>
		<comments>http://rossisanusi.wordpress.com/2011/09/20/kuliah-fetp-23-september-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Sep 2011 11:20:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rossi Sanusi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengendalian Penyakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rossisanusi.wordpress.com/?p=793</guid>
		<description><![CDATA[Kuliah: Kuliah FETP 23 Sept 2011 Mutu Sistem S-R Rujukan: Guidelines for evaluating surveillance systems ( http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/00001769.htm) Updates guidelines for evaluating PH surveillance systems ( http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/rr5013a1.htm ) WHO guide to MonEv of S-R Systems ( http://www.who.int/csr/resources/publications/surveillance/WHO_CDS_EPR_LYO_2006_2.pdf) The development of an &#8230; <a href="http://rossisanusi.wordpress.com/2011/09/20/kuliah-fetp-23-september-2011/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rossisanusi.wordpress.com&amp;blog=8108433&amp;post=793&amp;subd=rossisanusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kuliah: <a href="http://rossisanusi.files.wordpress.com/2011/09/kuliah-fetp-23-sept-20112.ppt">Kuliah FETP 23 Sept 2011</a></strong></p>
<p><strong><a href="http://rossisanusi.files.wordpress.com/2011/09/kuliah-fetp-23-sept-20111.ppt"><br />
</a><a href="http://rossisanusi.files.wordpress.com/2011/09/mutu-sistem-s-r.ppt">Mutu Sistem S-R</a></strong></p>
<p><strong>Rujukan:</strong></p>
<p>Guidelines for evaluating surveillance systems ( <a href="http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/00001769.htm">http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/00001769.htm</a>)</p>
<p>Updates guidelines for evaluating PH surveillance systems ( <a href="http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/rr5013a1.htm">http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/rr5013a1.htm</a> )</p>
<p>WHO guide to MonEv of S-R Systems ( <a href="http://www.who.int/csr/resources/publications/surveillance/WHO_CDS_EPR_LYO_2006_2.pdf">http://www.who.int/csr/resources/publications/surveillance/WHO_CDS_EPR_LYO_2006_2.pdf</a>)</p>
<p>The development of an evaluation framework for injury surveillance systems (<a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/9/260">http://www.biomedcentral.com/1471-2458/9/260</a>)</p>
<p>Strategies to improve global influenza surveillance (<a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/8/186">http://www.biomedcentral.com/1471-2458/8/186</a>)</p>
<p><a href="http://rossisanusi.files.wordpress.com/2011/09/ewors-indoensia-depkes.pdf">EWORS Indoensia DepKes</a><strong></strong></p>
<p><a href="http://rossisanusi.files.wordpress.com/2011/09/kepmenkes-267.pdf">KepMenKes 267</a></p>
<p><a href="http://rossisanusi.files.wordpress.com/2011/09/who-conceptual-framework.pdf">WHO Conceptual Framework</a></p>
<p><strong>Contoh-Contoh Evaluasi Sistem S-R KesMas</strong></p>
<p><a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/11/409"><strong>Analysis of timeliness of infectious disease reporting in the Netherlands</strong><br />
</a><strong>Reijn E, Swaan CM, Kretzschmar MEE, van Steenbergen JE</strong><strong><br />
</strong><em>BMC Public Health</em> 2011, <strong>11</strong>:409 (30 May 2011)<br />
[<a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/11/409/abstract">Abstract</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/11/409">Full text</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/content/pdf/1471-2458-11-409.pdf">PDF</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/pubmed/21624131">PubMed</a>] [<a href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Link&amp;db=PubMed&amp;dbFrom=PubMed&amp;from_uid=21624131">Related articles</a>]</p>
<p><a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/11/17"><strong>Accuracy of syndrome definitions based on diagnoses in physician claims</strong><br />
</a><strong>Cadieux G, Buckeridge DL, Jacques A, Libman M, Dendukuri N, Tamblyn R</strong><strong><br />
</strong><em>BMC Public Health</em> 2011, <strong>11</strong>:17 (7 January 2011)<br />
[<a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/11/17/abstract">Abstract</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/11/17">Full text</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/content/pdf/1471-2458-11-17.pdf">PDF</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/pubmed/21211054">PubMed</a>] [<a href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Link&amp;db=PubMed&amp;dbFrom=PubMed&amp;from_uid=21211054">Related articles</a>]</p>
<p><a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/10/568"><strong>Completeness and timeliness of <em>Salmonella </em>notifications in Ireland in 2008: a cross sectional study</strong><br />
</a><strong>Nicolay N, Garvey P, Delappe N, Cormican M, McKeown P</strong><strong><br />
</strong><em>BMC Public Health</em> 2010, <strong>10</strong>:568 (22 September 2010)<br />
[<a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/10/568/abstract">Abstract</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/10/568">Full text</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/content/pdf/1471-2458-10-568.pdf">PDF</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/pubmed/20860803">PubMed</a>] [<a href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Link&amp;db=PubMed&amp;dbFrom=PubMed&amp;from_uid=20860803">Related articles</a>]</p>
<p><a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/10/332"><strong>A surveillance sector review applied to infectious diseases at a country level</strong><br />
</a><strong>Baker MG, Easther S, Wilson N</strong><strong><br />
</strong><em>BMC Public Health</em> 2010, <strong>10</strong>:332 (11 June 2010)<br />
[<a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/10/332/abstract">Abstract</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/10/332">Full text</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/content/pdf/1471-2458-10-332.pdf">PDF</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/pubmed/20540772">PubMed</a>] [<a href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Link&amp;db=PubMed&amp;dbFrom=PubMed&amp;from_uid=20540772">Related articles</a>]</p>
<p><a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/10/124"><strong>Assessing the congruence between perceived connectivity and network centrality measures specific to pandemic influenza preparedness in Alberta</strong><br />
</a><strong>Hall JN, Moore S, Shiell A</strong><strong><br />
</strong><em>BMC Public Health</em> 2010, <strong>10</strong>:124 (10 March 2010)<br />
[<a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/10/124/abstract">Abstract</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/10/124">Full text</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/content/pdf/1471-2458-10-124.pdf">PDF</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/pubmed/20219116">PubMed</a>] [<a href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Link&amp;db=PubMed&amp;dbFrom=PubMed&amp;from_uid=20219116">Related articles</a>]</p>
<p><a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/10/84"><strong>Surveillance of febrile patients in a district and evaluation of their spatiotemporal associations: a pilot study</strong><br />
</a><strong>Choi K, Wong N, Lee L, Lee S</strong><strong><br />
</strong><em>BMC Public Health</em> 2010, <strong>10</strong>:84 (20 February 2010)<br />
[<a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/10/84/abstract">Abstract</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/10/84">Full text</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/content/pdf/1471-2458-10-84.pdf">PDF</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/pubmed/20170529">PubMed</a>] [<a href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Link&amp;db=PubMed&amp;dbFrom=PubMed&amp;from_uid=20170529">Related articles</a>]</p>
<p><a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/10/71"><strong>Completeness of hepatitis, brucellosis, syphilis, measles and HIV/AIDS surveillance in Izmir, Turkey</strong><br />
</a><strong>Durusoy R, Karababa AO</strong><strong><br />
</strong><em>BMC Public Health</em> 2010, <strong>10</strong>:71 (17 February 2010)<br />
[<a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/10/71/abstract">Abstract</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/10/71">Full text</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/content/pdf/1471-2458-10-71.pdf">PDF</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/pubmed/20158922">PubMed</a>] [<a href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Link&amp;db=PubMed&amp;dbFrom=PubMed&amp;from_uid=20158922">Related articles</a>]</p>
<p><a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/9/93"><strong>Timeliness of national notifiable diseases surveillance system in Korea: a cross-sectional study</strong><br />
</a><strong>Yoo HS, Park O, Park HK, Lee EG, Jeong EK, Lee JK, Cho SI</strong><strong><br />
</strong><em>BMC Public Health</em> 2009, <strong>9</strong>:93 (31 March 2009)<br />
[<a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/9/93/abstract">Abstract</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/9/93">Full text</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/content/pdf/1471-2458-9-93.pdf">PDF</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/pubmed/19331696">PubMed</a>] [<a href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Link&amp;db=PubMed&amp;dbFrom=PubMed&amp;from_uid=19331696">Related articles</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/search/citedby/19331696">Cited on BioMed Central</a>]</p>
<p><a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/6/217"><strong>Assessing the validity of tuberculosis surveillance data in California</strong><br />
</a><strong>Sprinson JE, Lawton ES, Porco TC, Flood JM, Westenhouse JL</strong><strong><br />
</strong><em>BMC Public Health</em> 2006, <strong>6</strong>:217 (25 August 2006)<br />
[<a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/6/217/abstract">Abstract</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/6/217">Full text</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/content/pdf/1471-2458-6-217.pdf">PDF</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/pubmed/16930492">PubMed</a>] [<a href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Link&amp;db=PubMed&amp;dbFrom=PubMed&amp;from_uid=16930492">Related articles</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/search/citedby/16930492">Cited on BioMed Central</a>]</p>
<p><a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/6/129"><strong>Reliability of case definitions for public health surveillance assessed by Round-Robin test methodology</strong><br />
</a><strong>Krause G, Brodhun B, Altmann D, Claus H, Benzler J</strong><strong><br />
</strong><em>BMC Public Health</em> 2006, <strong>6</strong>:129 (10 May 2006)<br />
[<a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/6/129/abstract">Abstract</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/6/129">Full text</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/content/pdf/1471-2458-6-129.pdf">PDF</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/pubmed/16686946">PubMed</a>] [<a href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Link&amp;db=PubMed&amp;dbFrom=PubMed&amp;from_uid=16686946">Related articles</a>]</p>
<p><a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/4/29"><strong>Evaluation of reporting timeliness of public health surveillance systems for infectious diseases</strong><br />
</a><strong>Jajosky RA, Groseclose SL</strong><strong><br />
</strong><em>BMC Public Health</em> 2004, <strong>4</strong>:29 (26 July 2004)<br />
[<a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/4/29/abstract">Abstract</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/4/29">Full text</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/content/pdf/1471-2458-4-29.pdf">PDF</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/pubmed/15274746">PubMed</a>] [<a href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Link&amp;db=PubMed&amp;dbFrom=PubMed&amp;from_uid=15274746">Related articles</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/search/citedby/15274746">Cited on BioMed Central</a>]</p>
<p><a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/3/31"><strong>An evaluation of completeness of tuberculosis notification in the United Kingdom</strong><br />
</a><strong>Pillaye J, Clarke A</strong><strong><br />
</strong><em>BMC Public Health</em> 2003, <strong>3</strong>:31 (6 October 2003)<br />
[<a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/3/31/abstract">Abstract</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/1471-2458/3/31">Full text</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/content/pdf/1471-2458-3-31.pdf">PDF</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/pubmed/14527348">PubMed</a>] [<a href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Link&amp;db=PubMed&amp;dbFrom=PubMed&amp;from_uid=14527348">Related articles</a>] [<a href="http://www.biomedcentral.com/search/citedby/14527348">Cited on BioMed Central</a>]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rossisanusi.wordpress.com/793/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rossisanusi.wordpress.com/793/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rossisanusi.wordpress.com/793/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rossisanusi.wordpress.com/793/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rossisanusi.wordpress.com/793/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rossisanusi.wordpress.com/793/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rossisanusi.wordpress.com/793/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rossisanusi.wordpress.com/793/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rossisanusi.wordpress.com/793/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rossisanusi.wordpress.com/793/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rossisanusi.wordpress.com/793/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rossisanusi.wordpress.com/793/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rossisanusi.wordpress.com/793/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rossisanusi.wordpress.com/793/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rossisanusi.wordpress.com&amp;blog=8108433&amp;post=793&amp;subd=rossisanusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rossisanusi.wordpress.com/2011/09/20/kuliah-fetp-23-september-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dc5ebf75e7e481ac640672b53e1f7bed?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rossi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sinergi Pendidikan NaKes dan Pendayagunaan NaKes</title>
		<link>http://rossisanusi.wordpress.com/2011/09/04/742/</link>
		<comments>http://rossisanusi.wordpress.com/2011/09/04/742/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Sep 2011 22:00:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rossi Sanusi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Management]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pengendalian Penyakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rossisanusi.wordpress.com/?p=742</guid>
		<description><![CDATA[Kata “sinergi” berasal dari kata Yunani  &#8220;syn- &#8221; (bersama) dan &#8220;ergon” (keinginan kuat; Bahasa Inggeris “urge”), yang secara bebas dapat diartikan sebagai keinginan yang kuat pada pihak-pihak terkait untuk bekerja sama mencapai tujuan bersama. (http://www.etymonline.com/) Di bidang kesehatan ada tujuan &#8230; <a href="http://rossisanusi.wordpress.com/2011/09/04/742/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rossisanusi.wordpress.com&amp;blog=8108433&amp;post=742&amp;subd=rossisanusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kata “sinergi” berasal dari kata Yunani  &#8220;syn- &#8221; (bersama) dan &#8220;ergon” (keinginan kuat; Bahasa Inggeris “urge”), yang secara bebas dapat diartikan sebagai keinginan yang kuat pada pihak-pihak terkait untuk bekerja sama mencapai tujuan bersama. (<a href="http://www.etymonline.com/">http://www.etymonline.com/</a>) Di bidang kesehatan ada tujuan bersama mengendalikan penyakit-penyakit prioritas melalui pelayanan kesehatan yang bermutu. Untuk mencapai tujuan ini diperlukan distribusi tenaga kesehatan (NaKes) yang setara (<em>equitable</em>) dan kinerja NaKes yang tinggi (i.e., <em>available, responsive, competent &amp; productive</em>) sesuai dengan kebutuhan daerah. Di daerah-daerah tertinggal seringkali juga dibutuhkan NaKes dengan kompetensi tambahan untuk melengkapi kompetensi yang seharusnya ditunjukkan oleh NaKes yang belum tersedia (e.g., perawat harus menguasai beberapa kompetensi dokter, dokter gigi, dokter spesialis, atau bidan jika NaKes-NaKes yang bersangkutan belum dapat ditempatkan di suatu daerah). Kekurangan dalam <em>staff-mix</em> ideal harus untuk sementara diimbangi dengan <em>skill-mix</em> dasar di unit-unit pelayanan kesehatan. [Lihat: Carl-Ardy Dubois, Debbie Singh. <strong><a href="http://www.human-resources-health.com/content/7/1/87">From staff-mix to skill-mix and beyond: towards a systemic approach to health workforce management</a>. </strong><em>Human Resources for Health</em> 2009, <strong>7</strong>:87 (19 December 2009)] Untuk merealisasi distribusi, susunan (<em>mix</em>) dan kinerja SDM Kesehatan ini diperlukan sinergi antara organisasi-organisasi yang mendidik NaKes dan organisasi-organisasi yang mendayagunakan NaKes.</p>
<p>Yang pertama, yang sebaiknya dilakukan ialah menimbulkan keinginan yang kuat pada organisasi-organisasi penghasil NaKes (fakultas, sekolah tinggi, akademi dan SMK) dan pengguna NaKes (rumah sakit, puskesmas, klinik rawat jalan) tersebut, baik swasta maupun pemerintah, untuk bekerja sama mengendalikan penyakit-penyakit prioritas. Dengan sumberdaya yang terbatas pengendalian penyakit (pencegahan primordial, primer, sekunder, dan tersier) lebih baik difokuskan pada penyakit-penyakit yang sekaligus menjadi prioritas global, nasional dan local (i.e., penyakit-penyakit yang berkaitan dengan MDGs No 4, 5 &amp; 6). Pencegahan primordial dan primer penyakit-penyakit  tersebut juga berpengaruh pada penanggulangan penyakit-penyakit lain. Pada tahun 2000, bersama 191 negara lain anggota PPB, Republik Indonesia bertekad mencapai MDGs pada tahun 2015. Yang kurang terlihat ialah operasionalisasi dan sosialisasi ke daerah dari tujuan-tujuan tersebut.</p>
<p>Yang kedua, sebaiknya dilakukan koordinasi organisasi-organisasi penghasil NaKes untuk merancang dan melaksanakan kurikulum  pendidikan yang diarahkan kepada penguasaan kompetensi yang diperlukan untuk mengendalikan penyakit-penyakit prioritas. Yang sangat penting dalam kurikulum pendidikan semacam ini ialah laboratorium kompetensi yang memadai – yang menyediakan pengalaman belajar yang secara progresif melatih dan menguji kompetensi mulai dari yang menggunakan alat AV, model (pasif, aktif, inter-aktif &amp; simulator computer), sesama mahasiswa, sampai pasien simulasi (orang yang dilatih untuk menjadi pasien yang mensimulasi berbagai gejala dan masalah kesehatan) di <em>protype</em> tempat praktek (klinik rawat jalan, puskesmas dan rumah sakit yang digunakan sebagai contoh atau standard). Teknologi simulasi sangat maju dan sangat diperlukan untuk melindungi keselamatan pasien. (<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Simulated_patient">http://en.wikipedia.org/wiki/Simulated_patient</a>; <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Simulators">http://en.wikipedia.org/wiki/Simulators</a>) Sebagian besar lembaga pendidikan kesehatan di Indonesia belum memiliki lab kompetensi yang memenuhi syarat  karena biaya dan keahlian yang diperlukan untuk membangun dan mengoperasionalkannya sangat tinggi. Untuk mengatasi hambatan ini sebaiknya didirikan lab kompetensi yang dapat dimanfaatkan oleh lembaga-lembaga pendidikan di sekitarnya. Lab kompetensi kelompok (<em>cluster competency lab) </em>ini sebaiknya dihubungkan dengan rumah sakit pendidikan karena lab kompetensi ini juga diperlukan untuk mendidik spesialis dan melatih-ulang NaKes dari berbagai profesi. Kopertis mempunyai kesempatan dan sumberdaya untuk membentuk lab-lab kompetensi kelompok di wilayah kerjanya, terutama di daerah-daerah tertinggal.</p>
<p>Yang ketiga, sebaiknya program magang (e.g., Program Internsip dan Penempatan Dokter Pasca Internsip) dan pendirian lab kompetensi dikaitkan dengan distribusi dan susunan<em> </em>NaKes. Magang ikatan dinas pemerintah pusat dan pemerintahan daerah sebaiknya dikhususkan untuk daerah-daerah tertinggal. Kekurangan dalam mutu pembimbing dan sarana kesehatan di daerah tertinggal justru akan menjadi pendorong baik bagi peserta magang maupun pembimbing magang untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Organisasi-organisasi pengelola magang seperti KIDI (Komite Internsip Dokter Indonesia, suatu lembaga non-struktural di Badan PPSDM KemenKes) atau Kopertis sebaiknya juga mengelola lab-lab kompetensi kelompok.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rossisanusi.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rossisanusi.wordpress.com/742/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rossisanusi.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rossisanusi.wordpress.com/742/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rossisanusi.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rossisanusi.wordpress.com/742/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rossisanusi.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rossisanusi.wordpress.com/742/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rossisanusi.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rossisanusi.wordpress.com/742/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rossisanusi.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rossisanusi.wordpress.com/742/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rossisanusi.wordpress.com/742/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rossisanusi.wordpress.com/742/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rossisanusi.wordpress.com&amp;blog=8108433&amp;post=742&amp;subd=rossisanusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rossisanusi.wordpress.com/2011/09/04/742/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dc5ebf75e7e481ac640672b53e1f7bed?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rossi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dampak &#8220;Impact Factor&#8221; Berkala Ilmiah</title>
		<link>http://rossisanusi.wordpress.com/2011/07/12/dampak-impact-factor-berkala-ilmiah/</link>
		<comments>http://rossisanusi.wordpress.com/2011/07/12/dampak-impact-factor-berkala-ilmiah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jul 2011 02:25:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rossi Sanusi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Penelitan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rossisanusi.wordpress.com/?p=722</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;What a person thinks on his own without being stimulated by the thoughts and experiences of the other people is even in the best case rather paltry and monotonous&#8221; &#8211; Albert Einstein (1879 – 1955) Ukuran yang umum digunakan untuk &#8230; <a href="http://rossisanusi.wordpress.com/2011/07/12/dampak-impact-factor-berkala-ilmiah/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rossisanusi.wordpress.com&amp;blog=8108433&amp;post=722&amp;subd=rossisanusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">&#8220;What a person thinks on his own without being stimulated by the thoughts and experiences of the other people is even in the best case rather paltry and monotonous&#8221; &#8211; Albert Einstein (1879 – 1955)</p>
<p>Ukuran yang umum digunakan untuk menunjukkan reputasi sebuah berkala ilmiah ialah <em>Impact Factor </em>(IF), yang sebenarnya hanyalah jumlah rata-rata rujukan ke makalah-makalah yang diterbitkannya selama dua tahun sebelumnya. IF Tahun X = Jumlah rujukan pada Tahun X yang dirujuk ke makalah-makalah yang diterbitkan selama dua tahun sebelumnya <span style="text-decoration:underline;">dibagi </span>Jumlah makalah yang diterbitkan selama dua tahun tersebut. IF tidak menunjukkan reputasi makalah, ataupun reputasi penulisnya, walaupun makalah tersebut diterbitkan di berkala ilmiah dengan IF yang sangat tinggi. Hal ini disebabkan karena besar IF seringkali ditentukan oleh sejumlah kecil makalah dengan jumlah rujukan yang sangat banyak, tanpa memperhatikan <strong>mutu rujukan</strong> dan <strong>mutu penggunaan rujukan</strong>.</p>
<p>Namun demikian, pihak-pihak yang berkepentingan (i.e., organisasi pemerintahan, perguruan tinggi, akademisi, ikatan profesi, badan akreditasi, penyandang dana) masih menggunakan IF berkala ilmiah untuk menentukan peringkat universitas (i.e., kriterion “Number of papers refereed and cited in refereed journals”), pengadaan berkala ilmiah untuk perpustakaan, pengiriman tulisan untuk publikasi, kinerja staf pengajar dan peneliti, pendanaan penerbitan makalah, dsb. Penerbit berkala ilmiah juga menggunakannya untuk menetapkan biaya penerbitan makalah (yang ditanggung penulis dan/atau pihak ketiga; biaya ini sering tidak diberlakukan atau diringankan untuk penulis dari negara yang sedang berkembang) atau biaya berlengganan berkala (yang ditanggung pengguna dan/atau pihak ketiga) relatif terhadap berkala yang lebih besar atau lebih kecil IFnya. Misalnya, penerbit berkala <em>Human Resources for Health </em>(IF 1.38), yang makalah-makalahnya dapat diakses secara bebas, mengenakan <em>processing-fee</em> $1644 per makalah. Penerbit <em>Social Science and Medicine</em> (IF 2.74) mengenakan biaya $5854 per tahun untuk akses institusi dan $3000 per makalah untuk membuat makalah yang bersangkutan dapat diakses secara bebas.</p>
<p>Daftar rujukan yang panjang di makalah-makalah mungkin ada gunanya bagi peneliti yang sedang melacak ke belakang rekam jejak suatu teori (i.e., asal mula teori tersebut, perubahan-perubahan yang dialaminya, dan penelitian-penelitian yang mendasari perubahan tersebut). Yang lebih berguna ialah mutu (substansi) rujukan, karena rujukan yang tepat dapat membantu peneliti menentukan sumbangannya dalam perkembangan lebih lanjut dari teori tersebut. Tesis-tesis dan disertasi-disertasi kita agak “paltry” dan “monotonous” karena kepustakaan yang dirujuk tidak memicu pikiran mahasiswa S2 dan S3 untuk bernalar (berpikir vertikal) dan berkreasi (berpikir lateral). Yang pertama bermanfaat untuk merumuskan usulan penelitian yang asli (i.e., yang dapat menggugurkan versi terkini dari teori yang bersangkutan) dengan rancangan yang valid. Yang kedua bermanfaat untuk menyempurnakan atau merubah teori dengan konstruk-konstruk baru.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rossisanusi.wordpress.com/722/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rossisanusi.wordpress.com/722/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rossisanusi.wordpress.com/722/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rossisanusi.wordpress.com/722/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rossisanusi.wordpress.com/722/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rossisanusi.wordpress.com/722/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rossisanusi.wordpress.com/722/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rossisanusi.wordpress.com/722/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rossisanusi.wordpress.com/722/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rossisanusi.wordpress.com/722/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rossisanusi.wordpress.com/722/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rossisanusi.wordpress.com/722/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rossisanusi.wordpress.com/722/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rossisanusi.wordpress.com/722/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rossisanusi.wordpress.com&amp;blog=8108433&amp;post=722&amp;subd=rossisanusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rossisanusi.wordpress.com/2011/07/12/dampak-impact-factor-berkala-ilmiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dc5ebf75e7e481ac640672b53e1f7bed?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rossi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memadukan Metoda Penelitian Kuantitatif dan Metoda Penelitian Kualitatif</title>
		<link>http://rossisanusi.wordpress.com/2011/06/27/memadukan-metoda-penelitian-kuantitatif-dan-metoda-penelitian-kualitatif/</link>
		<comments>http://rossisanusi.wordpress.com/2011/06/27/memadukan-metoda-penelitian-kuantitatif-dan-metoda-penelitian-kualitatif/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2011 21:46:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rossi Sanusi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penelitan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rossisanusi.wordpress.com/?p=701</guid>
		<description><![CDATA[Get your facts first, and then you can distort ‘em as much as you please. Mark Twain US Humorist, novelist, short story author, &#38; wit (1835 – 1910) Fakta (bentuk jamak dari “faktum “ – sesuatu yang dianggap benar) yang &#8230; <a href="http://rossisanusi.wordpress.com/2011/06/27/memadukan-metoda-penelitian-kuantitatif-dan-metoda-penelitian-kualitatif/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rossisanusi.wordpress.com&amp;blog=8108433&amp;post=701&amp;subd=rossisanusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="right">Get your facts first, and then you can distort ‘em as much as you please.</p>
<p align="right">Mark Twain<em></em></p>
<p align="right"><em>US Humorist, novelist, short story author, &amp; wit (1835 – 1910)</em></p>
<p align="right"><em><br />
</em></p>
<p>Fakta (bentuk jamak dari “faktum “ – sesuatu yang dianggap benar) yang diperoleh peneliti dapat mengalami distorsi pada tahap mengumpulkan, mengolah dan menafsirkan fakta. Distorsi ini mungkin tidak dilakukan dengan sengaja (seperti yang disindirkan Mark Twain di atas), untuk menghasilkan kesimpulan dan rekomendasi yang condong (<em>biased</em>) ke suatu arah yang dikehendaki, namun peneliti sebaiknya mewaspadai kemungkinan adanya/timbulnya distorsi atau bias. Distorsi ini dapat ditemukan/dicegah dengan memadukan metoda kuantitatif dan metoda kualitatif di dalam setiap penelitian.</p>
<p>Pada tahap <strong>mengumpulkan fakta</strong>, dengan metoda penelitian kuantitatif peneliti mengumpulkan data (= fakta yang sudah digolongkan) dan dengan metoda penelitian kualitatif peneliti mengumpulkan fakta yang belum digolongkan tentang suatu konsep (misalnya, konsep “kepuasan pasien”). Cara mengumpulkan fakta pada kedua jenis metoda penelitian ini sama, yaitu menggunakan indera-indera (dengan atau tanpa alat bantu penangkap fakta). Perbedaannya di cara mencatat atau merekam fakta yang ditangkap indera peneliti dan/atau peserta penelitian (i.e., orang-orang yang diteliti, informan). Pada metoda penelitian kuantitatif yang direkam ialah pilihan golongan yang diduga peneliti dan/atau peserta penelitian mengandung fakta dari suatu konstruk (struktur dari konsep yang bersangkutan yang dibangun peneliti sehingga mempunyai definisi operasional, dimensi-dimensi dan butir-butir daftar tilik/daftar pertanyaan atau variabel-variabel). Misalnya, berdasarkan perilaku pasien, yang ditangkap peneliti dan/atau peserta penelitian,  fakta yang dilihat atau didengar dicatat dengan memilih golongan “puas/tidak puas dengan pelayanan dokter”, atau  “puas dengan pelayanan dokter sebesar  x”. Pada penelitian kualitatif yang dicatat adalah kata-kata dari peneliti dan/atau peserta penelitian yang diduga menggambarkan fakta yang ditangkap indera. Bias dapat terjadi pada saat memilih golongan. Dengan membandingkan fakta yang sudah digolongkan dengan fakta yang belum digolongkan dapat diketahui konsistensi di antara kedua jenis metoda pengumpulan fakta tersebut. Tetapi bias juga dapat terjadi pada saat menggunakan kata-kata untuk menggambarkan fakta yang ditangkap indera. Untuk mengetahui/mencegah bias di tahap ini pengumpulan dan pencatatan fakta, yang sudah digolongkan maupun yang belum digolongkan, sebaiknya diulang beberapa kali untuk mengetahui konsistensi di dalam diri dan di antara para peneliti/peserta penelitian.</p>
<p>Pada tahap <strong>mengolah fakta</strong>, dengan metoda penelitian kuantitatif peneliti mengubah data menjadi angka-angka dan diagram-diagram peringkas (dengan teknik-teknik statistik reduksi) atau angka besar kesalahan sampling (dengan teknik statistik inferensi). Teknik-teknik statistik ini membutuhkan fakta yang sudah digolongkan, karena pada golongan-golongan dapat dikenakan tanda-tanda matematika. Di pihak lain, dengan penelitian kualitatif peneliti menggolongkan kata-kata dan ungkapan-ungkapan di bawah tema-tema.  Misalnya, konsep “kepuasan pasien” dapat terdiri dari tema-tema “kepuasan dengan dokter”, “kepuasan dengan staf penunjang”, “kepuasan dengan asuransi kesehatan”, dan “kepuasan dengan lingkungan fisik”. Tema-tema dapat dijadikan dimensi-dimensi atau faktor-faktor dari konstruk dan kata-kata dan ungkapan-ungkapan di bawah masing-masing tema dapat dijadikan  variabel-variabel atau butir-butir (<em>items</em>). Penggolongan ini digunakan untuk membedakan jenis dan derajat fakta (= skala) dengan memberlakukan tanda-tanda matematika. Bias dapat terjadi jika peneliti menggunakan teknik-teknik yang tidak sesuai  dengan skala dan distribusi angka peringkas. Bias juga terjadi pada waktu peneliti mengubah kata-kata menjadi konstruk-konstruk dan daftar tilik/pertanyaan (untuk mencatat fakta pada penelitian kuantitatif), karena sangat dipengaruhi oleh latar belakang (nilai, keyakinan, keahlian, minat, dsb) peneliti dan/atau peserta peneliti. Untuk mengetahui/mencegah bias pada waktu membangun konstruk peneliti dapat memeriksa besar penyimpangan konstruk <em>a priori</em> (sebelum mengumpulkan data) dari konstruk <em>a posteriori</em> (setelah mengumpulkan data ) melalui pengkajian hipotesis-hipotesis valditas konstruk (=triangulasi). Prosedur triangulasi juga harus dilakukan jika peneliti mengatakan menggunakan daftar tilik/pertanyaan yang valid dari suatu sumber, terutama dari sumber dengan bahasa dan budaya yang lain. (Contoh: Etter, JF, &amp; Perneger, TV. Validating a satisfaction questionnaire using multiple approaches: a case study.<strong> </strong><a href="http://portal.revistas.bvs.br/transf.php?xsl=xsl/titles.xsl&amp;xml=http://catserver.bireme.br/cgi-bin/wxis1660.exe/?IsisScript=../cgi-bin/catrevistas/catrevistas.xis%7Cdatabase_name=TITLES%7Clist_type=title%7Ccat_name=ALL%7Cfrom=1%7Ccount=50&amp;lang=pt&amp;comefrom=home&amp;home=false&amp;task=show_magazines&amp;request_made_adv_search=false&amp;lang=pt&amp;show_adv_search=false&amp;help_file=/help_pt.htm&amp;connector=ET&amp;search_exp=Soc%20Sci%20Med" target="Revista"><em>Soc Sci Med</em></a>.45(6):879-85, 1997 Sep.; dan, Mendonça, KMPP.&amp; Guerra, RO. Development and validation of an instrument for measuring patient satisfaction with physical therapy. <em>Rev. Bras. Fisioter</em>. 11(5), São Carlos Sept./Oct. 2007)</p>
<p>Pada saat <strong>menafsirkan fakta</strong>, dengan metoda penelitian kuantitatif  peneliti menafsirkan apakah angka peringkas korelasi antara fakta penyebab dan akibat atau angka peringkas selisih pada fakta akibat (yang dipengaruhi fakta penyebab yang berbeda) mempunyai besar yang bermakna (melebihi/sama dengan besar yang dipatok <em>a-priori</em>) dan tidak semu. Angka peringkas korelasi atau selisih dapat semu jika fakta-fakta perancu (<em>confounding</em>) diabaikan. Untuk mencegah distorsi dalam penafsiran angka peringkas korelasi atau angka peringkas selisih ini peneliti dapat memanipulasi, menyetarakan atau mengamati (ikut memperhitungkan) fakta perancu. Memanipulasi dan menyetarakan fakta perancu lebih mudah dibandingkan mengamatinya, tetapi akan lebih membatasi di dalam penfasiran generalisasi angka-angka tersebut ke konteks yang lain. Dengan metoda penelitian kualitatif peneliti menafsirkan fakta-fakta sebagai penyebab, akibat atau perancu, yang sangat dipengaruhi oleh latar belakang peneliti. Manfaat sesungguhnya dari penelitian ialah penyangkalan (<em>refutation</em>) hipotesis penelitian, yang menyatakan ada hubungan kausal antara fakta yang diduga sebagai penyebab dan akibat. Peneliti yang berhasil menyangkal hipotesis penelitian mempunyai alasan untuk mengusulkan penyempurnaan proposisi/teori yang mendasarinya. Jika penolakan hipotesis kausasi ingin dicapai ada kriteria lain yang harus dipenuhi selain korelasi atau selisih yang besarnya bermakna dan tidak semu. Kriteria lain, seperti plausibilitas, temporalitas, konsistensi, spesifisitas, juga dapat dipenuhi melalui penafsiran fakta dengan metoda penelitian kuantitatitif dan kualitatif.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rossisanusi.wordpress.com/701/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rossisanusi.wordpress.com/701/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rossisanusi.wordpress.com/701/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rossisanusi.wordpress.com/701/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rossisanusi.wordpress.com/701/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rossisanusi.wordpress.com/701/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rossisanusi.wordpress.com/701/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rossisanusi.wordpress.com/701/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rossisanusi.wordpress.com/701/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rossisanusi.wordpress.com/701/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rossisanusi.wordpress.com/701/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rossisanusi.wordpress.com/701/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rossisanusi.wordpress.com/701/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rossisanusi.wordpress.com/701/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rossisanusi.wordpress.com&amp;blog=8108433&amp;post=701&amp;subd=rossisanusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rossisanusi.wordpress.com/2011/06/27/memadukan-metoda-penelitian-kuantitatif-dan-metoda-penelitian-kualitatif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dc5ebf75e7e481ac640672b53e1f7bed?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rossi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menyelenggarakan Upaya Kesehatan</title>
		<link>http://rossisanusi.wordpress.com/2010/11/01/menyelenggarakan-upaya-kesehatan/</link>
		<comments>http://rossisanusi.wordpress.com/2010/11/01/menyelenggarakan-upaya-kesehatan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Nov 2010 01:18:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rossi Sanusi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Management]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rossisanusi.wordpress.com/?p=468</guid>
		<description><![CDATA[Di dalam pembahasan tentang bentuk, SKN 2009 mengatakan bahwa “Upaya kesehatan diselenggarakan dengan pendekatan pencegahan, peningkatan, pengobatan dan pemulihan”. Bentuk upaya kesehatan seperti ini mengacu kepada Perjalanan Alamiah Penyakit (PAP), yang menggambarkan proses perjalanan penyakit pada perorangan: Model ini juga &#8230; <a href="http://rossisanusi.wordpress.com/2010/11/01/menyelenggarakan-upaya-kesehatan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rossisanusi.wordpress.com&amp;blog=8108433&amp;post=468&amp;subd=rossisanusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di dalam pembahasan tentang bentuk, SKN 2009 mengatakan bahwa “Upaya kesehatan diselenggarakan dengan pendekatan pencegahan, peningkatan, pengobatan dan pemulihan”. Bentuk upaya kesehatan seperti ini mengacu kepada Perjalanan Alamiah Penyakit (PAP), yang menggambarkan proses perjalanan penyakit pada perorangan:</p>
<p><a href="http://rossisanusi.files.wordpress.com/2010/11/pap1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-469" title="PAP1" src="http://rossisanusi.files.wordpress.com/2010/11/pap1.jpg?w=593" alt=""   /></a></p>
<p>Model ini juga dapat digunakan untuk menggambarkan himpunan orang (kasus) pada masing-masing tahap perjalanan alamiah penyakit.</p>
<p><a href="http://rossisanusi.files.wordpress.com/2010/11/pap2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-470" title="PAP2" src="http://rossisanusi.files.wordpress.com/2010/11/pap2.jpg?w=593" alt=""   /></a></p>
<p>Jika dikaitkan dengan tujuan akhir dari pembangunan kesehatan model PAP dapat digunakan untuk menggambarkan tahap-tahap pengendalian penyakit. Suatu penyakit telah dieradikasi di seluruh bumi jika Penyebab Penyakitnya telah dikendalikan. Suatu penyakit telah dieliminasi di suatu negara jika tidak ada lagi orang yang menderita penyakit sasaran karena lingkungan yang terkait telah dikendalikan di negara tersebut. tetapi masih ada orang yang beresiko tinggi.</p>
<p><a href="http://rossisanusi.files.wordpress.com/2010/11/pap3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-471" title="PAP3" src="http://rossisanusi.files.wordpress.com/2010/11/pap3.jpg?w=593" alt=""   /></a>Selain membahas bentuk dari masing-masing subsistem SKN 2009 juga menggambarkan keterkaitan antar subsistem. Di halaman  26 disebutkan bahwa “Penyelenggaraan SKN memerlukan keterkaitan antar unsur-unsur SKN sebagai suatu tata hubungan yang efektif. …</p>
<p>Subsistem Upaya Kesehatan diselenggarakan untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Untuk penyelenggaraan subsistem tersebut diperlukan berbagai upaya dengan menghimpun seluruh potensi bangsa Indonesia. Berbagai upaya tersebut memerlukan dukungan pembiayaan, SDM Kesehatan, ketersediaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan makanan minuman, manajemen dan informasi kesehatan serta pemberdayaan masyarakat.” Dari pernyataan ini dapat disimpulkan bahwa subsistem Upaya Kesehatan memerlukan dukungan dari kelima subsistem yang lain untuk meningkatkan derajat kesehatan.</p>
<p>Untuk mengetahui secara spesifik bentuk dan cara dukungan dari lima subsistem ini di daerah bentuk dan cara penyelenggaraan upaya kesehatan di masing-masing daerah harus dijabarkan terlebih dahulu melalui langkah-langkah berikut:</p>
<ol>
<li>Menentukan penyakit-penyakit penyumbang terbanyak ke pencapaian target-target MDG 4, 5 &amp; 6.</li>
<li>Membuat PAP Himpunan Kasus untuk masing-masing prioritas tersebut.</li>
<li>Membuat Sistem Surveilans-Respons (<strong>S-R</strong>) untuk masing-masing tahap PAP.</li>
<li>Merumuskan definisi operasional untuk masing-masing Fungsi Pokok Sistem S-R (Deteksi &amp; Tindakan Kasus, Registrasi, Konfirmasi, Pelaporan, Analisis &amp; Interpretasi, Respons Cepat, Respons Terencana &amp; Feedback).</li>
<li>Menentukan SDM, Sediaan Farmasi dsb, Manajemen &amp; Informasi Kesehatan,  pemberdayaan Masyarakat, dan Pembiayaan untuk masing-masing Fungsi Pokok.</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rossisanusi.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rossisanusi.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rossisanusi.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rossisanusi.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rossisanusi.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rossisanusi.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rossisanusi.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rossisanusi.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rossisanusi.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rossisanusi.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rossisanusi.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rossisanusi.wordpress.com/468/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rossisanusi.wordpress.com/468/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rossisanusi.wordpress.com/468/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rossisanusi.wordpress.com&amp;blog=8108433&amp;post=468&amp;subd=rossisanusi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rossisanusi.wordpress.com/2010/11/01/menyelenggarakan-upaya-kesehatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dc5ebf75e7e481ac640672b53e1f7bed?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rossi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rossisanusi.files.wordpress.com/2010/11/pap1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">PAP1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rossisanusi.files.wordpress.com/2010/11/pap2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">PAP2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rossisanusi.files.wordpress.com/2010/11/pap3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">PAP3</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
